Rabu, 01 April 2015

CERPEN: Nightmare (18+!!!)



Ketika Realita Lebih Indah Dari Mimpi


Kuterjaga oleh siulan merdu di ruangan sebelah, tepat jam 2 dini hari. Aku bagaikan Zombie yang habis memakan korban. Entah apa yang aku harus lakukan sedini ini. Kugerakkan seluruh tubuhku untuk sepenuhnya keluar dari kasur yang nyaman. Sinar lampu kuning ruang sebelah merajam mataku yang masih belum terbiasa terbebani oleh uparan sinar itu. Kulihat wanita jenjang memakai tank-top putih dan celana panjang tersedu memainkan biolanya setelah melihatku. Ia melepaskan dagu dari biolanya untuk menyapaku
“Kok bangun?” ia tersenyum manis “Maaf ya udah buat kamu bangun.”


Berlalunya waktu membuat kami terasa nyaman. Begitulah yang kami alami selama 6 bulan terakhir.
Karier Elfi belum berakhir, ia masih punya banyak cerita yang akan ia tulis di kehidupannya dan jalannya sendiri untuk di gapai. Sementara perutnya sudah semakin membesar.
Kutelan dan kutanggung sendiri rasa malu Elfi seperti janjiku, ia sudah banyak membantu Ibu. Bukankah jika sedang berada di atas, kita diharuskan jangan lupa menjenguk yang di bawah?

Sejak pagi pertama bulan Februari lalu, kami semakin bagai tanah sehabis dibanjiri lahar panas, tumbuh berbunga-bunga. Kami sering menghabiskan waktu kami di kantor bersama-sama, kami juga sering menghabiskan waktu kami via suara dan pesan instan, kami juga sering bersantap malam bersama di luar. Dan akhir-akhir ini, menonton setiap minggu menjadi prioritas wajib bagi kami. Bukan kekasih, lebih dari sahabat, itulah kami. Tak mau meminta apa-apa darinya, yang ada di pikiranku hanya “ya sudah, jalani saja.”

Seperti tanaman buah anggur, rasa senang menghabiskan waktu bersama itu merambat semakin lebar. Tak jarang orang memanggilnya cinta. Ia datang kapan saja. Kekosongan hari tak terasa jika berada yang setia menemani. Juga, karena ia adalah pribadi yang riang, aku terkagum pada sosoknya yang melihat dunia dari sisi yang berbeda.

Hari-hari kami menjadi penuh kasih, itu mungkin karena keyakinan kami yang berbeda.
Aku yang mewirit tasbih di setiap maghrib, ia yang berlutut di bawah salib setiap malam.
Aku yang menggesek sandalku setiap Jumat siang ke masjid, ia yang berpakaian rapih ke gereja setiap Minggu. Kami sama-sama saling mengingatkan sebelum kami berangkat masing-masing ke rumah ibadah kami.
Kami berdua bagai contoh toleransi antar agama di Indonesia.

Hingga suatu ketika, ia menanyakan hal yang tak aku inginkan. Sambil menunggu di foodcourt untuk film yang akan kami tonton, The Wolverine
“Rez? Boleh nanya?” tanyanya ia sambil meminum frappucinonya

“Nanya mulu hobimu. Oke deh apaan?”

“Sampai kapan kamu bikin aku ngerasa nyaman kaya gini?”

Diam sejenak, tak memperhatikannya selama beberapa detik pertanyaan itu membuatku sedikit gugup.
 “Emang ngerasa nyaman?” balikku bertanya

“Bayi ini butuh ayah, Rez. Lo deketin gue terus, gue ngga ada kesempatan untuk menghindar dari lo sementara lo belum siap jadi ayah.” Ia berkata sambil merunduk merasa bersalah “juga..” imbuhnya “..kita tahu kita ngga mungkin sama-sama sampai tua. Dari kecil gue diajarin untuk berperan dengan keyakinan gue saat ini. Gue ngga mungkin mengkhianati ini.”
matanya menyorotku tajam, seakan aku adalah tersangka tindak pidana yang siap diberikan hukuman.

Hidup memang terkadang menyimpan misterinya sendiri, kita adalah satu-satunya pemeran yang harus menemukan itu, ku genggam tangannya. “Gue janji akan mengurus bayi itu, Elf. Sampai dia sudah cukup mengerti dunia, dia akan paham.” Kutegakkan badanku dengan maksud meyakinkan Elfi dengan omong kosongku itu “Atau kalau perlu,..”

“Kalau perlu apaan, Rez?” Elfi mengepalkan tangannya, berdebar.

“Kalau perlu kita jadiin bayi itu anak kita.” Apa?! Maksud lo gue nikah sama elo, gitu Rez? Nggak sudi! Sekiranya itu adalah imajiku membayangkan reaksi Elfi saat ia mendengarkan kalimat terakhirku.

“Kalau lo ngga keberatan, gue juga akan belajar memahami elo, kok, Rez. Kita bisa belajar memahami sama-sama. Perbedaan itu... biarlah Tuhan yang mengatur” tutur Elfi dengan senyum setengah miringnya. Aku bagaikan anak burung setengah terbang yang siap untuk diterkam elang. Apa yang aku katakan barusan?

Hari Jumat setelah itu, aku yang masih tergeletak di kasurku dikagetkan dengan bunyi nada suara khas Line “ting-tong!” avatar akun di tray yang kubuka mengingatkanku sosok perempuan berparas bule, nama line tersebut adalah Sabrina Mesa Rahmawanti, lahir di Mesa, Arizona, AS, 29 tahun silam. Bekas kekasih lama yang pergi. Satu dari sekian kekasih yang meninggalkanku dengan alasan yang masuk akal. 2 kali ia menjalani akselerasi, di SMP tempatku bersekolah, dan di SMA tempatku memulai perjalananku dengannya. Kami berpisah pada saat pemadu bakat Universite Sorbonne dari Paris merekrutnya untuk studi di sana, bagaimana tidak?  Ia bisa menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, Perancis dan Belanda sekaligus.
‘Sabrina: Hey, Ted.’
Ia memanggilku seperti saat kelas 1 SMP, Teddy, karena pipiku yang chubby. Kubalas dengan cepat chat itu
‘Reza: Hey Sab! Ho gat he me je?’
‘Sabruna: I’m fine. Thank you. How’s Jakarta? Aku dengar teman-teman mengadakan reuni? Kamu ikut?’
‘Reza: Sure.. kamu sekarang di mana? Boleh lah kita berjumpa.’
‘Sabrina: Dekat nih.. Lagi di Kolkata, kalau memang jadi, saya akan mendarat di Indonesia’

Sengaja tak kubalas chatnya, hanya sekedar ingin tahu tempat macam apa Kolkata itu lewat Google. Oh ternyata itu kota di India, wikipedia menunjukan itu kota terpadat ketujuh di India.

‘Sabrina: Ted? Rumah kamu di mana? Minggu aku jemput ya?’
Kuberi alamat rumahku, hari Minggu kami mengadakan reuni SMP di daerah sekitar kemang.
Di hari Minggu, tepat jam sepuluh, mobil Merchedez Benz S Class muncul di depan rumah. kulihat dari jendela ada sosok wanita berkulit kuning langsat memakai dress sleveless dengan V-Neck biru berbahan fabric yang pas dikenakan di tubuh kurcacinya
“Hai, Ted” sapanya dengan gigi serapih piano itu
Terakhir kali aku mendengar suara yang terdengar dengan setengah napas di dada itu saat umurku 18 tahun. Sebelas tahun lalu! Suara itu tak berubah, masih nyaman ketika di dengar. Sosoknya yang rupawan membuat setiap mata yang memandang terkesima. Secara fisik dia memang menarik, pupil mata birunya yang besar dan hidung yang mancung, dimahkotai rambut hitam bergelombang yang lebat,
Kubalasnya dengan senyum dan sapa

“Hai. Long time not see.” You’re such a elegant woman.

Ia tampak tak memperhatikan panikku melihat wajahnya yang lonjong “Udah siap?” tanyanya

Kupakai sepatuku, aku memintanya untuk menyetir mobilnya supaya, yeah, you know, masa disupirin wanita?

“Nginep di mana, Brin?” tanyaku basa-basi untuk mempercerah suasana kami di dalam mobil.

“Di apartmennya temanku di cengkareng. Aku di sini sebulan, Ted.”

“Oh ya? Kamu ngga pengin stay di sini aja?”

“Pengin sih, tapi kontrakku di Washington belum habis, UNICEF ada acara di Asia musim panas ini.”

Aura makhluk hidup di sebelahku ini membuat darah mengalir lebih cepat, aku mulai membanding-bandingkan aku yang bukan siapa-siapa dengannya yang sudah berkeliling dunia. Yang lebih membuatku shock lagi, kenapa jantungku berdebar seperti sebelas tahun lalu? Aromanya seperti masih sama saat kami bertemu.

“Oh, hebat ya kamu.” Aku bersusah payah mengendalikan gugupku di samping wanita kelas sosialita ini. Aku tak tahan melihat setiap lekukan tubuh mungilnya yang membuat naluri lelakiku hilang.

Aku sengaja melewatkan jalan di depan SMAku bersama saat dia, yang tak jauh dari rumahku. Dengan uluman tawaku, aku menunjukan SMA kami
“Tuh Brin, SMA kita sekarang.” Dengan tubuh kaku-ku, ku gerakkan getsure tanganku perlahan di kaca.

“Wah, sudah bagus ya.. ngga kaya jaman kita. Suck. Hahaha.” Ia menertawai ocehannya sendiri “Kamu inget ngga taman di sebelahnya pas kita main benteng-bentengan?”

“Inget dong” jawabku “pas ekskul pramuka? Hahaha!”

“Pas kita lari bareng terus jatuh, pas itu ngga ada orang, kamu kiss aku, masih inget ngga?” katanya dengan nada ceria.

Sebelum aku melanjutkan ceritaku, aku ingin bertanya, pernahkan kalian melihat video saat Amerika menjatuhkan bom di kota Hiroshima? Yup, ledakan partikel-partikel kecilnya bisa terbang dari langit sampai ke mukamu sampai dengan kecepatan 4000km per jam. Artinya lebih cepat dari pesawat jet. Kira-kira seperti itu hal yang menyerang kepalaku seketika pas ia menyatakan itu.

Dengan rasa bergetar yang kusembunikan di dalam tubuhku, aku menjawab itu secara cool “Ya inget lah. Butuh seumur hidup buat nge-lupain ciuman pertama..”

“Oh.. Hahaha. Eh iya, Ted. Pacar kamu siapa sekarang?” tanyanya.

“Belum punya, Brin..” Goblok! Terus janjiku kepada Elfi bagaimana?
“Sebenernya” lanjutku “... aku udah nikah sih, tapi dia udah pergi selamanya, semenjak itu aku agak bertengkar sama Tuhan soal kisah asmaraku.”

“Oh ya, Ted? Kamu kok ngga ngabarin aku kalau kamu nikah?”

“Ya kalau facebook atau twitter udah ada dari jaman SMA aku sih pengin undang semua teman sih..” gurauku, mataku tersipu malu melihat ia tersenyum menangapi gurauanku

“Dih kamu ya, hahaha.. Aku juga punya cerita sama kaya kamu, Ted.”

“Kamu udah nikah?”

Pandangannya mengubah mimik wajahku menjadi bersalah, ia bahkan bisa mengubah wajahnya seketika 180 derajat. “Twice, actually.” Ia tersenyum dibalik wajahnya yang dipenuhi haru itu “Yang pertama orang Jogja, Anaknya Teman Ayahku, dia udah kelar kerja di UNICEF, dia kena diabetes, baru setahun kita nikah, dia udah pergi juga.”

“Maaf dengernya, yang kedua?”

“Dia orang Amerika, dia ngga bisa pegang komitmen untuk berumah tangga. Hahaha.. ngapain dipertahanin.” Ia menutupi kesedihannya dengan cara berbicaranya yang ceria.

Kupecahkan kekeruhan ruang semu kami di mobil, aku menyalakan radio tabletnya. Seketika lagu The Beatles di putar di radio semakin memperkeruh suasana di mobil

When the broken-hearted people
Living in the world agree
There will be an answer, let it be
For though they may be parted
There is still a chance that they will see
There will be an answer, let it be

Perhatianku tersita di raut wajah Sabrina yang sendu. Aku tahu dia, sosok yang hebat dalam menyembunyikan sedih dibalik suaranya yang nyaring. Walaupun tak lama kami mengenal, tapi cukup lama kami untuk memahami satu sama lain. Bagaimana tidak, ia adalah mantan pacarku sekaligus mantan kakak kelasku di sekolah yang berbeda. Ia pernah memenangkan perhatianku dalam waktu yang tak singkat.
Satu jam lamanya kami menikmati perjalanan dan cerita kami masing-masing. Tak jarang kami bercanda gurau tentang bagaimana culunnya kami sebelas tahun lalu. Ia juga menunjukanku fotonya bersama trio mematikan Barcelona, Messi, Neymar, serta Alexis Sanchez.
Jika mau, aku bisa mengkhianati Elfi, menggantikannya dengan Sabrina. Tapi nalarku masih kuat, Sabrina adalah sepenggal dari masa laluku yang tak lebihnya menjadi cerita manis.

Tiba kami di restauran bernama Penny Lane di daerah Kemang, konsep bangunan Inggris yang nyeleneh dan sedikit kuno membuat ruangan restauran terasa di Inggris. Interior kayu serta tema the Beatles menjadi patokan utama restauran ini, namanya saja sudah kelihatan. Penny Lane, sebuah lagu yang ditulis oleh Paul McCartney saat ia menunggu John Lennon menghampirinya pada pertengahan 60-an.

Kami bertemu teman-teman lama kami saat SMP, ada teman kami Eko, yang bernyanyi di panggung kecil di depan restaurant lagu The Beatles, Blackbird. Kami disambut oleh teman kami, Cahaya di meja sebelah “Lho?! Ted?! Lo sama siapa ini?!” tanyanya tersenga-senga.

“Hayo siapa?” Sabrina merepotkan Cahaya dengan membuatnya semakin penasaran “Yang pernah ngelaporin kamu ke guru, gara-gara kamu nyontek aku?”

“Yaampun Sabrina?!” mereka berdua  berpelukan, melepas rindu satu sama lain. Setelah empat belas tahun kita bepisah.

Di seberang bilik meja, aku didatangi sosok lelaki perawakan besar dan jumbo, tak lain itu adalah Nizar, lelaki dengan tinggi 6 kaki sedang menggendong seorang bayi. Yang ada di pikiranku pertama kali adalah “Yang lo bawa itu anak siapa Zar?!”
Ia cengengas-cengenges dengan gigi putihnya yang besar-besar. Siapa yang sangka, Nizar yang dulu adalah preman sekolah, sekarang menjadi polisi yang membawa bayi. Bayi itu tampak mengusap ilernya. Like father with different daughter, bayi itu terlihat cantik seperti mamanya, Alinka. Sosok Arab berwatak lembut ini dulu juga adalah teman SDku, ternyata dia satu sekolah dengan Nizar saat SMA. Dunia memang sempit bagi sebagian orang.

Dari sini aku paham, jangan menilai dirimu dari siapa, atau apa kamu sekarang. Sebab, kamu tak akan mengerti jadi apa kamu tahun-tahun berikutnya. Everything has changed, everything will change.


Setelah tiga jam kami melepas rasa suka dan duka saat  kami berseragam putih biru, Brina mengajakku untuk kembali. Ia masih ingin jalan-jalan di daerah Ibu Kota, ia rindu di sini katanya.

Di mobil, mataku masih belum hengkang seratus persen dari paras cantik Sabrina, ia menyita perhatianku. Entah, rasanya tak ada yang berubah dari dia SMA, aku masih memendam benih-benih rasa suka untuk mengobrol dengan si rambut hitam itu. Kami bercanda gurau di perjalanan, ia selalu asyik untuk diajak ngobrol.
“Jadi kamu di rumah sendirian, Ted?” ia bertanya

Pertanyaan itu seketika membuatku bertanya-tanya, jangan-jangan Sabrina ini rampok? Pas udah tahu rumahku kosong, nanti di sekap, gimana dong?
“Iya lah, Bapak sama Istri udah ngga ada, Ibu masih di sel. Emang kenapa Brin?”

“Aku to the point aja kali ya, cabang UNICEF dari apartmen temanku kan jauh, Ted. Cengkareng ke depok kan butuh dua jam. Nah aku bangun aja baru jam 7, untuk tiga minggu ke depan, boleh ngga aku pakai kamar kosong di rumahmu?”

Butiran-butiran oksigen di darahku seketika meletup-letup, masa iya tinggal seatap sama Sabrina?
“Bukannya ngga boleh Brin..”

Ia memotong bahkan sebelum aku menjelaskan “Aku bisa bayar berapapun yang kamu mau, and i promise, ngga ganggu kamu..” ia merentangkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas.

Bingung tak karuan, perasaan random yang mengacak acak otak seakan menyilet bagian-bagian otak. “gini, Brin. Aku tahu, budaya luar memang bebas, tapi kita kan ini di Indonesia loh Brin. Nanti di kira ada apa-apanya.”

“Kan cuma tiga minggu Ted. Lagian ngga ngapa-ngapain kan.” Wajahnya memelas memintaku meng-iya-kan permitaannya “Yaudah kalau ngga boleh, aku bisa cari hotel kok.” Ia tersenyum seakan ia tak kecewa.

Sepersekian menit, otakku mengubah pikirannya. Masa sih hanya dua minggu di sini, ngga boleh? Iya juga, lagian kan ngga ngapa-ngapain. Laki-laki macam apa kamu ini, Rez?

Sampai di rumahku berpagar merah muda, aku memberanikan diri untuk jujur “Brin.. kalau kamu memang butuh, ngga apa kok, aku ngga keberatan kamu tingga di sini.”

“Yakin?” matanya nakal, menyipit “Ngga keberatan?”

“I.. iya.. kan ngga ngapa-ngapain, cuma nginep.” Jelasku bergetaran.

“Iya udah deh, aku kemasi barang dulu di apartmen. Nanti malam aku move ke sini. Aku janji, ada bayarannya kok.” Ia merangkulku dengan enteng, lalu ia masuk ke mobil lau pergi.

Tak lama setelah Sabrina pergi dari rumah untuk mengambil barangnya, Elfi datang ke rumah. Kami memulai untuk membicarakan tentang masa depan. Tak lain, kami sudah merencanakan masa depan kami. Cinta memang sekeras itu, tak peduli dengan siapa kamu sekarang, tapi yang mengikat dirimu ialah orang yang selalu ada untukmu. Kami tertawa sendiri saat membicarakan apa yang kami lakukan seusai kami berumah tangga. Aku mendengan jabang bayinya yang sudah 7 bulan itu, ia geli saat kami mulai memilih nama untuk bayi ini.
Jam sudah menunjukan saat magrib, Elfi harus beristirahat untuk besok dia bekerja.

Entah malaikat keberuntungan apa yang kudapat, mobil Sabrina datang setelah taksi Elfi pergi. Sabrina datang membawa sekotak pizza untuk kami makan malam, seakan tak tertarik dengan pizza itu, yang ada di pikiranku adalah bagaimana caranya untuk memisahkan Elfi dan Sabrina supaya ngga ketemu?

Sabrina pun sering menjadi teman ngobrolku sepulang kerja dan saat kerja, walaupun aku di kamtor, ia yang sedang di UNICEF sering berkomunikasi denganku. Awalnya yang kami bahas hanyalah sekedar pekerjaan, tapi seiring kembali dekatnya kami, kami terlena untuk membahas kehidupan masing-masing.
Kami jadi sering berbagi pekerjaan rumah bersama, semakin hari kami semakin mendalami karakter dan sifat masing-masing, terkadang kami juga sering menjalankan ibadah bersama. Lama-kelamaan, aku semakin merasa nyaman. Ada beberapa hal yang membuatku merasa bahagia dari sosok Sabrina yang tak kudapatkan di dalam Elfi.

Tak bisa dipungkiri, rasa nyaman bersama Elfi kandas ketika hari-hariku digantikan oleh Sabrina. Perlahan sosok Elfi pudar karena rasa nyaman ini. Tak sering aku bisa membuat janji oleh Elfi karena alasan capek, padahal aku ingin menghabiskan waktu bersama Sabrina. Pada hari Minggu, aku lebih ingat untuk mengingatkan Sabrina mengubah jadwal absen di kantor daripada mengingatkan Elfi untuk ke gereja. Di saat itu pula, kami mengungkapkan rasa bahagia bisa memiliki bersama Sabrina. Kami berjanji untuk bisa melanjutkan cinta lama yang telah redup di masa sekolah untuk sekarang. Aku juga berpikir, lebih baik mengorbankan yang beda keyakinan daripada harus melepas yang beda negara.

Di saat malam Sabtu, sebelum Sabrina kembali ke negeri paman Sam, Elfi menelponku. Aku ingin tak mengangkatnya, tapi ini sudah kesekian kalinya Elfi menelpon dan tak ku gubris.

“Halo, Rez? Mau nonton ngga? Ada film 300 Rise of an Empire tuh. Kamu, kan, udah nungguin sekuelnya itu sejak 2006?”

“Aduh, aku agak ngga enak badan Elf. Not today deh ya. Maaf.”

“Oh, ya udah deh, selamat istirahat ya ganteng. I love you!”

Ternyata Elfi masih memerhatikanku, walaupun akhir-akhir ini tak sering kuperhatikan, ia sudah menghabiskan beberapa waktunya hanya untuk sekedar ingin tahu kabarku, orang yang akhir-akhir serin kunomer duakan tak letihnya masih menginginkanku.

Tapi biarlah. Ku tutup ponselku, lalu aku keluar dari kamar mandi Gandaria City. Kudekap tangan Sabrina yang menungguku di luar, kami bersiap menonton film yang sudah aku tunggu kelanjutannya semenjak 2006, 300 Rise of Empire.

Tanpa aku sadari, aku sudah mendua. Aku hanya bingung, bagaimana saat kedua wanita itu saat membutuhkanku? Aku terpaksa mengesampingkan Elfi. Biarlah ia kulepas, toh, rahimnya itu juga bukan janin dariku.
Selesai menonton film idamanku sejak 7 tahun lalu itu, kami pulang ke rumahku, kami letih seharian bersenang-senang. Sampai di rumah, Sabrina duduk di sofa ruang tamu, menyelonjorkan kakinya yang mungil di sofa dan menyetel televisi. Kutemani Sabrina dengan membawa segelas teh untuk kami.

Dengan raut wajah yang puas setelah seharian kutemani ia pergi, ia mengucapkan
“Makasih, Ted. Aku ngga ngerti harus gimana.”

“Kamu itu bilang makasih kaya sama siapa aja. Hahah..”

“Aku jadi pengin stay di Indonesia terus..” katanya

“Ya stay aja kali Sab.”

“Iyah, aku bilang bosku besok deh.” Ia tersenyum, dengan nada mendesah ia bertanya “tapi pertama aku harus bayar tempat ini dulu..”

Bulu kudukku merinding mendengar nadanya yang aneh dan tak seperti biasa “ngga usah, Sab. Anggap aja rumah sendiri.”

Ia memincingkan matanya “kalau ngga boleh aku bayar pakai material, gimana kalau aku bayar pake kepuasan hasrat..” ia menggenggam pangkal pahaku.

Seumur hidup aku tak pernah merasakan getaran dari debar jantungku yang memicunya sangat cepat, mengguncang beberapa syaraf untuk bertahan mendalami rasa ini. Salah tingkahku membuat Sabrina semakin agresif mendekat, ini bukan sekedar kontak fisik biasa, jiwaku tergantung di antara logika dan perasaan. Aku harus meninggalkan yang satunya, hanya demi kepuasan semata dari yang ini? Ah, tak masalah...
Ia memindahkan bagian tubuh yang biasa ia pakai untuk duduk ke  antara paha kiri dan paha kananku. Perlahan, dengan pelan, bagian merah yang berada di antara hidung dan dagu kami bersentuhan, kurasakan lembab di antara kedua bibir seksinya.

“Brin..” cegahku

“Pssst” dia malah menekan kembali kepalanya kepalaku

Ku angkat sekuat tenaga badannya selagi ia menikmati bibirku, kusunggi badannya yang mungil itu ke kamarku di atas. Kubanting badannya ke kasurku yang pegas.
Bagai seekor capung yang terperangkap di jaring laba-labaku, ia tak melawan ketika aku menaiki tubuhnya,
Akan kuberi seluruhnya, kepadanya.
Sentuhan lidahku bagai daun aloe vera yang membuatnya menutup mata keasyikan, kubuka kancing kemeja ketat tanpa lengannya, tak menunggu lama, kurasakan bagian-bagian vital di sekitar tubuhnya, menyangkup segalanya, kami melepas sandang kami masing-masing, merasakan gejolak rasa tertinggi di dalam tubuh Brina. Hingga saat kami tak mengenakan apapun, kurasakan kenikmatan wanita ini perlahan, tak ada yang bisa menggantikan rasa nikmat ini
Aku sudah lama tak melakukan ini, biarlah aku menanggung dosa terindah ini.
Desah-desah dan teriakan kecilnya membuat tubuhku hangat di ruangan yang bersuhu 26 derajat celsius itu, hinga kasur kami tergoyang menggesekkan bagian tumpuan antara mur dan besi. Terus kunikmati rasa terindah ini, tak khayalnya aku bagaikan lelaki gagah yang sedah diberi kelinci dan alat pemotongnya.

Pintu di dinding kamarku membunyikan suara, dari mana ada orang di sini? Setahuku, hanya ada satu orang yang bisa masuk kesini tanpa sepengetahuanku karena kuberi tahu dia letak kuncinya masuk ke rumah sini.

Kami berdua tercekam dengan rasa gugup masing-masing. Kulihat sosok yang berdiri di depan itu, dia adalah satu-satunya orang yang mengetahui letak kunci cadangan rumah ini. Tak lain, itu Elfi.

Ia mengenakan blues merah delima yang mempertontonkan tonjolan perutnya, menentent tas plastik yang berisi sesuatu. Sabrina pun tercengak gugup, bukan karena dia sedang menjadi selingkuhanku, melainkan karena ia tak memakai apapun kecuali stocking.

Aku yang berharap sekarang ini juga ada kiriman nuklir dari Kore untuk menghancurkan rumahku, membuka kebuntuan itu “Elfi?! Kok ngga bilang mau ke sini?” sambil memakai celana jeansku yang tergeletak di lantak, Sabrina hanya menutupi badannya dengan bantal besarku.

“Hehe.. aku cuma mau ngasih martabak buat kamu, kan enak kalau lagi sakit makan yang anget-anget.” Jawab Elfi sambil meletakkan bungkusan itu di meja dekat rak bajuku.

“Kamu siapa?!” tanya Sabrina kikuk ”Lancang banget masuk rumah orang ngga pakai ketuk pintu?” Sabrina berkata kepadaku menanyai Elfi yang sedang tersenyum itu

“Aku sahabatnya Reza. Salam kenal.” Aku shock mendengar Elfi yang mengtakan ‘Sahabat’ ke Sabrina “yaudah, lanjutin deh have fun ya.” Ia pergi menuruni anak tangga satu persatu

Aku yang habis memakaai penuh celana jenasku, lari keluar kamar, Elfi dengan cepat lari ke luar rumah. tak sengaja aku menginjak tumpahan teh yang baru kubuat tadi di bawah, langkahku tak sampai untuk melewatinya, aku terpaksa menginjak cairan itu, badanku tergelincir di antara jarak Elfi yang tinggal beberapa meter. Tapi, kepalaku terbentur lantai terlebih dahulu. Pikiranku melaju cepat pergi, meninggalkan tubuhku yang di ubin.


Kuterjaga oleh siulan merdu di ruangan sebelah, tepat jam 2 dini hari. Aku bagaikan Zombie yang habis memakan korban. Entah apa yang aku harus lakukan sedini ini. Kugerakkan seluruh tubuhku untuk sepenuhnya keluar dari kasur yang nyaman. Sinar lampu kuning ruang sebelah merajam mataku yang masih belum terbiasa terbebani oleh uparan sinar itu. Kulihat wanita jenjang memakai tank-top putih dan celana panjang tersedu memainkan biolanya setelah melihatku. Ia melepaskan dagu dari biolanya untuk menyapaku
“Kok bangun?” ia tersenyum manis “Maaf ya udah buat kamu bangun.”

Aku menggelengkan kepalaku lalu berkata “Hehehe.. Cuma mimpi buruk kok.”

Arry menaruh biolanya, menghampiriku perlahan, mengecup bibirku lalu berkata “Tidur lagi gih, jam sepuluh pesawatnya berangkat loh. Emang mau kamu ke Jepang terlambat?” ia menuntunku kembali ke kamarku.

Credit:
Photo 1: Took it from Google
Photo 2: Took it from Google
a bit of scene took from @shitlicious' novel 'Relationshit'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar