Minggu, 31 Agustus 2014

CERPEN: Tuhan Tidak Menuliskan Kita Di Buku Yang Sama

Untuk dia, yang akan pergi meninggalkan negeri ini.



When I look at my room, I see the girl who loves book.




“Aku berjanji memelukmu dalam kehangatan, mengatakan ‘cinta’ kepadamu setiap pagi, dan membantumu mencintai kehidupan sampai Tuhan memisahkan kita. Untuk hidup di dalam kehidupanmu dan menyebutmu sebagai rumah.” janji Shifa.
                                           
“Wow, itu janji yang keren. Jangan bilang itu kutipan dari buku favoritmu..” sahut Danny sambil tersenyum “Aku berjanji mencintaimu sebagaimana aku mencintaiku sendiri. Apapun rintangan yang mungkin akan membuat kita terpisah, kita akan melawan itu.” tutupnya.

“Putra Danny, apa kamu bersedia menerima Putri Shifa sebagai pasangan sekarang, besok, dan selamanya?” tanya Pendeta.

Dengan tersenyum bahagia Danny menjawab “Saya bersedia”

“Bagaimana dengan Putri Shifa?” tanya Pendeta itu lagi.

“Dari hati saya, saya bersedia.” Jawab Shifa yang pipinya yang berkilau berlumuran air mata.

“Dengan segenap kekuatan yang diberikan Tuhan, aku nyatakan kalian sebagai suami-istri. Dan bersahabatlah kalian berdua sampai salah satu dari kalian sudah mati.”

Danny mengecup bibir Shifa.




Enam tahun lalu, aku dan Danny lulus dari sekolah yang sama, teman sebangku dari SD, SMP, SMA. Kita sama-sama tidak masuk universitas negeri, dan kami juga merencanakan masuk satu universitas yang sama, salah satu universitas Kristen di Jakarta.

Kami berdua adalah penggila buku, hari-hari kami, kami habiskan dengan membaca buku, ada dua hal yang bisa kami lakukan ketika membaca buku; menceritakannya, dan membicarakan tentangnya. Buat kami, buku adalah teleport waktu, kami bisa kemana saja semau kami tanpa harus melangkah se-centi pun. Itu yang membuat kami cocok dari kecil hingga sekarang.

Namun satu hal yang aku takutkan dari membaca buku adalah, aku bisa saja jatuh cinta dengan karakter fiksi yang ada di salah satu buku yang sering baca berulang-ulang, adalah Angel And Demon  karya Dan Brown. Aku jatuh cinta dengan sosok Vittoria Vetra, gadis dengan rambut panjang dan alis tebal, yang memiliki tubuh tinggi yang berada dalam novel itu. Kepintarannya bisa membantu Robert Langdon menemukan pembunuh serial di Vatikan.

Universitasku memiliki perpustakaan yang besar, aku tidak sabar selesai ospek dan menghabiskan hari di perpustakaan sepulang kuliah.
Ketika ospek sudah berakhir, aku beranjak mengambil kartu mahasiswa, aku resmi menjadi mahasiswa di Universitas ini. Besoknya, selesai jam kuliah, aku masuk ke perpustakaan yang sudah ingin kumasuki sejak kemarin, ini perpustakaan yang sangat besar, buku-buku sejarah dan novel lengkap tersedia disini, hanya perlu memasukkan nomor mahasiswa ke admin, dan aku bisa membawa buku apa saja disini, aku lari menuju rak novel, dan... The Lost Symbol, karya Dan Brown yang baru beredar tiga minggu lalu sudah ada disini, aku ambil dan membacanya di meja depan. Aku berdiri dan membaca prolog The Lost Symbol dengan jalan pelan-pelan berniat untuk duduk.

Setelah aku memalingkan mata ke depan, tepat di depan kursi sebelum aku duduk, perempuan berambut sepundak, alis tebal, dan tinggi semampai, memakai baju bertuliskan ‘When I look at my room, I see a man who loves book’ membaca novel tebal berjudul ‘Paper Town’. Dia memakai headset Bluetooth di telinga kirinya. Seperti mimpi, aku melihat apa yang sudah aku bayangkan, aku melihat Vittoria Vetra yang membaca buku. Banyak perempuan cantik, tapi mereka tidak mencintai buku. Sangat beda dengan ini. Tapi, aku bukan orang yang seperti itu, tidak pandai berkata dan merangkai sajak untuk terlihat penggoda. Buku Dan Brown yang aku pegang tidak henti-hentinya ku remas, aku fokus melihat dia.

Handphone Sony Ericsson C-702 ku bergetar, nama kontak bertuliskan Danny Kristianus muncul, kumasukkan novel ke dalam tas dan bergegas keluar, aku menjawab telepon Danny.
“Ndra? Di mana?” tanyanya.
Danny bicara panjang lebar tentang tugas ospeknya yang membutuhkan pengetahuanku, Danny juga memintaku membelikannya makanan untuk di kos, kos Danny tidak jauh dari universitas kami, tepat di belakang tempat parkir.

Selesai membelikan Danny makanan, aku mampir ke kos-an Danny, bercerita ospek bagian fakultas ilmu budaya ke Danny. Aku bercerita tentang perempuan beralis tebal di perpustakaan tadi. Menjelaskan panjang lebar bagaimana aku menemukan sosok gadis idaman yang aku temukan.

“Jadi, dia cakep?” tanya Danny dengan mulut penuh nasi.

“Banget, Dan” tuturku, “tapi bukan masalah cakepnya, dia suka buku, jelas dari kaos yang dia pakai.”

“Kaos? Detail banget sampai nge-lihatin kaosnya? Emang apa tulisannya?”

When I look at my room, I see a man who loves book”

“Hah?” Danny tersedak kecil “itu kan quote buku Looking For Alaska-nya John Green? Tapi.. seharusnya bukan man tapi girl.

“Siapa John Green?” tanyaku penasaran.

“Author terkenal. Buku terakhirnya Paper Town, ngga pernah denger? Nama karakter utamanya Queentin Jacobson, atau Q.”

“Oh iya! Tadi dia baca novel itu. Err, namanya sama kaya gue dong?”

“Elo mah Indra Kirana, pakai K-I.”

Danny menceritakan kepadaku John Green dan buku-buku nya yang John Green tulis, Danny sangat senang bisa bercerita kepadaku dan berbagi semua isi-isi novel John Green. Menceritakan bagaimana sifat dan gaya Queentin Jacobson. Dengan gaya geek dan suka memakan sweater tipis dan kaos hitam gaya-gaya british. Dan tentu saja bagaimana cara menaklukan gadis yang menggemari buku-buku John Green.



Hari kedua aku resmi menjadi mahasiswa, tugas mulai muncul dan ingin untuk dikerjakan, sebelum aku kerjakan, aku menyempatkan diri untuk ke perpustakaan. Mengambil novel-novel ringan nampaknya menyenangkan mengingat buku The Lost Symbol sudah selesai aku baca, semalam.

Tepat di kolong dek rak buku, seseorang terlihat mata dan alis tebal. Itu, perempuan yang kemarin? Iya, aku yakin sekali, dia tampak membaca novel yang kemarin. Semakin jelas lengkungan bibirnya dan bulu matanya yang lentik terlihat dari dekat, giginya yang  se-rapi piano terlihat saat dia fokus membaca mengucapkan kata-per kata tanpa suara, menghiasai rahangnya yang kokoh. Tiba-tiba bola matanya memutar ke depan, dia melihat dengan jelas ke arahku. Mataku tersentak lebar, aku menutupi dek yang kosong dengan buku disampingnya. Apa dia melihatku? Payah, lama sekali aku menguntitnya.

Bodoh, bagaimana aku bisa mendekatinya sementara aku mengetahui diriku sendiri sebagai pengecut. Bergegas menuju meja admin untuk meminjam buku-buku yang sudah aku pilih, mungkin aku bisa melihat datanya di komputer admin? Jelas, aku bisa mencari tahunya di sana. Wanita penjaga komputer menyajikan senyumannya dan berkata
“Ada yang bisa di bantu?”

“Err..” aku gugup “Maaf, apa pengguna diperkenankan melihat pengguna yang lain untuk mengetahui pengguna itu ada disini?”

“Tentu saja! Demi keamanan, semua diizinkan untuk melihat siapa saja yang di sini” sela Wanita berambut pirang gelap itu “tunggu sebentar” Wanita itu membalikan meja putarnya yang dibebani oleh komputer admin.
“Silakan”

Aku bergegas melihat semua daftar username yang sedang login di perpustakaan. Dari atas, aku baca satu-persatu username
Crunchyyyxx tidak mungkin perempuan memakai username aneh, I_Kirana itu usernameku, Toni_HI itu nama pria, thefallenangel mungkin ini, kuarahkan kursor pada username itu dan meng-klik dua kali, nama profil thefallenangel adalah Burhan, kelahiran tahun 1960, jelas tidak mungkin. Klik tombol kembali, aku lihat di list terakhir dreamer6123317, tinggal ini, mungkin ini, klik profil dua kali. Nama akun itu K. Sirfia Anggraeni, lahir 16 Agustus 1990, tiga buku yang terakhir dipinjam adalah Buku Sastra, Kamus Indonesia-Inggris, dan Paper Town. Tidak salah lagi, ini pasti dia. Akhirnya aku tahu namanya.




Hari ke tiga, tugas semakin menumpuk, pasal-pasal hukum menunggu untuk dihapalkan. Besok masih Minggu, mungkin bisa besok aku menghapalkan ini. Sepulang kelas, tidak lupa aku ke perpustakaan dan mengembalikan apa yang sudah semalaman aku baca, mungkin aku tidak meminjam buku dulu. Sebelum kaki-ku beranjak keluar, aku meminta Admin melihatkan daftar yang berada diperpustakaan. Menggulung track mouse ke bawah, dan tidak ada username dreamer6123317 .

Sepulang kuliah, terik matahari terasa tidak bersahabat, aku mampir ke rumah makan kecil yang di belakang parkiran kampus, aku memesan makanan dan duduk di bangku panjang. Di luar jendela, pemandangan orang-orang sibuk sili berganti, minuman pun datang. Di luar jendela, di seberang jalan, ada pun perempuan berambut sebahu menggendong semacam tas di depan yang menjual air mineral. Perempuan itu memalingkan badan ke depan jendelaku, itu perempuan yang cukup aku kenal dari postur tubuhnya, itu perempuan ber-alis tebal, dia berjualan air mineral?




Senin pun datang, ini minggu pertama tugas dikumpulkan. Seperti biasa, perpustakaan selalu menjadi tempat untuk pulang ketika di rumah tiada orang yang menunggu, errr... kecuali Danny. Login ke komputer, dan orang pemilik username dreamer6123317 memakan baju polkadot melihat-lihat buku, kali ini dengan rambut buntut kuda dia terlihat menawan. Tidak boleh menjadi pengecut, kali ini aku harus berani mendapatkan perhatiannya.

Dia menuju komputer admin untuk men-tag buku yang dipinjamnya. Aku membuka tas-ku, berpura-pura mengambil sesuatu, dan jalan menuju arah berlawanan dengan Perempuan itu, jalan ku semakin cepat, dan hantaman tas-ku dengan tangannya pun tak terelakkan, buku-bukunya jatuh berantakan. Aku reflek meminta maaf dan memberesi buku yang jatuh berantakan.

“Maaf” ucapku “Salah saya, biar saya bantu.”

“Ngg.. Ngga usah, ngga masalah kok.” Jawabnya, dengan cadel dan suara selembut dentingan air hujan yang jatuh dari daun.

Mengasihkan buku yang sudah ku-bereskan.

“Tewimakasih.” Ucapnya, maksudnya terimakasih.

“Sama-sama, Sirfia.”

Dia merengutkan dahinya dan menyipitkan matanya. Dengan gaya sok cool aku menuju ke dalam perpustakaan, Yeah! Aku dapat perhatiannya!
Segera mencari buku yang aku inginkan, dan keluar. Perempuan itu menunggu di depan teras, tampak menunggu seseorang. Dengan nyali sekuat singa, aku beranikan mengajaknya bicara.

“Nungguin..pacar?”

Dia menoleh kaget dan membuka matanya lebar-lebar, sambil membenarkan headset bluetooth-nya. 

“Engga, saya nungguin Mama.”

“Maaf soal tadi, aku buru-buru.”

“Kok masih di inget? Saya saja sudah ngga nginget-nginget lagi.” Dia sambil tersenyum “Eh, tahu nama saya dari mana?”

“Jangan kuper lah, kita kan sama-sama anak perpus.”

“Oh.”

Ku tatapkan mataku kewajahnya.

“Kenapa lihat saya sampai se-detail itu?” tanyanya penasaran.

“Karena.. kamu cantik, dan suka buku.”

“Menurutmu begitu?” dengan nada bermaksud “cepat atau lambat, anda akan menemukan kekurangan saya... jadi, siapa nama anda?”

“Indra Kirana, kalau terlalu panjang bisa dipanggil Ki.”

“Sungguh? Q-I? Anda seperti karakter dalam novel karya penulis favorit saya/”

“Bukan Q-I, K-I. Maksudmu Paper Town-nya John Green?”

“Anda tahu novel itu?”

“Jelas, aku kan update tentang buku-buku gitu. Jadi...”

Kami bertukar memori lama dan buku-buku favorit kami, kami mulai bertukan nomor handphone dan menambah teman di facebook. Se-simpel itu namun sudah membuatku sangat bahagia. Untuk orang yang bodoh soal asmara sepertiku, sepertinya Tuhan menyiapkan kisah terbaiknya.



Setelah perkenalan itu, setiap hari kami mengirim pesan. Tidak butuh waktu lama agar aku membangun semua fondasi tentangnya di otak-ku. Aku sedikit-sedikit mulai mengerti kekurangannya, mulai dari bicaranya yang cadel, itulah mengapa namanya Sirfia tapi ia menyebutnya sendiri Shifa. Sampai mengapa ia selalu memasang headset bluetooth. Sayangnya, itu bukan headset seperti dugaanku, itu adalah alat bantu pendengaran, kedua telinganya memiliki tumor saat dia kecil, dan suatu hari operasi itu menyebabkan telinganya cacat. Tak masalah, aku tak pernah terganggu dengan kekurangannya. Toh, kalaupun dia sempurna, dia juga akan mendapatkan yang lebih sempurna dari aku. Oh iya, dia membantu orang tuanya membiayayai kuliahnya dengan cara apa saja. Sehingga dia berjualan minuman ringan. Dia menyebut dirinya pemimpi, suatu saat dia ingin pergi ke Itali untuk melihat menara Pisa.

Aku mengenalkannya dengan Danny, Danny dan Sirfia terlihat saling akrab, tidak butuh waktu lama, Danny pun menyukai Shifa, dia orangnya asik, suka membaca buku, dan nyambung diajak ngomong. Tapi, aku memperingatkan Danny, dia akan menjadi milikku.

Hingga suatu ketika, aku beranjak wudhu dan akan menjalankan solat,  Shifa dengan iseng mengagetiku, setelah selesai aku membilas kaki dan berbalik badan, dia meneriakiku pelan dan memegang tanganku.

“Shif!” bentakku. Dengan wajah bingung aku melihatnya memegangi tanganku “Ngga lihat aku tadi abis wudhu? Kok di pegang?”

“Wudhu?” merengutkan wajahnya penasaran “wudhu itu apa? Emang kenapa kalau aku sentuh?”
“Shif? Jangan bilang kamu ngga pernah solat?”

“Solat? Maksudnya sembahyang? Aku biasanya setiap ke gereja Minggu.” Wajahnya beralih dari ceria menjadi bertanya-tanya

Aku bingung, otakku seakan bertanya pada dirinya sendiri mengapa aku tak waras, aku sungguh mengira kalau pertemuan aku dan Shifa lebih lucu dari standup comedy. Shifa ku-suruh menunggu sebentar selama aku balik wudhu dan segera menjalankan solat.

“Jadi, kamu, maaf, Katolik?” ku tatap kosong wajahnya.

“Aku kira kamu tahu itu, Dra. Namaku kan sudah jelas Kristina Sirfia Anggraeni” nadanya yang semakin bingung “Emang kenapa kalau aku Katolik?”

“Ehm.. kalau boleh aku tanya, apa Agama-mu mengijinkan umatnya menikahi selain agamamu?”

“Aku ngga ngerti soal sampai se-detail itu. Kok kamu bicara nikah?”

“Aneh kalau aku harus bilang, jauh sebelum kenal kamu, aku suka kamu.”

Lamunan wajahnya melengkapi keheningan kampus yang sore itu sudah semakin sedikit orang yang duduk di foodcourt.

“Tapi..” lanjutku “Ternyata ngga bisa di bohongin, aku semakin hari pengin kita lebih dari sekedar teman.” Sambil melihat kalung Shifa yang mematulkan cahaya.

Shifa bernafas panjang “Dra..” sambil menggenggam tanganku yang sedang memegang kunci motor “Aku juga ngira gitu kok, kita akan cocok. Kamu tinggi, aku juga tinggi. Kamu cakep, aku juga lumayan imut. Kamu suka buku, aku juga. Kamu...”

“Kamu Katolik aku Islam. Kita beda, Shif.” Potongku cepat “Kita ngga bakal lanjut.”

“Itu kan bisa diatur, Dra. Kamu bisa pindah agama Katolik.” tegasnya. Percakapan itu terpotong beberapa sekon.

“Pindah agama?” tanyaku sedikit bingung “Yakin kamu masih mau sama aku kalau aku pindah agama? Bayangin kalau aku pindah agama, Tuhanku yang esa aja berani aku tinggalin, apa lagi kamu?”

“Dra..” sahutnya “Tuhanku hanya mengutus ku mencintai seseorang. Kalau menurutNya yang aku cintai ngga Beliau suka, ya aku akan lepasin. Lihat sekarang, Dra, kamu harus mulai belajar melepas, bukan hanya seseorang, tapi hal-hal yang kamu pernah alami. Jadi menurutku, menjalani apa yang sekarang ada adalah hal terbaik, lakuin yang terbaik sebelum kamu ngelepasnya.”

“Shif..” aku memeluk tangannya kembali yang dingin dan dihiasi cincin perak.

Handphone Shifa berdering di atas meja. Danny, itu nama kontak yang muncul di layar Shifa. Sebelum tangan Shifa sempat memegang itu, aku langsung mengangkat dan menjawab telepon itu.

“Sorry, Dan, Shifa lagi sibuk sama gue.” Kemudian terdengar nada putus-putus  setelah aku mematikannya.

“Kok gitu, Dra?” tanya Shifa.

“Kita kan lagi berdua Shif, ngapain orang lain ikut-ikut.” Jawabku.

“Itu kan teman kamu, Dra.” Sejenak tak ada pembicaraan. “Cemburu ya?”

“Ngapain aja kamu sama dia?”

“Cuma bales-balesan SMS, ngga salah kan? Cemburu ya?” tanyanya polos.

“Orang pacaran sama kamu juga mikir-mikir Shif. Udah cantik, pinter, anak bahasa. Banyak yang mau ngerebut.”

“Kamu keliatannya bener-bener suka aku ya?”

“Sok tahu. Emang kalau benar iya, kamu tahu dari mana?”

“Keliatan dari matamu. Tuhan memberiku kekurangan pendengaran untuk melebihi pengelihatan mataku. Bahasa mata lelaki adalah bahasa universal, tidak usah diartikan pun wanita akan ngerti.” “...udah sore banget, kamu harus solat kan? Aku balik dulu ya..”




Aku sudah menyelesaikan tugas akhir semester, aku dan Shifa tetap bukanlah kekasih, tapi kami saling berbagi tentang satu sama lain. Tapi entah kenapa, Shifa akhir-akhir ini mulai tidak menyempatkan waktunya untuk kami. Aku sangat paham, tugasku pun juga menumpuk.
Suatu saat, aku di foodcourt kampus, aku melihat seseorang berjaket merah bercanda dengan seseorang yang aku kenal. Itu Shifa, dengan seseorang. Berjaket merah? Jaket merah itu juga tak asing, itu jaket Danny. Iya, itu Danny, dia memegang tangan Shifa. Bajingan, sahabat yang sangat lembut seperti kelinci, seketika tumbuh taring dan menjadi serigala. Tak lama, aku mendekati mereka berdua. Di belakang Danny, aku berteriak mencari masalah.

“Bangsat lo Dan.”  Mereka berdua melihatiku.

Danny melepas tangan Shifa dan menoleh ke hadapanku, dia berdiri. “Dra?”

“Jangan sok kaget, ikut gue ngomong kalau lo laki.” Beranjak aku keluar ke depan taman dekat foodcourt. Dia mengikutiku pelan-pelan.

“Dra, gue bisa jelasin.”

“Jelasin kalau lo itu biadab?”

“Dra! Shifa udah ngga bisa, dengan lo yang suka membuat perbedaan! Lo ngga bakal lanjut sama dia, kalian beda! Kalian ngga bakal cocok!”

“Tapi paling ngga lo ngerti, gue yang menuin Shifa duluan. Selama gue deketin dia, lo ngerti dong se-engganya.” aku mendorong sebelah pundaknya.

“Ya bukan gitu Dra!..” seorang wanita menyela omongan Danny dengan memukul rahang Danny. Tak lama, dia menoleh ke arahku dan mendorong kebelakang dengan keras, aku terjatuh.
Itu Shifa “Malu-maluin!” teriaknya “kalian itu temen!”

“Shif!” enyahku “dia udah ngerebut kamu dari aku!”

“Percuma!” tegas Danny “dia deket sama kamu, pun, Shif. Dia beda sama kamu!"

“Cukup!” kata Shifa “kalian berdua pengin deket sama aku kan? Kalau gitu jangan hubungi aku lagi, sampai salah satu dari kalian bisa bawa aku ke Itali. Pakai uang kalian sendiri! Paham!?”

Aku dan Danny terdiam “Fine!” tegasku.

“Pergi sekarang dari hadapanku” tutup Shifa dan pergi.

Aku dan Danny , secara tiba-tiba menjadi orang asing. Sapa-menyapa tak ada dalam kamus hubungan kita. Lucu, ternyata cinta adalah musuh terbesar dari persahabatan.





Sudah tiga tahun aku tak berhubungan dengan mereka, aku sudah menyelesaikan skripsi. Beasiswa ke Australia sudah aku dapatkan, aku akan melanjutkan S2 disana. Sayang, seandainya beasiswa itu ke Eropa. Sementara aku menyiapkan koperku untuk pulang ke Depok, gerbang pintu kosku berbunyi pukulan dari gemboknya. Itu adalah seorang tukang pos yang mengantar paket. Kuterima paket itu dan membukanya di dalam kos, itu untuk Indra Kirana. Berisi kotak yang cukup besar, isi kotak itu novel Inferno karya Dan Brown yang bahkan aku tidak dahu kalau Dan Brown sudah mengeluarkan novel teranyarnya. Tapi siapa yang mengirimkannya?

KETIKA AKU MELIHAT KE RUANGANKU, AKU MELIHAT SOSOK PRIA YANG MENCINTAI BUKU

Itu pesan yang sangat tidak asing, itu quote John Green yang di-edit oleh Shifa.
Di novel itu juga tertulis:

TUNGGU, BACA DAN KAU AKAN MENEMUKANNYA

Aku selesai membaca Inferno, itu salah satu buku jenius yang menceritakan Robert Langdon yang ingin menemukan virus. Setelah tiga jam aku sudah menyelesaikan novel 600-an halaman itu, aku mengerti maksud Shifa. Salah satu tempat yang bergaris bawah disengaja oleh bolpen itu menandai “Tempat tergelap”. Setiap kalimat “Tempat tergelap”.

TEMPAT TERGELAP DI NERAKA, DICADANGKAN UNTUK MEREKA YANG BERSIKAP NETRAL SAAT KRISIS MORAL.

Dia mengundang aku kesuatu tempat, tempat gelap, dia menyuruhku mencari dan akan menemukannya. Aku pernah menemui ruangan itu dan bercerita ke Shifa, itu ruangan perpustakaan yang sudah hampir setahun tidak aku kunjungi, itu halaman belakang perpustakaan, gelap, dan penuh buku tebal. Perpustakaan buka pukul sepuluh pagi sampai jam enam sore, aku akan kesana lusa. Mengingat ini sudah jam 7 malam dan lusa perpustakaan libur, lagi pula besok aku masih di Depok.




Hari ini sudah Senin, pukul tuhuh aku akan berangkat ke kampus.
Sampai di kampus, pukul sepuluh lebih sedikit, aku beranjak ke perpustakaan, perpustakaan itu sudah buka, aku menuju ruang gelap belakang yang penuh dengan buku tebal. Hanya ada seseorang di situ, berjaket merah, rambut gondrong dan aku sudah yakin itu Danny. Tiga tahun lebih, aku sering melihat tapi tak saling menyapa. Kurasa itu sudah kejadian yang lalu, aku harus kembali akrab dengannya.

“Dan?” sapaku.

“Dra?! Lo di sini juga? Eh apa kabar?” tanyanya.

“Selalu baik, gue disuruh Shifa ke suatu tempat, dan gue kira di sini.”

“Shifa juga kasih gue tempat ini kemarin lusa, gue baru tahu tempat ini malah. Dia ngirimin gue e-mail aneh, gue di suruh ke suatu tempat di kampus yang penuh buku dan ngga pernah gue kunjungi, ternyata gue nemuin urangan ini.”

“Shifa juga beritahu lo? Jadi, mau Shifa apa?”


Limabelas menit, aku mengobrol dan sharing, seseorang tiba-tiba dengan sepatu hak tinggi dan memakai anting besar yang melingkari telinganya, rambutnya menutupi muka yang akan menoleh ke arahku, setelah menoleh itu Shifa yang semakin melengkapi dirinya dengan modis. Bagaikan seorang Juliet yang hidup di masa kini, dia duduk di depan kami.

“Terimakasih sudah datang di undangan saya.” Sambil tersenyum.

“Kok bisa tahu kalau kita sudah di sini?” tanyaku.

“Admin, untung kalian belum ganti akun perpustakaan.” Sambil dia menyipitkan mata dan mengurai poninya dengan jari yang dihiasi kuku berkutek. “jadi, pasti kalian sudah lulus dong? Aku sementara ini jadi presenter event swasta. Kalian pada kemana?”

“Perkapalan negara” kata Danny “aku sudah di kontrak dua tahun di sana.”

“Wow! Kamu, Dra?” dia menatapku.

“Australia. S2 Sudah nunggu disana tiga tahun. Dua minggu lagi aku berangkat.” Aku membersihkan tenggorokan “...Shif, apa syarat itu masih berlaku?”

“Aku ngga bakal lupa. Sayang sekali kamu ke Australia, coba ke Eropa. Aku sudah tiga tahun nunggu kalian, akan aku tunggu sampai salah satu dari kalian nelpon handphoneku dan kasih nomer passportku.”

“Tapi aku sudah nyerah.” Kataku. “aku ngga akan nge-duluin Danny untuk pergi ke Itali sama kamu. Jadi Dan,” Danny menoleh “Selamat, gue sudah belajar kalau gue harus nge-biarin dua orang yang gue sayang untuk saling menyayangi. Dan itu kalian. Jadi Dan, bawa dia ke Itali. Undang gue kalau kalian nikah.”
Aku berdiri dan menuju Shifa “Shif, kita di izinin Tuhan bersama tapi dalam bentuk teman, semoga pertemanan kita ngga cuma saat kamu belum nikah sama Danny aja.”

Shifa berdiri, ia memelukku erat, mengecup bibirku secara cepat dan berkata “Aku bisa menentukan kalau aku akan menikah dengan Danny, tapi aku tak bisa menentukan bahwa kenyataannya aku mencintai kalian berdua.”

Danny menghampiriku dan berdiri dibelakangku, dipegang pundakku erat-erat, ia berkata "Sukses, Dra. Gue sama Shifa tetap ngga bakal bisa lupain lo. Lo emang laki."




The University of Queensland, saat ini sudah menuju libur musim panas, baru dua tahun di sini aku sudah menjadi orang yang mandiri. Bel asrama ku di  jalan St. Louie 48 berbunyi, itu tukang antar paket, mengirimkan paket merah, untukku.

Paket itu dibungkus rapi dan bertuliskan When I look at my room, I see a man who loves book
Jelas itu seseorang yang mengecup bibirku dua tahun lalu, mengirimkan e-ticket visa berupa kartu kuning, denah kota Florence, dan surat undangan Danny – Shifa untuk acara nikahan di gedung pertemuan Palazzo Vecchio. aku paham, mereka akan menikah, dua minggu lagi, aku pasti datang.





Kami sudah sampai di bandara Internationale de’Rome. Butuh waktu sekitar tiga jam untuk naik kereta. Kami menuju stasiun dan memesan dua tiket, kereta melewati Perugia, Arezzo, dan akhirnya sampai di stasiun Santa Maria Novella, Florence. Aku mencari jaringan wi-fi, seperti janji, aku menghubungi Danny lewat G-mailku. Tak lama, Danny membalas.

“Teman gue bakal nemuin lo, gue ke sana sekarang.”

Lelaki ber-jenggot tebal dan memakai sweater dan jins, menanyaiku

“Scusi, Mr. Indra?” – Permisi, anda tuan Indra? Tanyanya dengan aksen kental Itali

“Yes.” – Ya. Jawabku dengan ragu.

“Buon giorno, Mr. Indra. Come sta?” – Selamat siang, tuan Indra. Apa kabar? Dia menyodorkan tangannya.

 Aku menjabatnya dan berkata “Sto Bene.” – Baik.

“Aspetti, La Danny arrivera tra venti minuti.” – Harap tunggu, Danny akan tiba duapuluh menit lagi.

“Grazie” – Terima kasih.

“Pregor” – Sama-sama. Dia menyalakan rokok.


Duapuluh menit, mobil Merchedez keluaran terbaru setir kiri datang ke depan ruang tunggu statiun Santa Maria Novella, teman Danny menghampirinya dan membukakan pintu belakang. “Per favore” – Silakan.

Kami masuk ke mobil dan di sambut oleh Danny dan Shifa, mereka tampak kembar menggunakan seragam sepakbola A.C.Milan, kami langsung diantar ke rumahnya untuk menginap. Danny bilang besok lusa adalah malam pernikahan, dan pesta mereka di gedung. Kami hanya tersenyum mendengarkan cerita panjang Danny tentang dia dan Shifa selama di Itali, sambil melihat dari kaca gedung Via Dei Leoni. Danny membeli rumah di perumahan kecil di Florence, Itali. Itu berkat kerja kerasnya selama dua setengah tahun di perkapalan, dia sudah keliling dunia, dan mengajak Shifa bersama. Shifa sudah bangun dan menggapai mimpinya untuk pergi dan tinggal di Itali.

Setelah kami sampai di rumah yang berkamar tiga, aku diberi ruangan bersama Danny, dan Shifa bersama dia. Shifa masih seperti yang dulu, dia suka membaca, dia mengoleksi buku-buku bahasa Itali yang langka, novel author favoritnya The Fault In Our Stars yang bertanda tangan John Green tersedia di rumahnya dalam bahasa Indonesia, Itali, dan Inggris. Shifa menyuruhku membacanya, novel itu bercerita tentang sepasang kekasih yang saling mencintai. Dan Hazel Grace, pemeran utama dalam novel itu harus rela melepas kekasihnya August untuk pergi selamanya.

THIS WORLD IS NOT YOUR WISH GRANTING FACTORY

Seperti biasa, Shifa selalu mengutarakan pikirannya lewat buku, aku pun paham maksud Shifa, ‘Dunia ini bukanlah pabrik keinginan’ itu berarti semua, yang aku miliki, yang aku cintai, tidaklah selamanya abadi. Semakin sedikit hal yang aku punya, semakin  bisa aku menjaganya. Ketika aku berpikir semuanya akan pergi, itu tidak benar-benar pergi, aku hanya memulai semua dari awal. Seperti halnya buku, aku akan memulai dari halaman yang baru dan kosong.




“Aku berjanji memelukmu dalam kehangatan, mengatakan ‘cinta’ kepadamu setiap pagi, dan membantumu mencintai kehidupan sampai Tuhan memisahkan kita. Untuk hidup di dalam kehidupanmu dan menyebutmu sebagai rumah.” janji Shifa.
                                           
“Wow, itu janji yang keren. Jangan bilang itu kutipan dari buku favoritmu..” sahut Danny sambil tersenyum “Aku berjanji mencintaimu sebagaimana aku mencintaiku sendiri. Apapun rintangan yang mungkin akan membuat kita terpisah, kita akan melawan itu.” tutupnya.

“Putra Danny, apa kamu bersedia menerima Putri Shifa sebagai pasangan sekarang, besok,  dan selamanya?” tanya Pendeta.

Dengan tersenyum bahagia Danny menjawab “Saya bersedia”

“Bagaimana dengan Putri Shifa?” tanya Pendeta itu lagi.

“Dari hati saya, saya bersedia.” Jawab Shifa yang pipinya yang berkilau berlumuran air mata.

“Dengan segenap kekuatan yang diberikan Tuhan, aku nyatakan kalian sebagai suami-istri. Dan bersahabatlah kalian berdua sampai salah satu dari kalian sudah mati.”

Danny mengecup bibir Shifa.


Semoga berbahagia Danny, Shifa, biarkan cerita kita bertiga menjadi cerita sampai kita mati. Seseorang ber-heels tujuh centimeter mengambil tanganku, dibalut gaun sleeveless merah panjang, itu Annisa, berbisik dari bibir merahnya, “Jadi, kapan kita nyusul mereka?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar