Rabu, 26 November 2014

CERPEN: The Invicible.



Kumpulan terik matahari menyusup ke rongga kepalaku. Langit negara Eropa dengan suhu yang mampu mencengkramku, melintasi alam pikiranku dengan kenangan enam tahun lalu setelah aku melihat dia. Seseorang memanggilku “Ana? Lihat apa, An?” yang belum aku gubris. Tunggu, apa benar itu dia? Ia tampak lebih besar dan berotot, rambutnya panjang dan sedikit messy, matanya yang tajam dan lebar saat tak memakai kacamata. Melihat ke arahku. Wajahnya masih sama saat ia tak mampu melihat aku secara jelas saat aku di depan sekolah dulu, memicingkan matanya dengan kepala yang dimiringkan ia terlihat semakin tampan di bawah depan Burger King.


“Aku cinta kamu, Ana!” teriakan bocah aneh dari panggung itu sukses berat membuat otot rasa malu-ku pecah. Aku keluar dari lapangan sekolah dengan mengajak sahabatku, Shinta. Rasa sebal dan malu merajut tiap sudut muka-ku.

“Kamu kenapa sih, An?” tanya Shinta sambil cengengesan.

“Diem kenapa Shin! Udah tahu aku malu!”

Ia cengengesan setelah aku digojloki anak-anak se-sekolah karena sikap anak aneh tadi. Rio namanya, teman sekelas yang sudah dari semester satu mengincarku. Menerimanya? Jangankan berbicara dengannya, setiap kami rolling bangku dan ia dibelakangku, aku selalu sekarat kehabisan oksigen karena ia terus membuatku kesal.

Semua berawal dari kelas satu SMK, saat olahraga. Seluruh murid kelas disuruh memutari komplek sekolah yang lumayan panjang. Rio tampak kelelahan dan hampir tersandung kakinya sendiri. Tapi aku melihat temannya, Giva, seseorang anak band yang terkenal se-Surabaya. Mereka berdua lari berdampingan. Aku membawa tempat minum Tupperware yang bisa dislempang. Aku mendekati mereka berdua, dengan niat mencari perhatian ke Giva “Hai. Capek ngga?” tanyaku.

“Lumayan.” Giva menjawab dengan cool sambil berlari.

“Nih minum.” Aku menyerahkan tempat minum ku ke Giva.
“Wah kebetulan. Makasih ya.” Ia mengambilnya dari tanganku

Ia tampak tak langsung membuka dan meminumnya, melainkan ia menyerahkannya ke temannya, Rio.

Iki boy, jare ngelak? Iki lho, ngombe teko Ana” – Ini, boy, katanya haus? Ini lho, minum dari Ana. Katanya.

Duh kenapa yang minum jadi Rio sih?! Pikirku. Rio langsung membuka botol itu dan menghabiskan airnya.

Rio berteriak “Makasih, Ana. Udah cantik, baik lagi.” Ucapan itu membuat semua anak termasik Giva yang berlari menertawaiku dan Rio. Aku sangat tak mau mengingat kejadian itu lagi.


Semenjak kejadian itu, Rio terus menggombaliku di depan anak-anak dan tak berhentinya menuliskan ‘Aku Cinta Ana’ di papan tulis besar di depan kelas. Sampai saat kejadian tadi, ia naik diatas panggung setelah Band Giva perform untuk pensi memperingati berakhirnya kelas satu SMK kami.

Saat waktu senggang dan pensi berakhir, aku menghampirinya, membuka mataku lebar-lebar didepannya karena sikap tidak masuk akal yang ia lakukan tadi di depan panggung sekolah. Dia  hanya memangku gitar dan membuat petikan demi petikan, ia santai dengan melihatku mampir ke bangkunya. “Rio! Bisa berhenti bikin aku malu ngga?!” bentakku.

Rio menghentikan memetik gitarnya, ia melihat kearahku. “Lho aku kan pengen dapetin kamu sih, An. Masa ngga boleh? Daripada se-sekolah sepi ngga ada yang teriak ciye-ciye?” jawabnya cengengesan dan kembali memetik senar-senar gitarnya.

“Tapi ya jangan gitu dong, Io. Yang malu itu lho aku! Kamu itu siapaku sih? Aku lho, ngga suka sama kamu!”

Muka Rio berubah dari cengengesan menjadi tegang “Iya An, aku memang ngga pantes kok dapetin kamu. Maaf ya.” Ucap Rio dengan nada gemulai. Aku sedikit merasa bersalah ketika melihatnya memetik gitarnya tanpa memasukkan kuncinya.
“Tapi kan itu cuma bercanda, An? Syukur-syukur deh kalau dapet. Hahaha..” ia kembali mengubah raut mukanya menjadi cengengesan.

“DUHHH! NGGA TAU AH!” teriakku di depannya.

Aku jengkel, rasa amarahku memuncak hingga sepersekian milimeter di otak. Itu karena Rio. Hingga aku meluapkan semuanya ke Shinta, sahabatku yang beda kelas, dia adalah sahabatku sejak SMP. Aku pun menceritakan semua rasa malu ku ke Shinta, tetapi ia hanya tertawa melihat ceritaku tentang kelakuan aneh Rio.

“Hahaha.. bagus dong, An. Itu tandanya dia minta perhatian balik ke kamu.” Ia menggosok-gosok rambutku yang panjang.

“Kamu kok malah ketawa sih? Aku, kan, pengennya di perhatiin Giva!” teriakku ke muka Shinta.

“Dih ngarep. Hahaha.. Iya, ngerti kok aku, An. Tapi Rio juga ngga kalah gantengnya kan sama Giva?” ia malah menggodaku lagi

“Dih jauuuhhh!” aku menyangkalnya.

Setelah menikmati beberapa pekan stay di rumah,  kami resmi naik ke kelas 2 SMK. Di mana anak-anak mulai nakal, karena sudah bukan menjadi junior lagi. Di kelas 2, aku mendapatkan wali kelas yang terkenal killer di sekolah. Pak Hasyim, dengan badan yang tinggi dan rambut botaknya, ia menyuruh seluruh kelasku memperkenalkan diri kepadanya. Setelah semua sudah memperkenalkan diri kepadanya, ia mulai membuat rules.

“Saya minta, semua anak di kelas ini berteman. Oleh sebab itu, jangan membeda-bedakan mana laki dan mana perempuan. Laki dan perempuan harus duduk bersebelahan.” Teriaknya dengan suara yang 5 oktav.
Kelas kami pun mulai pindah bangku, yang ku lihat pertama adalah Giva. Sayang, ia sudah di booking sama Via, seorang model tinggi yang setiap ke sekolah tampil elegan. Semua murid saling bergerak, aku hanya duduk di bangku-ku dan menunggu siapa rekan bangku cowo-ku. Aduh, Rio. Ia menaruh tas ransel nya di bangku. “Ngga dapet tempat selain ini, janji ngga ganggu kok.” Ia bilang dengan singkat. Syukurlah kalau begitu.

Hari-hari berjalan seperti biasa, entah apa roh yang menyambet Rio sampai ia tidak menggodaku lagi selama kelas 2 ini. Sampai dengan semester 5, ujian akhir semester sudah menunggu. Saat ujian Fisika, aku menamatkan Rio yang serius menghitung angka demi angka. Satu setengah jam, dan aku baru menggarap lima dari dua puluh lima soal. Rio dengan polosnya keluar bangku dan membawa kertasnya. “Rio! Udah selesai? Tungguin.” Bisikku.

Rio kembali ke bangku, aku melihat kertas ulangannya. Dua puluh lima soal, Rio sudah menggarap semua dengan rumus yang rapih. Rio membalikkan kertas ulangannya kepadaku. Dengan cepat aku menyalin semuanya. Hanya lima belas menit, aku sudah selesai semua. Aku mengumpulkannya dan keluar kelas. Rio yang keluar dari pintu kelas, ku panggil dengan nada selembut mungkin.

“Rio?” dengan jalan menuju arahnya.

“Ya, An?” ia menoleh, dengan lehernya yang terlihat berotot.

“Ngga papa. Makasih udah bantuin. Hehe..” aku menepuk lengannya, merasa berhutang kepadanya. Tangannya juga terlihat berotot, jemariku merasakan lekukan demi lekukan di lengannya.

“Sama-sama, aku emang suka itung-itungan kok hahaha..” ia tersenyum memalingkan wajahnya, berjalan menuju kantin. Benar juga kata Shinta, Rio lumayan ganteng juga, dengan rambut yang sedikit panjang dan dadanya yang bidang.

Aku memanggilnya lagi, “Rio!!”

“Apa lagi Anaaa?!” ia menjawab dengan sedikit jengkel.

“Umm.. Sabtu, habis renang nonton yuk?”

“Boleh, atur aja.” Ia tersenyum kembali.

Akhirnya hari Sabtu. Seluruh kelas dua SMK libur karena ujian tes olahraga renang. Semua murid perempuan tes terlebih dahulu, saat giliranku, aku melakukannya dengan mudah. Ah, hanya 100 meter. Dan akhirnya semua murid perempuan selesai. Saatnya giliran murid laki-laki, kelasku mendapat giliran pertama, kuperhatikan satu demi satu teman sekelasku, mataku mendapatkan seseorang berbadan yang setengah telanjang dan sangat berotot, itu Rio? Tidak salah, dadanya membelah bidang, perutnya yang membentuk enam persegi tak henti-hentinya ku pandangi, inchi demi inchi lekukan punggungnya sangat seksi. Harus kuakui, untuk urusan badan, Giva tak ada apa-apanya dibanding Rio. Terus menerus kupandangi saat dia meluncur untuk menepati ujian 100 meter itu.

Suara Shinta membuyarkan lamunanku “An! Nafas dong!” aku memalingkan wajah ku ke wajah Shinta, nafas beratku yang terhentak hentak dengan menggenggam tangan Shinta.

“Apa? Apa? Lihat apa?!” tanyanya penasaran.

“Rio, Shin! Rio!” jawabku sambil bergemetar.

“Iya kenapa?!”

“Ngga lihat? Hot abis!” bisikku di telinganya

“Tuh kan, An, aku bilang apa. Dia bikin kamu kelepekan.. makan omongan sendiri.. Hahaha!” candanya.

Pandaganku terus terpaku di Rio saat meniriskan badannya, harus kuakui, aku menyesal pernah menganggap ia Invicible. Aku pun menyudahi memandanginya. Lagipula, aku bisa bertemu dengannya nanti saat kita pergi. Setelah keluar dari kamar mandi wanita, aku melihatnya didepan pintu keluar memakain kemeja hitam dan jeans. Apa yang Rio tunggu? Pikirku. Aku menghampirinya dan menyapanya. “Hai, Io.” Sapaku.

“Hai, udah siap?” ia bertanya sambil tersenyum.

“S..S..Siap. Di mana?” tanyaku balik.

“Terserah, TP? Yuk.” Aku menggenggam tangannya dan menariknya, ia menggenggam lebih erat tanganku. Ia mengendarai motor bebek, ia memuatku di belakang.

Tiba kami di Tunjungan Plaza, menuju XXI,  untuk kencan pertama, film superhero memang cocok untuk menemani sepasang sejoli yang masih saling mencoba memahami. Film The Incredible Hulk, menceritakan Dr. Bruce Banner yang diperankan oleh Edward Norton yang berusaha menjauhi kekasihnya yang diperankan oleh Liv Tyler karena ia tak mau kekasihnya tersakiti karena perubahannya yang menjadi mahluk besar akibat sinar gamma.


Setelah film selesai aku mengajaknya untuk membeli kopi di cafe XXI, 

 “Keburu-buru ngga?” tanyaku “Ngopi yuk, gantian deh aku yang bayarin. Hahaha..”

“Boleh. Mumpung besok Minggu.” Ujarnya dengan cepat.

Kami duduk di bangku kosong di depan, ia memesan Frappucino es, sama sepertiku.

“Hai, Io.” Panggilku.

“Ya, An?” jawabnya. Ia bermain dengan tempat tisu meja makan. 

"Kalau boleh jujur, langsung aja ya, aku itu sukaaa banget sama kamu yang sekarang.” Ia tersedah kecil “Eh kamu ngga apa?”

“Wow, aku juga suka kamu. Ahaha.. Iya, terus?” jawabnya cool.

“Ngga godain aku yang kaya dulu, sekarang kamu juga dandanannya lebih rapih, kacamatamu ngga segede dulu kaya pertama masuk, dan badan mu sekarang seksi banget, kamu nge-gym ya? Hahaha.” Pujaku. Aku mungkin adalah wanita, tapi aku tak mau hanya karena aku sebagai wanita aku tak berani mengutarakan isi hati. Tak lama, aku menyambung “Jadi, Io, entah kenapa rasa ini semakin mengakar, dan kau ngga bisa bohong. Aku tiba-tiba jadi sayang kamu.” tanyaku.

Rio menatap ku kosong, aku menunggu suara yang dilepaskan dari pitasuaranya, memperhatikan bibirnya yang melingkup untuk mengatakan sesuatu “Ehm.. iya kok, kalau boleh jujur, aku tanya ke Shinta buat dapetin kamu. Haha.. ngga nyangka aja sekarang malah jalan sama kamu.” Ia berkata.

“Shinta? Ya ampun dia yang nyampein semua? Hahaha.. Kalau gitu...”

“Tapi, maaf An.” potongnya. “Rasanya ngga fair kalau aku ngedapetin kamu itu susah, tapi kamu ngedapetin aku bisa gampang.”

“Iya, Io. Maaf sebelumnya, aku bukan Betty Ross yang bisa terima kamu pas kamu masih jadi ‘aneh’. Aku cuma cewe egois yang...”

“Psst..” ia menggenggam tanganku. “Aku ngga pernah nyalahin kamu. Sekolah kita masih panjang, aku ngga mau di tengah-tengah kita kandas. Lebih baik kita cukup segini aja. Kita juga harus ujian praktek, kan.” Ujarnya.

Kenapa ngga di coba dulu, Io? Bagian manaku yang perlu aku ubah untuk bisa pas jadi bagian dari kamu?! Seakan kalimat itu ingin kulontarkan dengan keras di wajahnya. Aku adalah pemilih yang buruk, aku selalu menginginkan kesempurnaan, tapi malah dibuat lenyap oleh kesempurnaan.

Ruangan yang ber-AC seakan tak mempan mendinginkanku, dahi dan leherku berkeringat, hati dan otak seakan saling menghajar. Aku terus menerus diam tak berpatah kata, namun aku harus bisa membuktikan bahwa aku adalah sesosok wanita yang dewasa. Aku terus menahan air mataku. Mungkin seperti sudah rumusnya bahwa manusia itu seperti magnet, ketika magnet A mendambakan sisi lain dari magnet B, magnet B menolak. Tapi ketika magnet B menginginkan sisi lain magnet A, magnet A menolak.

Sampai lah kami di rumahku, aku turun dari motor bebeknya, ia pun turun mengikutiku, ia melepas helmnya. Aku segera ke depan pintu pagar ku agar ia tak tahu bahwa aku tidak bisa membendung air mataku. “Lucyana.” Panggilnya.

Kuhentikan langkah ku, kuambil nafas panjang dan menghembuskannya, tubuhku berbalik ke arahnya. Ia menghampiriku, aku menjawabnya “Iya, Mario?” sambil tersenyum.

“Maaf” katanya “Aku sudah menghabiskan perasaanku ke kamu sebelum kamu peduli aku” Aku tak bisa menjawab ocehannya, aku terus memandang wajahnya dari dekat, tatap matanya membunuh mataku dengan perlahan, wajahnya terus mendekat ke wajahku, mataku terpejam dengan sendirinya. Kurasakan gesekan antara dua sisi daging tebal membungkam bibirku. Lambat laun aku merasakan bibirku semakin melembab. Tangan Rio mencengkram pinggulku dan mendekatkan ke arahnya. Kami saling mendekatkan dada kami. Terus menerus hingga ke leher. Pelukannya memberi rasa nyaman. Aku menikmati malam yang kian sunyi di antara sensasi gerakan lidah Rio di bibirku. Aku tak mau melepasnya, ia berikan aku surga dunia yang manis. Aku tak mau ini berakhir.

Perlahan, nadi ku terus memuncak hingga beberapa bit-rate, ia melepaskan bibirnya. Aku tak akan pernah melupakan ini. “Gutennait, Lucy.” Ia berkata. Ia pergi ke tempat motornya di sanding, lalu pergi meninggalkan rumahku.

Hari demi hari aku menikmati saat-saat di sekolah bersamanya. Aku habiskan waktuku di sekolah hampir tak lepas melihat wajahnya. Saat ia makan ke kantin bersamaku, saat kami bekerja sama dalam mengerjakan ujian, saat aku kerumahnya untuk mengerjakan tugas bersama. Aku tak akan pernah melupakan saat itu. Kami terus menempel hingga teman-teman mengira bahwa kamu adalah sepasang kekasih. Tapi, hubugan yang seperti ini justru akan bertahan lama, bukan. Di dalam doa ku aku selalu menyebut namanya. Ya Tuhan, jika ia meninggalkanku, jika ia tak mencintaiku, hukum dia untuk mencintaiku selamanya.

Sampai setibanya masa dimana kami sudah lulus sekolah. Seusai salat subuh, handphone Nokia E71 ku bergetar, menatap tab atas, yang bertuliskan message dari Mario Bramantio.
‘Dear Lucyana Anggraeni, sudah mutusin ambil kuliah jurusan apa? Di Jakarta macet banget, mau ke Trisakti aja harus nunggu lama. See ya later.’

Delete Message
Confirm

Aku melanjutkan tidur di hari libur sambil menunggu panggilan dari Universitas Sepuluh November Surabaya. Jahat? Tidak, aku tidak jahat, aku hanya berpikir bahwa ketika kamu tidak menginginkan seseorang itu, maka jangan membuatnya jatuh ke hatimu.

 


Rio kembali menatap handphonenya. “Ana?! Lucyaaanaaa~” goda saudara sepupuku, Dea di sampingku. “Kok bengong? Itu cowoku, mau aku kenalin?”

“Ngga usah De, anakku udah nunggu. Kasihan, liburan ke sini ngga makan. Ahaha.” Aku mengambil pesanan Burger King ku. “duluan ya De” aku mencium pipinya. “muah muah”
Kuletakkan mulutku di samping telinganya dan berbisik “Ganteng juga cowomu. Hihihi.” Dan ia tersenyum

Aku berjalan meninggalkannya, menuju mobil suamiku. Suamiku, Giva dan anakku menunggu di dalam mobil. Aku memberikan Burger pesanan mereka, VW tahun 2013 Giva meluncur menuju hotel di mana kami tinggal. Dan kadang-kadang aku berfikir, kasihan Dea, ia memakan bekas roti gigitanku. Hahaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar