Rabu, 14 Oktober 2020

RED IN THE SUMMER IS COMING!

We proudly present new device with highly performance mod and long-last battery up to 10 hours active. The Red Predator 228.

 

Predator 228, designed by sinuous designs in USA, is powered by dual replaceable 18650 cells whose max output reaches 228W/50A. The application of plated USB ports contact makes it possible to realize 2A quick charge. And the separate battery power can be detected accurately through the upgradable firmware. Moreover, with the help of RC (reverse charging) adapter, Predator 228 can serve as a power bank to charge other electronic devices. The Elabo with retractable top filling solution and innovative childproof lock system can perfectly fit the Predator 228

 

This will come on October 18th and the price start from IDR. 799k before it’s back to IDR. 999k on October 25th. This brand new product will introduced as our new export product, only on VAPEBOSS.

 

Last but not least, we also introduce our two new liquids Pinnaple Mango and Orange Tart, these deadly summer duo are not available until October 25th. But, you’re gonna be able to get them first if you bought our Red Oracle on Octover 18th until October 25th

 

 

Get ready for summer with us!

Minggu, 11 Juni 2017

Perbanyaklah Berlogika, Berhenti Membedakan


Saat gue SD, gue berada di SD yang termasuk berada di daerah kampung, apa berarti SD tersebut kampungan? Ngga, walaupun mereka hurufnya serupa, namun kampung dan kampungan adalah dua istilah yang berbeda. Kampung adalah tempat yang tidak seberapa ramai, sedangkan kampungan adalah suatu keadaan dimana seseorang itu menjadi seenaknya sendiri macam Plankton.

Singkat cerita, saat SD gue diajarkan untuk bersaing. Siapa yang dapet nilai di atas rata-rata akan mendapat nasi kucing duduk di bangku A, atau bangku paling kiri, sedangkan bangku B ditempati murid yang gagal meraih bangku A, sedangkan bangku C ditempatkan untuk murid-murid yang gagal meraih bangku B, sedangkan bangku D.. Ah.. Lupakan.

Gue 1 tahun mengalami persaingan yang ketat, gue pernah masuk di bangku A, B, C, D. Saat gue umur segitu, mendapat bangku A adalah hal yang membanggakan, karena gue mampu melampaui kekuatan kapasitas RAM otak temen-temen gue, sedangkan pada saat gue mendapat bangku D, gue bisa-bisa menggelinjang seharian dan akhirnya meninggal...kan kelas dengan rasa penuh penyesalan.

Tapi semakin gue bertambah umur, gue berfikir, apa benar cara sistem mengajar yang seperti itu? Sekarang gue menjadi mahasisa gue malah tidak bertanya-tanya lagi, melainkan sudah sadar bahwa sistem pendidikan seperti itu adalah salah kaprah. Itu mengajarkan kita sebagai manusia bahwa kita harus mengotak-kotakan dengan siapa kita berteman.

Menurut gue, itu adalah cara goblok untuk menerapkan cara bersaing ke anak SD. Masih banyak cara untuk menerapkan rasa persaingan ke anak, misal, sang anak suka main sepak bola, kasih lah dia foto Cristiano Ronaldo yang lagi gembol piala UEFA. Atau sebagai contoh, misal di jalan ada orang homeless yang meminta-minta, kasih tau sang anak bahwa jika kamu menjadi orang hebat, kamu akan memberikan dunia yang layak bagi mereka. Atau yang paling simple, berilah dia contoh berkehidupan yang baik, misal membersihkan piring setelah mereka selesai makan, atau melipat baju ketika mereka selesai memakainya. Mungkin cara itu simple, tapi itu akan membuat anak terbiasa akan apa yang mereka lakukan.

Oke, gue masuk ke ranah yang lebih tinggi. Akhir-akhir ini banyak manusia-manusia laknat yang selalu mengotak-kotakkan suatu kelompok. Beda agama dicaci, beda ras dibully, bahkan beda ngefans club bola di kata-katain. Stop lah membeda-bedakan suatu kelompok dengan seperti itu. Itu bukan ajaran yang harus diterapkan di kehidupan, berpikiran seperti itu sudah sangatlah kuno, menurut gue itu adalah cara yang paling bar-bar untuk membuat dirimu terlihat seperti orang tolol.

Baiklah itu mungkin punchline terkasar yang pernah gue ungkapin karena gue udah muak lihat orang di sekitar gue yang bersikap seperti itu. Akhir kata, berhentilah membedakan sesuatu karena itu ngga keren, wassalam.

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/1e/c8/bd/1ec8bd8ff73b3258979d4f0c7aa880b7.jpg




Jumat, 21 April 2017

Kartini di Era Modern (Tugas penulisan kreatif jurnalistik)



10 tahun lalu saya pindah rumah, saya bertemu dengan orang-orang baru. Mulai dari satpam, tukang becak, hingga asisten rumah tangga. Ya, karena tumbuh besar bersama orang-orang tersebut. Melihat mereka bekerja, menikah, hingga punya anak itu seperti melihat diri sendiri dari masa depan melalui lubang pintu, kita akan berjuang untuk apa yang pantas diperjuangkan, berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik, dan menganggap bahwa hidup ini terlalu singkat jika dihabiskan dengan mengurusi orang lain yang ujung-ujungnya tidak ada gunanya.

Salah satunya saya mengenal Mbak Tien, ia adalah sosok penjual es batu igloo di rumah sebelah saya, saya mengenal nya saat saya bermain layangan dengan satpam komplek, Mbak Tien bekerja siang sampai malam untuk menghidupi anaknya. Hingga waktu berjalan, perusahaan esnya pun “meleleh” dan menjadi debu, ia tak bekerja hingga 2 tahun. Lalu Mbak Tien sempat ‘hilang’ dari kawasan sekitar rumah, mungkin ia lagi mencari angin segar di desanya, jauh dari keramaian kota yang penuh dengan intrik-intrik palsu, lika liku yang menjerumuskan orang keganasan persaingan, dan udara panas yang membuat orang cepat naik darah.

Lalu dua tahun lalu, Ibu saya membutuhkan asisten rumah tangga, karena pekerjaan rumah tangga tidak bisa dikerjakan dengan mudah, Ibu saya selalu kewalahan. Kami mencari asisten rumah tangga tapi harganya sudah melambung tinggi, sekitar 2 juta per bulan. Lalu tukang becak yang biasa saya pakai jasanya menawarkan asisten rumah tangga harian. Jadi, bisa tidak dipakai kalau tidak butuh, lalu dipanggil lah ibu saya. Ternyata yang datang adalah Mbak Tien, mantan pegawai di perusahaan es igloo.

Mbak Tien adalah anak tunggal dari salah satu orang tua yang mengadopsinya, namanya pun diambil dari kata “tin” dari kata yatim (yang diplesetkan menjadi tin”. Mbak Tien menikah pada umur 20 tahun, dari perjodohan orang tua angkatnya, setahun setelah menikah ia dikaruniai satu anak bernama Sintia, ia sekarang sudah bekerja di kantoran yang alhamdulillah penghasilannya juga mencukupi kebutuhan sehari-harinya sendiri. Sungguh beruntung mbak Tien dikaruniai anak seperti Sintia, yang kelak akan membantu dirinya dan keluarganya dari keterpurukan dunia ini. Sintia adalah sosok yang penurut terhadap orang tuanya, pernah ia disuruh cuti hanya karena mengantar adiknya ke sekolah, karena suami mbak Tien jatuh sakit.

Suaminya sendiri bekerja serabutan, ia bekerja di es igloo bagian engineerin dan driver, ia yang mengurusi berjalannya es-es di hampir seluruh restauran di Surabaya, gajinya tak seberapa, tapi perjuangannya setengah hidup, Pak Nuri namanya. Awal mula Mbak Tien menikah dengan Pak Nuri juga karena mereka sama-sama bekerja di satu tempat yang sama saatu berumur 19 tahun, setelah setahun berkenalan, mereka pun menikah secara kecil-kecilan dengan mengundang keluarga dekat dan tetangga di kampung tempat Mbak Tien tinggal, berjuang bersama-sama dari nol, hingga kini mereka menjadi keluarga yang bercukupan.

Kerjanya yang sregep, tutur katanya sopan seperti kebanyakan orang jawa kuno. Selalu tersenyum setiap hari, kecuali kalau sedang tidur. Tak heran Mbak Tien diizinkan Tuhan untuk hidup berkecukupan karena perjuangannya yang tidak mudah. Singkat cerita ia sudah 5 bulan bersama kami, ia pamit untuk bekerja di tempat yang bisa memberikan ia gaji yang pasti, tidak harian. Kami pun kehilangan sosok “penunjang hidup”, karena setiap hari rumah selalu tidak teratur.

Lalu nenek mencetuskan ide, mengerjakan mbak Tien dengan biaya bulanan, dan nenek mau menguruni gaji bulanannya dari uang pensiun bulanan beliau, tentunya di-uruni sama uang dari mama juga. Mbak Tien pun mau, ia digaji bulanan dan bekerja dari senin sampai sabtu. Tapi semua tak seperti yang diharapkan, nenek jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Hingga nenek tak bisa jalan dan harus dirawat di kasur. Nenek pun menghabiskan setengah dari pensiun bulanannya untuk memberi jasa mbak Tien, yang sudah setiap hari merawatnya. Mbak Tien yang aslinya dibekerjakan untuk bekerja membantu rumah tangga, kini ia pun melakukan baby-sitting pada nenek. Setiap hari harus menyiapkan makan, men-seka, dan mengganti popoknya.

Keluarga kami sungguh beruntung memiliki seseorang yang loyal seperti mbak Tien, ia seperti anugerah dari Tuhan yang tiba-tiba diturunkan untuk keluarga kami saat kami kerepotan, ia pun tak pernah mengeluh, kecuali saat ia sakit, itupun jarang sekali. Baginya, keluarganya adalah prioritas utama, prioritas keduanya adalah keluarga kami karena ia tahu kami membutuhkan batuannya, ia ada di setiap saat keluarga kami membutuhkannya terutama saat nenek butuh penjaga sewaktu kami sekeluarga pergi ke luar kota seharian. Menurut kami ia bukan sekedar asisten rumah tangga, tapi ia sudah bagian dari keluarga kami yang tak terpisahkan.

Tidak hanya Mbak Tien, ada juga Kartini tegar yang tidak kalah dengan Mbak Tien, ia adalah Ibu Saya, walaupun berumur 58 tahun, sekarang ia masih segar dan kokoh layaknya umur pertengahan 20. Ia yang setiap hari menyiapkan makanan untuk saya sebelum saya beraktifitas, dan sebelum mbak Tien datang ke rumah, ia yang setiap hari memberi semangat ke anak dan suaminya secara batin, bagi saya kecantikannya tak habis termakan usia, ia masih semangat beraktifitas seperti arisan, berkebun, hingga jalan-jalan. Bagi saya ia setara dengan ayah saya, jika ayah saya menyupport saya dari hasil kerjanya, Ibu saya menyupport saya dari belas kasih sayangnya.

Kelak, saya akan mencari wanita seperti Ibu saya yang penyabar, sayang kepada suami dan anak, sabar, dan tawaqal. Kadan saya iri dengan ayah saya yang bisa mendapatkan wanita seperti ibu saya, saya seperti manusia paling beruntung di dunia karena saya dilahirkan pun ditakdirkan menjadi anak dari ibu saya.

Bagi saya, pada dasarnya kartini modern bukan hanya wanita yang anggun dan lemah gemulai, tapi wanita yang perkasa dan setia tiada akhir seperti Mbak Tien juga bagian dari kartini modern. Ia berjasa bagi banyak orang, ia pantang menyerah, dan ia menorehkan banyak jasa bagi orang di sekitarnya. Ia berguna bagi orang yang membutuhkannya. Menempatkan dirinya setara dengan laki-laki, tak kalah dengan kaum adam. Karena anggapan kartini yang terlihat anggun dan hanya duduk manis di tempat itu sudah kuno, wanita sekarang harus berjuang, pantang menyerah dan menempatkan diri layaknya setara dengan laki-laki. Karena wanita bukan diciptakan sebagai kaum yang menemani lelaki, bukan untuk melengkapi lelaki.

Sampai di sini tulisan panjang saya, intinya saya melihat Mbak Tien dan Ibu saya, adalah kartini di era modern seperti sekarang ini. Kartini era dulu memperjuangkan hak-hak wanita, kartini era sekarang harus menempatkan wanita di tahta wanita yang setara laki-laki.