Sabtu, 28 Februari 2015

CERPEN: A Million Miles From Heaven




“Reza... sayang, bangun Rez... Sudah pagi” gugah Arry, membuatku terjaga dari tidurku. Ia membuka gorden, percikan cahaya mentari menyilaukan mataku.

“Pagi Eza, sudah pagi. Semangat nak, have a good day.” Ayah membelai rambutku. Beliau terlihat pucat memakai syal kesayangannya yang aku belikan saat ulang tahunnya yang ke 50. Ia tersedak kecil.

Walaupun cahaya masuk, tapi suasana kamar tetap terlihat gelap. Kulihat tiba-tiba mulutnya mengeluarkan darah. “Reza... Kamu kerja sekarang ya.” Beliau tersedak-sedak, tersedak semakin parah dan mengeluarkan darah semakin banyak seakan ia habis meminumnya.

Mataku tersentak kuat. Tubuhku terbangun dari bak mandi yang penuh dengan air, gelombang air bekas sentakan badanku membuat air berceceran, nafasku besar terpompa cepat. Aku tertidur hampir satu jam di bak mandi. Ternyata itu mimpi.
Ini sudah setahun setelah Arry pergi meninggalkanku. Tak henti-hentinya otakku menggambarkan tentang sosoknya. Suara tetesan air shower ke bak mandi menggema di seluruh ruang kamar mandi. Jam 7 pagi, aku harus bergegas.

Sebelum berangkat aku melihat Ibu yang memakai syal kesayangan Ayah, tak kuhiraukan, itu membuat otakku berantakan. Kulepas Winter dari kandangnya, ia kandangnya sudah semakin menyempit.

Berada di lantai 7 dalam kantor yang bertingkat 9 lantai, mengerjakan tagihan nasabah yang sungguj luar biasa banyaknya. Awal bulan Februari yang padat. Pintu ruanganku terdorong keras, masuk seorang perempuan asing membawa kopi panas. Pawakannya kurus tinggi, memakai kemeja merah bunga, rok se-lutut dan hi-heels, mata sipitnya menunjukan dia keturunan tionghoa. Oh, karyawan baru. Ia menggantikan sekretaris bos yang baru keluar akhir tahun lalu.

Maria Elfina Elizabeth. Tertulis name-tablenya menghadap depan. Ia duduk di akhir ruangan persis dengan hadapanku dari 10 bangku lainnya yang sudah terisi. Wajahnya cuek tak memperhatikan sekelilingnya, ia langsung duduk dan bekerja. Judes sekali, pikirku.
Tepat jam 12 siang, waktu istirahat. Gadis yang hanya bertulang dan kulit itu langsung keluar, dari sisi bilik kaca kulihat ia menaiki tangga, entah ia menuju ke mana, karena yang kutahu lantai 8 hanyalah ballroom yang jarang sekali terisi oleh orang kecuali cleaning service, sedangkan lantai 9 sendiri baru di bangun.

Hari kedua aku melihat ia di kantor ini, ia jarang sekali bergaul dengan rekan yang lain.  Terdengar suara mengejutkan dari meja tengah “Haiii!!! Ini buat tahun ini, guys. Di habisin ya...” teriak Farah, karyawan ter-modis di ruangan staff berulang tahun. Ia membawa pizza yang di tempatkan di meja pengisian tinta dengan diwarnai ucapan “makasih Far, happy birthday ya!” dari karyawan yang lain. Tak mau ketinggalan, aku pun juga mengucapkan selamat kepadanya dan mengambil se-slice pizza.
Seolah ia tak terdengar, anak baru itu menghiraukan teriakan kami, menatap layar komputer-nya dan terpaku di bangku nomer 12.

Rabu, Kamis, dan akhirnya masuk hari Jumat. Thanks, God, It’s Friday, kira-kira seperti itu Trending Topic twitter. Memasuki akhir pekan, pekerjaan selalu bertambah banysk. Tapi harus semangat. Things will get better soon, jika kuingat kata Arry setiap pagi saat ia masih ada, sejenak memacu semangatku.

Sebelum salat Jumat, seseorang berbadan bundar dan rambut botak masuk ke ruangan. Itu bos-ku, pak Thomas. Membawa seamplop berkas, ia jalan cepat menuju akhir ruangan, ia mengarah ke anak baru itu.
“Bisa kerja ngga sih?!” Thomas membanting berkas itu di meja anak baru. Kami se ruangan staff tersentak kaget.

“Rasio salah semua!” lanjut Thomas “Bisa pakai Excel ngga?! Huh?! Kalau di hitung sendiri pakai Words sampai mati ya ngga bisa benar! Kamu ini gimana sih?”

Anak baru itu menundukan wajahnya bak mengheningkan cipta. Masih kata Thomas, “Kalau ngga gara-gara mamimu itu kakak-ku aku ngga akan terima kamu di sini!” si anak baru mulai meneteskan air mata

“Sekarang hapus itu semua, tulis lagi, balik ke saya harus udah benar!”

Tersendak-sendak anak baru itu “Paham?! Tanya Thomas.
“Paham pak” jawabnya

Waktu sepertinya berlari dengan cepat, sudah jam 4 sore. Orang staff sudah mulai meninggalkan ruangan. Minggu ini aku membawa kunci, semua sudah keluar ruangan, tinggal si kurus jenjang itu. Ia masih kebingungan mencari sesuatu.
“Neng, udah sore. Di lanjut besok aja.” Perintahku.

“Iya, sebentar.” Jawabnya.

Aku bersender di pintu, memainkan handphoneku, sudah lima menit aku menunggu.
Tak sabar, aku mencoba meyakininya “Ada yang bisa di bantu mungkin, neng?”

Ia masih mengetik, “Cuma nyari flashdisk, pak.”

“Pakai flashdiskku aja.” Menghampirinya, kuberikan flashdiskku.

“Makasih.” Jawabnya sambil tersenyum.

Setelah ia memindahkan filenya, setelah ia keluar ruangan, setelah aku mengunci ruang staff, aku turun tangga, menuju parkiran.

Lelah sekali hari ini, belum nanti macet di jalan, untung saja besok libur. Kutarik gigi satu mobilku, dari kaca belakang terdengan suara rentetan ketukan kaca dengan kuku berturut-turut. Sontak aku menginjak rem, berdebar jantungku, kulihat dari spion, itu perempuan memakai jaket kulit ketat. Oh, ia yang menyewa flashdiskku. Ia menghampiriku, kubuka jendela mobil
“Bikin kaget, neng. Ada apa?”

“Nih..” ia menyerahkan flashdiskku “makasih Rez.” Ia tersenyum, kembali ke belakang
“Eh tunggu, tunggu!” panggilku.

“ada yang bisa di bantu?” ia membuka kaca helmnya

“Kok tahu nama saya?” tanyaku penasaran

“Haha ya tahu lah.” Jawabnya cool.

“Kamu Maria, kan?”

“Sok kenal banget manggil saya Maria.” Ia menjawab dengan sinis. Raut wajahku ku-ubah jadi runyam. “Hahaha, bercanda. Panggil aja saya Elfi.” Tiba-tiba ia berkata. “Duluan ya.”

Sabtu pagi ditemani secangkir kopi, seperti bulan kemarin, Ibu arisan di perkumpulan wanita usia lanjut. Di kamar aku hanya bermain game online dan bergurau dengan Winter. Semakin tua, ada saja masalah dalam hidup ini, keluhku. Entah kenapa dari dulu aku jarang dekat dengan Ibu, benar beliau yang melahirkanku, tapi hingga aku sebesar saat ini, aku tidak lepas dari ajaran Ayah. Mulai dari salat, mengaji, bekerja keras, semua Ayah yang mengetoskannya kepadaku. Terus ku scroll timeline Path yang berisi teman-temanku dan kekasihnya saling merayakan valentine kemarin. Ih, coba ada Arry. Winter tidur di sebelahku, nampak galau. Mungkin ia sedih belum bisa bertemu anjing baru tetangga.

Istirahat jam makan siang kantor! Aku membawa sandwich buatanku sendiri. Semua orang keluar ruangan, aku sendiri di ruangan bersama Elfi. Ia hanya bermain dengan iPadnya. Tak lama, ia keluar “Pak Reza, istirahat dulu ya...” pamitnya, ia menuju bagian atas kantor. 


Jam istirahat masih setengah jam, bingung aku harus apa, agaknya aku penasaran sama apa yang dialkukan Elfi di atas. Aku coba naik ke atas sana dengan perlahan. Kubuka pintu kaca yang membawa langsung pada ruangan luas yang masih dibenahi itu kosong. Ke mana Elfi? Di pojok utara, ada tangga memutar lagi, menuju paling atas. Menaiki anak tangga memutar itu satu demi satu, seseorang berbaju hitam menghadap ke bawah.

Kuhampiri Elfi, kupastikan aku tidak mengagetinya, bisa-bisa ia tersentak dan  jatuh, bisa apalah aku.
“Menurutku ini belum cukup tinggi.” Kataku kepadanya.

Ia menoleh kearahku “hahaha.. gue juga”

“Lagi apa di atas sini?” tanyaku.

“Entah. Gue selalu suka rooftop, anginnya kenceng, sepi, bisa lihat matahari, ngga ada sinyal jadi bos ngga bisa telepon gue.” Jelasnya.

“Tapi ini bukan Avengers, ngga ada Hulk buat nolong kamu kalau kamu jatuh.”

“Jadi lo berharap gue jatuh?”

“Lompat!!!” teriak anak kecil di bawah gang kecil.

“Ogah!” jawab Elfi, seperti mereka sudah saling kenal. “Hahaha” Elfi tertawa kecil “gue suka tinggal di Jakarta.” Lanjut tuturnya.

“Aku juga.” jawabku polos, aku melihat ke jalan raya yang padat mobil.

“Lo orang asli Jakarta kan? Kenapa manggil gue pakai ‘kamu’?” tanyanya kembali.

“Perasaan yang mulai dulu kamu deh, kemarin manggil aku pakai ‘Pak’, sekarang udah manggil kaya temen sendiri.”

“Really? Tapi kemarin kan di kantor, formalitas lah.”

“Jadi menurutmu kita sekarang di pasar?”

“Hahaha..” ia terbahak.

“How?” tanyaku.

“How what?”

“Gimana rasanya punya tinggi segitu?”

“177cm? Actually, hmm, biasa aja sih.”

“You’re such a monster.”

“And you’re dwarf.”

“I’m not dwarf,  i’m a hobbit”

“Then I’m a Elf.”

Aku memandanginya penuh heran, wanita ini seperti naik egrang. Gaya berbicara ceplas-ceplosnya mirip seperti.. Duh.. harus ku sebut lagi, Arry.

“Jangan mandangin gue kaya gitu, gue tahu kalau gue cantik.” Ia berkata dengan mukanya bercanda.

“Susah kalau bilang lo ngga cantik.”

“Jadi lo ngakuin?”

“Cantik sih, tapi lo-nya ngaku. Ngga jadi deh.”

“Ah, sial, lain kali gue ngga ngaku. Main game yok, mau ngga?” ajaknya

“Game apa? Gue sukanya game online gimana dong?”

“Truth or dare.”

“Yok, lo duluan” ajakku.

“Truth or dare?” ia bertanya.

“Truth.” Jawabku

“Lo single?”

“Iya.”

“Dasar virgin. Tapi bekas cincin di jari manis lo itu?”

Kulirik tangan kiriku sejenak. Lagi lagi selalu ada yang membuatku terignat pada Arry.

“Gue udah married. Dia udah ngga ada.”

“Siapa namanya?” tanya ia sambil memincingkan mata.

“Itu udah pertanyaan ke dua.”

“Itu bagian ke dua.”

“Arry. Dia pergi satu setengah bulan setelah kami nikah. Truth or dare?” balikku memulai game itu.

“Dare.”

“Buang salah satu barang lo ke bawah.”

“Like seriously?” ia mengeluarkan iPhonenya. Melepas casing pinggirannya yang berwarna pink. Melemparkan begitu saja ke bawah tanpa ada rasa penyesalan.”

“Ngga ada yang lebih murah?” tanyaku.

“Itu yang paling murah. Dari mantan gue. Truth or dare?”

“Truth.”

“Truth lagi?” tanyanya.

“Rahasia selalu menarik, kan?” jawabku pula.

Ia mencerna kata yang akan ia ucapkan dengan mengangkat tangannya ke dagu. “Jum’at kemarin pas gue masih garap tugas, lo bisa aja tinggalin gue dan pergi gitu aja. Tapi malah nungguin gue terus bantu gue. Maksud lo apa?” raut wajahnya mengancam ketika berbicara, seakan ia akan melemparku dari lantai 9 jika aku tak menjawabnya.

Dengan tegas kujelaskan “Lo ngga tahu gimana reaksi laki normal kalau lihat cewe cakep? Dasar virgin.” Aku meninggalkannya balik.

Kulihat ia masih duduk di pojok dan tersenyum sendiri.

Melanjutkan rutinitas sehari-hari, menghitung tagihan nasabah. Rasanya di zaman yang kian maju ini aku tak tahu bekerja untuk siapa. Tak ada rasa bangga jika aku menerima setiap bulan gajiku. Keluh kesahku seakan tak mau hilang. Sepertinya ada yang kurang dari diriku namun apa? Rasanya hidupku gelisah. Tak tahu kemana arah tujuan hidup ini. Kurenungi sejenak cangkir kopi bekas tadi pagi yang masih di mejaku.

Dari jarak beberapa meter dari ruanganku yang dibatasi kaca, kulihat wanita berkerudung menbawa rantang stainless. Ia menghampiri rekan kerjaku di front office, ternyata itu istri Kris. Kris akan menikah dua bulan lagi. Dengan mesra perempuan berhijab itu kulihat membuka rantangnya satu persatu, betapa mesranya jika kuperhatikan lagat Kris sangat bangga mempunyai calon istri perhatian sepertia dia. Lalu istinya pamit, Kris mengecup dahi calon istrinya itu. Semakin ke sini aku semakin sadar, aku hanya butuh tujuan dalam hidupku, aku butuh seseorang untuk dijadikan tujuan hidup. Aku tahu, mungkin Arry itu masa lalu yang indah, tapi aku tidak boleh tenggelam dalam masa lalu itu. Ada kalanya masa lalu itu seperti baju tidur, jika terlanjur nyaman, penuh lubang pun seseorang akan sulit meninggalkannya.

“Pak Rez!” panggilan Doni membuyarkan lamunan panjangku “Lihatin apa sih sampai dipanggil ngga denger gitu?” lanjutnya “dipanggil Elfi tuh dari tadi!”

“Eh? Terus Elfinya mana?” kulihat mejanya kosong.

“Di sini, pak.” Dari sampingku seseorang tiba-tiba muncul. Sontak jantungku berdebar mengetahui ada seseorang di sebelahku.

“Ya ampun, Elf. Mau apa?” tanyaku.

“Password mesin fotokopinya apa?” tanyanya memelas, karena  ku abaikan dari tadi.

Di musim hujan seperti ini ternyata pikiran mengajak berwisata ke masa lalu, saat aku dan sahabatku SMP, Sabrina, saat pertama kali bertemu. Kami bagai anak manusia yang baru mengenal dunia. Beberapa tahun kami lewati bersama sampai ke jenjang SMA. Suatu ketika, salah satu dari kami mengutarakan perasaannya. Ia ingin kami menjadi lebih dari sekedar teman. Tapi hubungan itu hanya berlangsung beberapa bulan hingga kelulusan ia melanjutkan studi di Perancis. Untuk beberapa hal, masa lalu memang selalu indah untuk dikenang.

Jam tepat menunjukan pukul 4 sore. Di luar langit masih mencairkan gusaran awan menjadi butir-butir air yang sangat deras. Kulihat office boy sudah siap-siap mengenakan jas hujan untuk menerobos menggunakan sepeda motornya. Tapi dari tadi aku belum melihat Elfi absen di fingerprint kantor. Mungkin dia di atas, kuhampirinya untuk meyakinkan kantor lantai 7 benar-benar sudah pulang semua.

Sampai di lantai sembilan, wanita bertubuh jenjang memakai jaket kulit ketat masih menghadap utara melihat hembusan angin disertai air yang kencang dengan asap yang entah datangnya dari mana.
“Seriously?! Tinggal lompat aja ngga susah kok, Elf!” bentakku dari belakang.

“Hahaha..” ia menghisap rokoknya untuk terakhir kali, lalu membuangnya. “Ketahuan deh kalau gue ngerokok.”

“Santai, yang tahu cuma gue kok.”

“Hmm.. Ngga ilfeel kan?”

“Yang gue tahu cewe asik itu ngerokok. Ngga pulang lo?” tanyaku.

“Ngga bawa jas hujan.”

“Lo bawa motor? Emang lo parkir di mana sih?”

“Di warung Pak Slamet, cuma 3 Ribu. Main Truth or Dare lagi mau?” ajaknya

“Go ahead.”

“Kalau Arry masih ada, lebih cantik mana dia sama gue?”

“Cantik semua lah.” Jawabku canggung “Kan semua cewe emang ditakdirin cantik. Truth or dare?” ajakku balik.

“Truth.”

“Lo udah nikah?”

“Nikah? Hahaha.. Bahkan kepikiran aja ngga. Gue belum mau nikah sebelum gue sukses.”

“Padahal umur lo?”

“30 tahun Mei ini. Santai lah. Truth or Dare?” ia kembali memainkannya.

“Truth.” Jawabku

“Truth or Dare?” seakan ia memaksaku untuk memilih Dare

“Truth.” Jawabku lagi

“No.. Dare or Truth?” ia menjebak.

Kuambil nafas panjang “Okay, Dare.”

“Kiss me.” Ia memerintahkan.

“What?”

“Gue tahu, lo pasti mau. Ngga ada orang, pas hujan lagi.” ia mencoba menggoda. Membuatku menelan ludah di ujung amandel ku.

Memastikan tangannya tak membawa apa-apa, ku grabah tangannya, menciumnya tangannya dengan cepat. “Tuh, lo ngga bilang harus di cium di mana kan?”

“Pinter ya lo.. Ahaha. Arry pasti itu pasti cantik.”

“Kok lo tahu?”

“Cuma cewe cantik yang bisa dapet cowo pinter.”

“Tapi ninggalin gue.” Kalimat terakhirku membisukan suara kami. Kami saling menatap tanpa berkata.

“Kan semua udah di atur Tuhan. Tugas lo tinggal cari yang lain terus bahagia. Kalau lo bahagia, gue yakin dari jarak 1.609.344 kilometer dari surga Arry pasti juga bahagia.” Elfi menepuk pundakku.

“Lah, panjang bener? Hahaha. Eh rumah lo di mana? Gue anterin yuk.”

“Deket dari sini, boleh deh.”

Mungkin cinta itu seperti hujan di sore hari. Tak henti-hentinya memberi indah. Tak memperhitungkan segalanya yang di renggut. Elfi memindahkan Ninja-nya ke parkiran kantor. Senja nampak sekilas indahnya mirip saat Arry tersenyum. Kupacu mobilku, ternyata hujan berhenti saat kami setengah perjalanan. Ban kiriku terpaksa memutar dengan aneh. Tampaknya ada yang salah.
 Mencoba melihat ban tersebut, paku sepanjang 3 centi menancap di pinggir banku. Sial. Aku terpaksa mengganti saat hari mulai petang.

“Gembos, Rez?” tanya Elfi.

“Iya. Banjir tadi deh kayanya.”

Elfi turun, turut menemaniku mengganti ban. Kulepas kunci ban dengan alat berbentuk silang,

“Eh, eh mau apa lo?!” Elfi bertanya dengannada membentak.”

“Ngelepas ini lah.”

“Lo gila ya? Di dongkrak dulu lah.” Elfi mencari dongkrak di jok belakang. Memasang dongkrak di bawah mobil, mengangkatnya perlahan “Lo belum pernah ganti ban ya?”

“Sok tahu.” Hindarku

“Tahu lah, tangan alus kaya lo mana pernah ganti ban.” ia mulai melepas kunci ban satu persatu “ambilin ban  serepnya”. Kami megganti ban selama 15 menit, Elfi yang mayoritas bekerja mengganti ban. Aku seperti pecundang kehilangan jati diri.

“Hufftt.. sorry ya udah nerepotin lo.” Aku meminta maaf ke Elfi.

“Santai aja lagi.. anggep aja upah nganterin gue.” Ia bercanda.

“Laper ngga?” tanyaku

“Ngga.” katanya

“Gue yang bayarin deh.”

“Iya deh, laper.. Hahaha.”

Di restaurant Jepang ke luar tol kami mengisi perut, lampu-lampu menyala merah membara di taman tampak menerangkan suasana. Tak seberapa ramai, tapi cukup untuk membuat kami tak merasa sepi. Aku tak seberapa lapar, aku hanya memesan paket katsu. Elfi memesan katsu dan nasi.

“Lo ngapain ngga pesen nasi Rez?”

“Biar kita ngga kelihatan kaya ngedate.” Kualihkan pandanganku darinya. Kulihat kembali Elfi yang cemberut menatapku. “Hahaha.. bercanda. Gue diet. Lagian gue udah pernah makan semua makanan di sini, ini restaurant favorit gue.”

“Favorit lo? Udah berapa cewe yang lo ajak ke sini?” tanyanya

“Kalau gue jawab puluhan lo mau apa?”

“Ngga mungkin, lo kan cupu soal asmara, ngga kaya gue. Keliatan dari muka lo.”

“Tapi muka lo ngga kelihatan kalau lo hebat soal asmara, oh iya lo kan sipit.”

“Lo belum jawab pertanyaan gue. Berapa cewe?”

“Satu doang, tapi sering banget.

“Biar gue tebak. Arry, kan?”

Entah kenapa setahun ini aku selalu suka menceritakan Arry dan aku ke orang lain. Pernikahan kami memang masih tunas di dalam musim berbunga kami yang ribuan hari. Dari Aceh, mengikuti jejakku ke manapun aku pergi. Jika seseorang menanyakan aku, aku akan menceritakan separuhnya, karena separuh hidupku bersama Arry.

Satu jam aku habiskan waktuku di sini bersama Elfi, sekedar menukar Pin, saling follow di Path, dan mengobrol tentang masa lalunya. Keluarganya pindah ke Balikpapan saat ia berumur11 tahun, ia tinggal bersama kakeknya sendiri, namun setelah kakeknya tiada, ia bisa mengurus dirinya sendiri di Jakarta. Ia mengambil Hukum di Bandung dengan nilai tertinggi.

“Oh, jadi lo panggil dia Khaleesi? Terus kenapa lo ngga pernah ceritain rasa rindu lo itu ke ibu? Beliau kan satu-satunya orang yang lo punya..” tanya Elfi di mobil.

“Hahaha.. romantis kan. Hmm.. entahlah, gue rasa ibu belum peka kalau gue masih tertekan soal Arry. Lagian dia juga udah lupa kalau gue pernah nikah.”

“Hah?!”

Handphoneku berdering, foto Ibu menjadi layar belakang tampilannya. Mengangkatnya.

“Rez? Kamu di mana?”

“Nganterin temen, bu. Kenapa?”

“Ibu di kantor polisi.”

“Lah ngapain, bu?”

“Ibu di tahan nak.”

Deg. Jantungku berhenti beberapa sekon seketika. “Di kantor polisi mana sekarang Ibu? Aku ke sana sekarang” Ibu yang nafasnya tersentak-sentak menjelaskan kasus perkaranya. Gelisah rasanya tak berhenti-henti mengikuti

“Ngapain nyokap lo di kantor polisi Rez?” tanya Elfi.

“Di tahan, Elf. Penggelapan uang.”

“Lah? Yaudah gue turun sini aja. Lo harus ke sana kan?”

“Ngga, gue anterin ngga apa kok.”

Sampai di kediaman Elfi, Rumah sederhana dengan halaman kecil di depannya. Aman, terang, tak ada satupun mobil yang lewat di sini. Jam menunjukan pukul 7. Aku harus segera menemui Ibu.

“Makasih Rez.”

“Sama-sama. Besok gue jemput ya?”

“Ngga usah, ngapain.”

“Lo lupa ya kenapa gue anter? Motor lo kan di kantor.”

“Oh iya” ia menepuk jidatnya “Yaudah deh, tapi jangan dipaksain, gue bisa naik taksi kok.”

“Ah, cum loude tapi dikit-dikit lupa. Yaudah, balik dulu Elf.”

“Wait. Kalau nyokap lo butuh pengacara, gue bisa kok.”

“Lihat nanti dulu aja. Lagian gue ngga sanggup bayar pengacara lulusan cum loude.”

Di kantor polisi berbaris bermacam-macam orang dengan pekerjaannya maisng-masing. Sudah jam 8 tapi masih ramai di sini. Kutemui Ibu yang berada di ruang interogasi.
“Ibu juga lupa nak”

“Terus ibu ke mana pas duit itu di pakai?”

“Oh iya, Rez. Di mall kemarin sabtu, Rez. Ibu lihat ada berlian bagus banget. Ibu pengin beli.” Ia menjelaskan panjang lebar masalahnya.

Sudah tua, masih aja pengin ini itu, pikirku “Kenapa ngga minta Eza, sih, bu? Daripada urusannya panjang gini.”

“Ibu kasihan sama kamu nak, ibu minta maaf ya.” Beliau memohon.

Kupasang raut muram wajahku “Yaudah, aku tadi udah dikasih keringanan karena usia lanjut Ibu. Kita pulang sekarang, lusa sidang. Aku ijin besok di kantor kalau lusa ngga masuk.”

Entah apa yang bisa kuperbuat. Mau marah, tapi itu seorang yang melahirkanku. Tak marahpun sikapnya sudah keterlaluan. Selama tak ada Ayah, Ibu seakan kehilangan siapa beliau sebenarnya. Tingkahnya tak karuan. Lilin nyalanya tak sama ketika ia sudah ‘tua’, mungkin ibu halnya seperti itu.

Di malam sehabis menjemput Ibu, aku tergeletak di kasur. Sejumlah kenanganku meliuk di ujung waktu, saat aku kecil, seakan semua tak ada masalah. Rindu yang paling tak bisa diobati adalah rindu suasana, tak peduli berapa kali bumi perputar, aku tak akan pernah mendapat kenangan yang sama.

Ting! Suara WhatsAp di iPhoneku.
Maria ‘elfi’ di tray pesan, ia menulis.

“Gimana, boy? Butuh gue ngga?” tulisnya.

Kubalas cepat “lusa, elf. Kalau lo ngantor ya ngga usah lah.”

“bisa kok, yaudah, lo izinin gue ke bos, ya. Lo jangan lupa tidur, ntar mati :))”

Sial, orang ini sempatnya bercanda.

Tepat di hari Ibu di sidang. Langkah pertama yang diambil hakim adalah memanggil penuduh untuk ditanyai olh pengacaranya sendiri.

“Ibu Rita, benarkah itu Anda? Tanggal 15 Februari anda bertemu Ibu Annisa, saya tegaskan, apa itu benar?”

“Benar.” Rita menjawab.

Elfi keluar dari bilik bangkunya “Ibu Rita. Apa  anda sadar saat anda kehilangan uang dengan nominal 15 juta rupiah tersebut?” tanya Elfi tegas.

“Keberatan” pengacara Rita menyahut “Pertanyaan agresif, menyebut nominal”

“Ditolak. Lanjutkan saudara Elfi.” Hakim berkata.

“Ya. Ketika saya bertemu dengan Ibu Nisa.”

“Berapa tepatnya pendapatan anda per bulan?” tanya kembali Elfi.

“Keberatan. Menyangkut urusan pribadi.”

“Ditolak, lanjut menjawab.” Hakim memutuskan

“Suami saya per bulan UMR.” Jawab Rita

“Lalu dari mana anda mendapatkan uang dengan nominal segitu?”

Rita kebingungan menjawab, ia bicara dengan muka gelisah “Tabungan untuk anak saya.”

“Tidak ada pertanyaan lagi.” Elfi memutuskan.

Hakim memanggil Ibu, datang ibu dengan mimik wajah bersalahnya di depan sidang. Hakim memanggil Elfi untuk mempersilakan memasuki sidang dan mengajukan pertanyaan.

“Benar Anak anda bernama Reza?” pertanyaan pertama Elfi membatku gugup.

“Benar.”

“Ibu tahu umur anak anda sekarang?”

“Kurang lebih 25 tahun, saya lupa tepatnya.”

“Langsung saya menuju ke permasalahan, seminggu lalu, anda membawa uang Ibu Rita. Tahu ke mana uang itu?”

“Saya lupa.”

Ibu tak menceritakan sebenarnya, pandai sekali ibu bermain adegan seperti ini? Pikirku.

“Saya memanggil saksi, saudara Reza ke depan.”

“Dipersilakan.” Tegas hakim di depan pengadilan

Tak kusangka yang dilakukan Elfi. Aku maju ke depan, melihat semua yang berasa tegang membuatku ingin pulang.

“Benar umur anda 25 tahun?” tanya Elfi.

“29 tahun tepatnya.” Kujawab bergemetar

“Kapan Ibu anda terakhir kali pengecekan medis?”

“Bulan lalu” jawabku “kemoterapi kanker tulang, sudah 3 kali dari tahun lalu.”

“Apa kata dokter efek samping kemoterapi tersebut?”

“Pengecilan memori ingatan, pelemahan ke lima indra, kurang lebih seperti itu.”

“Apa anda sudah menikah?”

“Sudah, istri saya meninggal tahun lalu.”

“Saya selesai dengan anda. Saya persilakan balik ke tempat anda.” Utus Elfi “saya ambil alih Ibu Annisa dari sini. Saya tanya tiga beberapa pertanyaan lagi.”
“Anda sayang dengan anak anda” lanjut Elfi menanyai beliau

“Ya. Saya sayang dia.” Jawab Ibu

“Siapa nama mantan Istri anak anda?”

Ibu berpikir panjang sambil memejamkan mata, tamoak bingung.

“Saya tanya sekali lagi, siapa nama istri anak anda.” Tanya lagi Elfi.

“Maaf saya blank.

“Saya akan mengulang pertanyaan yang tadi pada Ibu Annisa. Kemana uang Ibu Rita yang bernominal 15 juta rupiah?” lama Ibu berpikir, Elfi tak mengkhayal Ibu lupa, karena kemo dari tiga bulan lalu. “saya undur diri dari sini. Pertanyaan selesai.” Elfi memasang muka sombongnya dan kembali ke tempat duduknya.”

Hakim memanggil pengacara Rita untuk bertanya.

Pengacara itu mengajukan pertanyaan. “Berapa lama anda tepatnya sudah mengenal Ibu Rita?”

“Lima tahun.”

“Ibu sudah mengenal beliau dekat?”

“Kami sering berbicara saat arisan. Kami cukup dekat, kami bersama-sama hampir setiap bulan.”

“Lalu benarkah jika anda berdua dekat, tetapi ibu malah membawa uang Ibu Rita tanpa alasan yang jelas?”

Ibu terengah dengan pertanyaan akhir itu. Tak berdaya, ibu tak menjawab.

“Sudah selesai pertanyaan saya.” Jelas pengacara Rita.

“Rita punya hutang ke saya cukup besar!” tiba-tiba Ibu berteriak.

Pengacara Rita berbalik menoleh ke Ibu, kemudian ia bertanya “Maaf, apakah anda ingin menagih hutang tersebut?”

“Keberatan! Dia sudah berkata untuk menghentikan pertanyaan!” Tentang Elfi, wajahnya tegas tak bersenyum sedikitpun.

“Lanjutkan.” Kata hakim.

“Dua bulan lalu Rita hutang ke saya sebesar sepuluh juta rupiah. Ketika saya menagih dengan jumlah tersebut, Rita tidak mau bertanggung jawab karena alasan ia ditipu oleh orang lain. Saya memang berniat kembali mengambil uang Rita dari uang cash koperasi kami.”

Seluruh sanksi ramai berteriak di bangku masing-masing. Tak lama setelah itu hakim memutuskan untuk menyudahi itu. Hari Minggu ini menjadi penentuan yang langsung untuk Ibu.

Esok hari di rooftop sepulang kantor, hujan mewarnai langit yang mulai menggelap. Elfi dan aku dan  menghabiskan kopi berdua.
“Asli lo gila banget kemarin. Dari mana tahu kalau dia punya penyakit?” aku bertanya

“Lo bilang kan bahkan beliau aja lupa kalau lo udah nikah. So, gue melek semaleman buat mikirin itu semua.”

“Soal konrak lo...”

“Gampang lah, anggep aja gue hobi main ini.”

“Ngga bisa gitu dong..”

Nada dering handphone Elfi memutus pembicaraanku. Ia mengangkatnya. Ia mengobrol kecil lewat iPhonenya itu. Kemudian ia menutupnya.

“Siapa?” tanyaku.

“Fahmi. Gue di ajak dinner.”

“Gue anterin aja.” Ajakku

“Yaudah.”

Sampai di restaurant self-service. Ia pamit kepadaku. Ia turun dengan sepatunya yang di jinjing, kemejanya yang pressbody basah terguyur rintikan hujan selagi ia melintasi jalan ke pintu masuk restauran itu.
Fahmi adalah temannya sewaktu SMA. Sekarang ia menjadi pengusaha, betapa beruntungnya Elfi memilikinya. Kenapa aku jadi memikirkan Elfi? Ah, aku harus fokus dengan Ibu dulu.

Minggu, 24 Februari, 2013. Sidang yang sebenarnya. Di balkon depan pengadilan, kulihat Elfi berdiri di dekat selokan. Memegangi dadanya dan menghadap ke bawah. Aku pikir tak apa, mungkin ia butuh kopi pagi, aku masuk duluan. Tak lama, Elfi menyusul datang ke bilik bangkuku, seketika memegang tanganku erat, berharap yang terbaik buat kami.
24 saksi telah menegakkan keputusannya, ruang pengadilan tampak seperti upacara pemakaman, tegang, tak bersuara.
Kekritisan hanya berbunyi jika seluruh aungan telah berhenti, 16 orang menyatakan bersalah. Dengan kata lain, Ibu kalah. Hakim mengetukkan palunya untuk kali yang ke 3. Sah, Ibu masuk hotel prodeo. Selama 5 bulan, karena beliau sudah usia lanjut.

Memasuki Senin yang sunyi, tak ada yang memasak dadar jagung. Kuambil cutiku yang pertama kali untuk tahun ini, bukannya tak profesional, tapi bukankah setiap manusia butuh waktu?

Jam 8 pagi. Ding, bel berbunyi. Kubukakan pintu terasnya. Melihat orang itu aku butuh menengadahkan kepalaku sedikit ke atas. Itu Elfi.
“Ngga kerja lo?” tanyaku.

“Banjir, bego. Gedung kita di tutup.  Sia-sia lo cuti. Gue boleh masuk?”

Setelah kuijinkan masuk, secara sengaja ia menerkamku dengan kedua tangannya. Ia memelukku dengan erat. Aku tak mau bertanya buat apa pelukan ini, ku balas pelukannya dengan memutarkan tanganku ke pinggulnya yang mungil.

“Rez,...” air matanya mengalir dari pipinya.

“Elf? Kok nangis?” tanyaku

“Gue hamil.”

Terdiam, tak mengerti apa yang harus kukatakan. Kupeluk kembali dirinya, kupastikan kali ini aku menenangkannya. Tak punya keluarga, tak punya teman dekat, hanya punya kekasih yang tak bertanggung jawab.

Kuajak ia keluar di taman komplek dekat rumahku. Kami duduk di bangku panjang kayu. Sambil kurankul pundaknya. Di sini hanya sekedar berbagi cerita pahit masing-masing.
“Jadi, Elf.. siapa Ayahnya?”

“Fahmi, Rez. Malam itu kita ketemu di pesta ultah teman gue, sehari setelah gue pinjem flashdisk lo . Di bawah sadar gue, pas gue lagi tinggi, dia ajak gue ke apartemennya. Terus, seminggu ini gue mual-mual, gue baru sadar kalau gue ngelakuin. Gue kemarin minta tanggung jawab dia. Dianya ngga bisa dihubungin. ”

Aku mengusap rambutnya yang panjang dan berkata
“Boleh gue jadi walinya?”

“Lo ngga harus tanggung jawab penuh, Rez. Ini salah gue.”

“Gue tahu banget ini ngga pantes,  tapi gue terpikat cara lo melihat hidup dari suatu pandang yang berbeda. Boleh gue nemenin lo selama lo mengandung bayi ini?”

Ia tersenyum manja, menyenderkan kepalanya di bahuku. Pertama kalinya aku melihat senyumnya yang tulus.
“Boleh, Rez.” Ia mencium pipiku.

Kupanjatkan doa setiap malam untuk kami semua. Untuk Ayah, Arry, Ibu yang di sel, dan Elfi yang berjuang. Tuhan tak akan membawa aku sejauh ini hanya untuk meninggalkanku. 



Credits:
Story and scene  Inspired by "Birdman", "The Judge
Some sentence copying from "Adimas Imanuel's tweet
Photo 1: took from random girl on Auto 2000
Photo 2: took from "Love, Rosie"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar