Senin, 29 September 2014

CERPEN: Kopi Yang Pahit Untuk Hidupku

Ini adalah siang yang panas, di cafe bandara. Ahh.. bandara, tempat orang-orang melepas rindu dan air mata. Menunggu seseorang yang akan aku pinang seumur hidup datang, kami akan berlibur ke negara Itali, menghadiri pernikahan rekannya. Sambil menunggu, aku menikmati kopi moka-ku yang tak teraduk rata di dekat jendela cafe itu. Aku selalu suka menikmati kopi yang tidak diaduk, sangat menggambarkan hidup; pertama pahit dan semakin akhir semakin manis. Mungkin kisah perjalananku seperti kopi itu, aku juga pernah mengalami pahitnya dihianati.




Kala itu aku masih perempuan polos yang baru pertama kali memasuki dunia kerja. Aku bekerja hanya sebagai tuntutan belajar hidup, tak perlu bekerja pun aku juga bisa hidup karena orang tuaku sudah cukup berharta untuk menghidupi anak perempuan tunggalnya. Hari pertama bekerja di perusahaan minyak negara sangatlah menyenangkan. Tepat jam empat sore, hujan turun menghujam kantorku. Aku berangkat kerja dengan angkutan umum. Sial, aku tidak bisa mengendarai mobil, jadi tak mungkin aku mampir ke parkiran dan mengambil mobilku, sialnya lagi aku menunggu angkutan umum di seberang jalan besar sambil menikmati air hujan yang menyerbu.

Basah kuyup kemeja casualku membuatku merasa seperti perempuan tak ter-urus. Untungnya, mana ada perempuan tak terurus yang memakai hi-heels tujuh senti? Seseorang dengan sepeda motor laki ber-cc 250 berhenti di samping trotoar tempat aku berdiri. Dia memakai kemeja casual yang dilapisi jaket. Ia membuka helm teropongnya dan berteriak dari pinggir jalan.

“Ngga aus ujan-ujanan? Ayo gue anterin!”

Sok kenal sekali cowok ini, kenapa juga aku harus percaya dia? Bagaimana kalau dia jahat kepadaku?

“Kan ujannya bisa di minum! Ngga usah, aku nungguin angkot!” Gengsiku mengalahkan logika, kemudian ia membalas

“Ngga bakal ada angkot, yuk gue anterin, percuma lo ujan-ujanan tapi ngga sampe rumah!” setelah diam sejenak, dia mengimbuhi ”Gue ngga jahat kok!”

Duh, waktu itu memang tak terlihat ada tanda-tanda angkutan umum lewat, hanya ada lelaki berjaket kulit itu di situ, apa boleh baut, aku melepas sepatuku dan menjinjingnya, naik ke jok belakang sepeda motor Ninja merah yang basah. Ia memacu kencang motornya, dan berhenti di depan warung kecil bertenda merah. Ia mengajakku masuk ke dalam dan duduk, ia memesan kopi panas dua gelas. Untuk hal mencari perhatian, lelaki memang pandai.
Ketika membuka helmnya, ia terlihat eksotis, rambut belah pinggir yang acak-acakan menghiasi matanya yang tajam dan dagunya yang lancip.

“Lo anak baru kan?” tanyanya samar, aku fokus melihatinya membuka jaket kulit yang press-body itu, dadanya cukup bidang untuk pegawai negeri, otot lehernya yang mengkilat akibat air hujan membuatku darahku melamban mengalir ke nadi.

“Woy!” bentakknya pelan.

“E.. Eh.. iya apa?” jawabku gugup dan menatap mukanya. “I.. Iya aku anak baru. Kenalin, Annisa. Kamu?” tanganku ku jabatkan.

Zerdian namanya, sudah dua tahun bekerja di perusahaan minyak negara. Kami memperkenalkan diri dan bercerita pengalaman bekerja. Itu percakapan yang sangat terasa menembus sore buat kami untuk saling memicingkan mata, sambil menikmati kopi yang hangat dan menunggu hujan reda. Ah, sore hari, sedikit usia Tuhan yang dipinjamkan ke manusia agar tahu rasanya abadi; dengan menikmati kopi panas disaat dinginnya hujan.

“Oh yayaya.. Lulusan akutansi. Pinter dong?” candanya.

“Pinteran kamu kali, di budaya dan ekonomi. Eh, hujannya mau reda nih, aku jalan aja deh, udah deket juga.” jawabku

“Lah, gue anterin aja... gratis, tenang aja..” dia terus memaksa.

Aku diam sejenak menatapi langit yang mulai jarang meneteskan air matanya “Entar ada yang cemburu...” candaku genit.

“Ngga ada, gue ngga punya cewe.”

Ih, macho-macho jomblo, pikirku, “Yaudah, deh.”

Sesampainya di rumah, aku dimintai nomor ponsel. Sedikit ragu, aku mengasihkan nomor ku kepadanya. Malamnya, kami berdua berbicara panjang lebar lewat pesan teks, ia mengaku tidak punya pasangan. Sebenarnya, ia pernah punya, namun meninggalkannya ke Jepang. Aku juga pernah memiliki kekasih, tapi itu sudah lama, dan tidak serius.
Sungguh? Maksudku, bagaimana mungkin pria macho bisa kesepian? Ia juga mempunyai Ibu yang sakit serius, ia bekerja untuk menafkahi Ibunya dan dirinya sendiri.


Seseorang ber-Jazz hitam datang tepat di kafe dekat bandara, pria dengan tinggi seratus tujuh puluh lima senti itu menggandengku menuju penerbangan luar negeri. Pesawat lepas landas, perjalanan ke Itali membutuhkan waktu sekitar sebelas jam, ia membaca buku karyal Gayley Forman, If I Stay, dan menanyaiku

“Kenapa, Nis? Kok bengong?” tanyanya.

“Ngga pa-pa kok, Dra... eh, teman kamu Shifa itu cantik ngga sih?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.

“Lihat sendiri aja kalau sudah sampai, he-he.” Ia kembali membaca bukunya.

Aku tersenyum dan melihat luar jendela pesawat yang sayapnya merobek awan dan kembali memikirkan kenangan pahitku. Kenangan yang semakin hari semakin menyerupai bahasa asing, namun anehnya tak ada satupun yang bisa menerjemahkannya.



Hari demi hari aku lewati di kantor itu, ada rekan yang baik, ada juga yang menyebalkan, semua teraduk rata di kantor itu. Aku tak pernah mempercayai rekan seolah mereka tak bisa jahat, pun aku tak pernah meragukan orang tak dikenal seolah-olah mereka tak bisa baik, Zerdian contohnya. Kita semakin dekat, karena Zerdian yang satu ruangan denganku. Kami bertukar ilmu, baru kenal tiga bulan dan rasanya kami sudah mendarah daging. Ia punya poin pandanganku, ia asyik dengan aksen Jawa Timur nya yang lucu. Ia lebih suka dipanggil Jaz, katanya memanggilnya dengan nama aneh bisa membuat orang menganggap bahwa kita sudah kenal dekat. Saat libur akhir pekan pun aku kerap memikirkannya. Ternyata aku tahu, rindu itu tak punya siklus.

Saat istirahat, aku mengetuk pintu ruangan, mengajak Zerdian yang sibuk mengerjakan tugas di komputer,

“Ngga istirahat Jaz?”

Ia nampak fokus menatap layar komputernya, mungkin dia masih fokus dan bekerja.

“Jaz? Kok bengong? Istirahat duluan ya..” aku meninggalkannya ke kantin.

Di kantin ia datang dengan membawa se-mangkuk bakso “Kamu betah kan di kantor?” tanyanya.

“Betah sih, kenapa?” jawabku.

“Ada aku soalnya, ya?” candanya lagi

“Ih, narsis.”

“Hahaha.. eh, Nis.” Tanyanya dengan muka menegang.

“Ya, Jaz?”

“Boleh ngomong ngga?”

“Apaan?”

“Kamu kerja disini, kenal aku, kenal yang lain, apa ngga suka salah satu karyawan gitu?”

Kenapa Zerdian tiba-tiba bertanya seperti itu? Tak seperti biasanya, Zerdian juga pakai “Kamu” daripada “Lo”.

“Umm. Suka semua kok, ngga ada yang ngga suka. Semuanya kan teman disini.” Jawabku.

“Bukan gitu maksudnya, Nisa... Disini ada yang terus merhatiin kamu, lho.”

“Siapa?”

“Aku.”

“Oh ya?” tanyaku, kuanggapnya bercanda.

“Menurutmu aneh?”

“Ngga sih, kalau itu memang tulus.”

“Sebenernya ngga tulus, aku juga pengin sesuatu dari kamu, yaitu kamu sendiri. Tapi aku tahu kok, sifat dasar pikiran adalah menolak dan meragukan. Mungkin butuh waktu.”

Sejenak aku berpikir, mungkin aku sudah saatnya membuka hati, aku tahu diri sudah berjalan jauh, tinggalkan jejak langkah. Tapi aku ingin melangkah lebih jauh, yaitu meninggalkan jejak hati ke orang lain. Jika aku menghindari, setidaknya aku perlu seseorang yang nantinya akan aku temui lagi, maka sekarang adalah saatnya.

Aku menggenggam tangannya yang berada di atas meja, dan berkata
“Aku ngerti kok, Jaz. Kita jalani dulu ya.” muka ku tampak malu-malu menatap Zerdian. “tapi.. boleh aku tau kenapa kamu maunya cuma sama aku?”

“Aku harap sampai kapanpun aku ngga ngerti kenapa aku milih kamu, supaya aku selalu mudah mencintai kekuranganku.”

“Mulai sekarang izinin aku mulai sering-sering lihat wajahmu, ya, Jaz. Supaya aku tahu, kalau jalan menuju pulang itu adalah kamu.”

Se-sederhana itu kami mengungkapkan cinta, kami adalah sepasang trauma yang berusaha saling menyembuhkan; masih telanjang belajar memahami dan menilai untuk menghakimi. Sepertinya aku adalah pelukis yang buruk, aku tidak bisa jelas melukis diriku sendiri, tetapi bisa sangat jelas aku melukis orang lain. Kita memelihara perasaan tak banyak tahu, karena justru dengan itulah rasa diantara kami tumbuh.

Zerdian juga sudah mengenalkanku ke orang-tuanya yang berada di kampung kecil di daerah depok. Wajah kedua orangtuanya sangatlah ramah, senyumnya mudah mencairkan suasana denganku. Zerdian adalah pekerja keras, dia bekerja bagai nelayan yang berotot, kemanapun angin membawanya ia tidak mau berhenti.

Empat belas bulan sudah kami menjalin itu semua. Aku terkadang suka merasa kesal dengannya, ia terlalu capek bekerja lapangan dan kantoran, perhatiannya juga mulai luntur kepadaku. Ban serep tidak akan kehilangan nilainya seperti ban meski tak jadi prioritas. Aku harap cinta Zerdian seperti itu. Setidaknya Zerdian harus menghidupi satu kegilaan dalam dirinya agar bisa tetap menjalani hidup normal; yaitu bekerja keras.

Suatu hari, saat awal bulan, ia mengajakku bersantap malam, di suatu restauran seafood yang harganya rata-rata tidaklah murah.
“Ini kan restauran mahal Jaz?” tanya ku habis turun dari sepeda motornya.

“Apa salahnya sekali-kali kesini bersama calon istri?” gombalnya.

Di meja kecil saling berhadapan wajah, setelah memesan santapan ia membuka percakapan, “Umur orang ngga ada yang tahu kan, Nis.”

“Iya, say. Kenapa emang?” tanyaku pelan.

“Orang tuaku juga semakin tua, aku pengin mereka bisa bahagia sebelum masanya habis. Rencana Tuhan selalu rahasia, tapi kalau direncanakan dan dijalani mungkin Tuhan juga ngerti keinginan kita.”

Aku diam sejenak, mencoba memahami maksud dan inti dari pembicaraan ini

“Aku pengin ngerencanain suatu hari orang lain manggil kamu Ibu Zerdian.” Lanjutnya. Dia mengambil sesuatu berwarnah merah bludru dari celana jeansnya “kalau kamu setuju sama rencanaku, kamu harus terima ini.”

Ia membuka kotak merah itu, itu cincin emas berukuran lingkaran kecil yang menyelip diantara gabus merah. Dia melamarku. Dua puluh tujuh tahun aku menjadi seorang perawan, di usia itu juga seseorang menginginkanku untuk menjadi teman hidupnya.

“Mungkin ini juga terlalu cepet, Nis,  tapi orang tuaku maksa.” Lanjut Zerdian “Sudah banyak hal baik yang aku lewatin dalam hidup, aku harus menebus, dan mastiin perjalananku berakhir di kamu. By the way, aku sudah bayar seperempat dari perencanaan ini. Aku bisa bangkrut dini kalau kamu nolak aku. Hahaha..” candanya. Aku mengambil kotak yang berada di dekat makanan itu, mengambil emas lingkaran dari tempatnya dan memakainya di jari manisku. Pas.

Keesokan siang, di kantor, aku berbincang dengan sahabatku yang sudah aku kenal selama setahun lebih, Marina.
“Tebak Rin, apa yang beda dari aku.” Tanyaku.

Ia mengerutkan dahi “Hmm.. apa ya, lo lebih cantik?”

“Ye.. dari dulu kalau itu. Ahaha.. lihat dong jariku.”

“Oh.. abis gajian. Lo beli cincin baru? Yakan?”

“Iiih.. bukan. Aku dilamar.”

Marina tampak tersedak keras dari minumannya “Serius lo, Nis? Lo di lamar sama Jaz?”

“Iyaaa!” seruku pelan.

Mata Marina yang terbuka lebar tampak ingin mengatakan sesuatu “Bukannya mau menghambat kisah lo, Nis. Gue benci bilangnya, tapi lo ngga bisa nikahin orang yang baru lo temuin.” Dia bilang.

Aku tak paham maksud omongannya, ia nampak serius “Tapi dia udah bayarin biaya wedding, Rin. Masa dia ngga serius?”

“Emang sih, lo lebih kenal dia. Tapi gue kenal dia lebih lama, nis. Yaaa.. gue akuin, Jaz itu keren, macho, eksotis, tapi dia bukan cowok yang cocok dijadiin suami. Dia pernah punya masalah sama atasan kita Pak Hendra. Dia pernah minjem sepeda motornya, terus ilang. Ngga tau dah ke mana. Katanya hilang pas mau bayar sewa truk. Terus setelah sehari, dia beli handphone baru, aneh kan? Tapi ya, kaya lo ngga tau pak Hendra aja, lo timpukin kepalanya pake batu juga dia tetep senyum sama elo.”

Tertampar dengan omongan Marina, aku masih membisu dan tidak percaya. Marina selalu jujur kepadaku, aku tahu itu. Rasanya aku ingin punya alat pendeteksi kebohongan dan memakaikannya ke Marina.

“Eh tapi..” lanjutnya “..itu kan udah dulu, setahun sebelum lo masuk sini. Ya dia pasti udah berubah lah. Yaudah deh Nis, selamat ya, gue ikut seneng.” hiburnya.

Mungkin waktu ini adalah jawaban atas semua pertanyaan, itu sebabnya yang indah tak bertahan lama. Dua hari sebelum pernikahanku, aku dan Jaz mengobrol panjang lebar di suatu kafe taman.
“Lusa udah siap belum, Jaz? Udah hafal ijab qabulnya emang? Hahahah!” candaku.

“Lah? Ya siap dong. Emang mau kamu yang ngucapin ijab qabul? Sekarang gantian aku yang tanya.”

“Apah?” jawabku genit.

“Emang kamu siap hamil?”

“Tergantung, kalau yang hamilin kamu ya mau.. Hahaha!” kami bercanda di atas meja kayu yang kusam. Sejenak kami diam setelah bergurau, ia membuka mulut lagi,

“Nis, boleh ngomong sesuatu ngga?” tanyanya.

“Apa?”

“Aku benci bilangnya, aku kan udah bayar setengah nikahan kita, dan kemarin tiba-tiba Ibu bilang beliau butuh dana buat obat, ngga murah. Intinya, aku tinggal bayar uang gedung sama dekornya. Kamu ada biaya ngga? Nanti kalau udah nikah, aku ganti.”

“Berapa Jaz?” tanyaku.

“Sekitar seratus lima puluhan, kalau ngga ada, aku bisa pinjem temenku kok.”

 Saat itu tak ada rasa ragu sedikitpun yang menjamah pikiranku, aku menjawab “Ada kok Jaz.” Sambil tersenyum “Kalau untuk masa depan, aku apa aja rela.”

Setelah pulang dari itu, aku tergeletak pegal di kasurku. Angin malam mulai membelai tubuh, ia kelembutan yang meski perlahan tak pernah ingkar janji. Pada malam yang telah mengelam, pikiran-pikiran mekar, buah dari pikiran itu siap di petik. Darinya,  itu adalah sebuah pertanyaan, dan pertanyaan seseorang yang akan menikah hanya satu “Apa dia jodoh yang tepat untukku?” tapi semoga keraguanku ini keliru.


Sampai di stasiun kota Florence, Indra berbincang dengan orang Itali. Entah apa yang dibicarakan, namun orang itu tampak terbahak-bahak dengan rokoknya yang dijepit diantara bibirnya. Itulah mengapa aku bisa melupakan Jaz, karena Indra mempunyai aset terbesar dalam dirinya; yaitu berbuat baik kepadaku dan orang lain.

Sampai di rumah Shifa, teman Indra. Aku menaruh barangku di kamar Shifa. Ia menyuruhku untuk menyesuaikan jam tidur, Shifa adalah sosok wanita yang cantik, sopan, ber-etika dan lemah lembut, aneh rasanya jika Indra dahulu hanya berteman dengannya.

Jum’at yang sunyi di kantor, asing ketika tak ada Jaz di kantor. Telepon genggamnya non-aktif, hari itu raga sangatlah bimbang, aku harus menikahi orang yang bahkan tak ada di saat besok adalah hari pernikahanku.

Saat jam istirahat aku menatap wajah marina yang duduk sendirian di meja belakang. Aku ingin menemuinya.
“Rin? Sendirian aja?” sapa ku sambil menyusulnya duduk di sebelahnya.

“Nis? Kok masih ngantor?” tanyanya dengan muka heran.

“Hah? Ya iyalah, kan besok nikahnya. Hahaha..”

“Emang udah beli pesawat buat ke Bali?”

“Bali? Lah ngapain gue ke sana?”

“Lu kan nikah di sana? Makanya gue ngga dateng, jauh amat. Ahaha.. Jaz udah ke Bali duluan?

Jaz? Ke Bali? Untuk apa? Pikirku. Aku semakin bingung dengan semua ini, Marina tak mungkin bohong ketika dia tak tertawa. Terangkat kaki ku langsung, aku menuju ruangan Pak Hendra, atasanku yang sangat ramah. Aku masuk ke kantornya, lelaki berusia empat puluh delapan tahun itu memegang kacamatanya.
“Eh, Annisa.. Ada apa, Nis?” tanyanya.

“Pak, apa Zerdian izin Bapak hari ini dia ke mana?” bimbang dengan nada bergetar karena nafas ku yang terputus-putus karena lari dari lantai satu ke lantai tiga.

“Lho? Dia kan sudah di pindah di Bali, Annisa. Memangnya kamu tidak diberi tahu?”

“B..B..Bali pak?”

Sambil melihat cincin di jari manisku, aku berpikir, badai apa yang mampir di hidupku? Apa benar Jaz adalah orang yang diceritakan Marina kemarin? Nampaknya aku tak pernah benar-benar mengenal sosok dari Zerdian. Aku bagai di hipnotis, dengan nada yang lembut dan muka yang eksotis Zerdian adalah seorang serigala. Nafas panjang memikul beban pikiran yang semakin lama semakin berat, apa yang telah Tuhan tulis dan apa yang telah aku ekspektasikan mungkin tak selamanya sinkron.

Malam yang seharusnya jadi malam pertama tampak pekat dengan kopi hitam yang lebam, kafeinnya merasuk melalui otot-otot dan memacu otak agar tenang. Bercengkrama dengan rokok dan kupejamkan mata, ya Tuhan, tiga ratus undangan yang disebarkan ternyata sia-sia. Aku belajar dari semua ini, ternyata untuk orang yang baruku kenal, sebaiknya jangan cepat menaruh hati. Aku tidak menyesal karena kehilangan jumlah nominal rupiah yang Jaz ambil, aku menyesal karena aku pernah mengenal seseorang yang ber-pura-pura menggilaiku. Tapi, bagaimanapun, tetap tegar itu adalah seni terhebat untuk meluapkan amarah. Malam yang panjang, tak ada sedikit pun hal yang bisa meninabobokkan diriku setelah kejadian itu.



Di pesta pernikahan Shifa, teman Indra, terdengar  nada bertapak seiring detak sekon jam dari heels tujuh centimeterku, menggandeng dengan erat tangan Indra yang memakai jazz cokelat dan membawa curahan San Miguel. Dengan mata menyipit, aku berbicara dengan nada yang sedikit ku-serakkan, “Jadi, kapan kita nyusul mereka?”  Indra tersenyum dan mencium panjang pipiku.

Thanks to: 
-@adimasnuel
-Perempuan muda cantik yang ada di kafe bandara Soekarno-Hatta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar