Rabu, 29 Oktober 2014

CERPEN: Marrying A Stranger (18+!!!)

Sebentar lagi aku akan meninggalkan Inggris, setahun di sini rasanya cepat sekali. Tapi, tanah air Indonesia sudah menantiku, senang rasanya sebentar lagi aku bisa pulang ke kampung halaman.

Tuntutan pekerjaan tidak mengijinkanku untuk bersenang-senang di sini, hari-hari-ku aku habiskan di kantorku di kota London, Basinghall Avenue, tepatnya di gedung Standard Chartered. Dengan gaji 56 euro per jam, aku bisa menyewa apartemen kecil di belakang kantor.


Hari ini, kontrak bekerjaku di sini sudah habis, tapi tiket pesawat masih menunjukkan minggu depan baru pesawatku akan tinggal landas. Aku memutuskan untuk mengunjungi kota dari klub kesebelasan kesayanganku, Liverpool. Ku selesaikan bill di apartmentku, aku mengemasi barangku yang sekiranya aku butuhkan.

Mencari info tentang kereta yang akan menuju Liverpool, aku menuju stasiun kecil di kota London, Maglift. Ternyata kereta menuju Liverpool satu jam lagi, dengan cepat aku booking kereta itu. Kota London dan Liverpool berjarak kurang lebih 290km, membutuhkan waktu sekitar satu jam jika naik kereta cepat.

Sabtu sore ini, membeli kopi di mesin kopi tidaklah buruk, sambil menunggu kereta datang. Dua blok dari tempat duduk, perempuan setinggi kurang lebih 160 centimeter dan membawa tas ransel kecil tampak kebingungan melihat tiket kereta, wanita itu seperti keturunan Arab dan Inggris, hidung yang tajam dan pipi yang lesung dengan memakai syal Chelsea, membuat ia tampak memukau. Ia mendekatiku –karena hanya ada aku– dan bertanya,

Excuse me, sir. Is this train stop that will go to Liverpool?” Tanyanya, dengan aksen asli Inggris.

Yes, I think so. Do you wanna to go to Liverpool, too?” Balasku dengan senyum

Oh yes, thanks, sir. Umm.. may I sit here?” Ia menunjuk bangku panjang yang sedang ku duduki.

Sure.” . Jawabku ramah.

Kami bagaikan rasa bersalah yang terlalu dini untuk bertemu, dengan pilar rasa malu yang membatasi kami untuk melanjutkan pembicaraan. Aku hanya memutar-mutar ampas kopi ku yang tersisa di gelas styrofom,  sedangkan dia hanya bermain dengan kuku jemari tangannya dan rambut merah kehitamannya yang menutupi bagian samping wajahnya.

Dua puluh menit, kereta datang dari arah timur stasiun Maglift, aku bergegas berdiri, dan, wanita itu juga berdiri, aku masuk duluan ke gerbang utama, ternyata kereta itu cukup penuh, mungkin karena stasiun Maglift adalah pemberhentian sementara. Seat ku C3, dua seat dari depan, aku menaruh tas ransel ku ke bagasi atas dan duduk. Wanita muda itu naik dari gerbang, dan mengarah ke arahku, ia menaruh ranselnya di dada dan duduk di sebelahku lagi, benar-benar sebuah kebetulan.

Hi, sir, you again.” Katanya dengan cengengesan.

Ah, you stalk me, right?” Candaku.

Nope, sir. Those ticket seller want us to sit together. Ahahaha!” Candanya balik dengan tawa ringannya.

Kereta mulai menggelindingkan bannya. Tawa wanita muda itu membuatku ingin untuk membuka obrolan lebih lebar dan panjang dengannya, ternyata tawa dapat membuat orang asing bak gula pasir, cepat menyatu dan larut.

“So, you’re from London, right? What is your name?” Tanyaku penasaran.

I’m Dea, and you, sir? Wait. How did you knew I was from London?” Balasnya.

I’m Bram, c’mon, you wear Chelsea’s scarf. Hey, I’m 25 years old, by the way, don’t call me ‘sir’.

Oh, these scarf.. just because people wear Chelsea’s stuff doesn’t mean they’re from London, right. But yes, I’m from London. Bram? Like motorcycle? Bram.. bram..? Wanita itu berbicara penuh canda, melepas syalnya dan meluruskannya

Hahaha.. I don’t think you’re so amusing. My full name is Bramantio, Mario Bramantio.”

Bramantio? That’s name looks familiar. Did you Indonesia descent? Or you’re from Indonesia?” Ia bertanya begitu penasaran

Yes, I’m from Indonesia. Why you looks so curious?

“Karena aku juga dari Indonesia, Bramantio. Hahaha...” jawabnya cepat. Mataku tergelak kaget, percakapan kami menggunakan bahasa Inggris terasa sia-sia.

“Serius?” tanyaku “maksudku, kamu sudah tau mukaku asli Indonesia. Kenapa ngajak ngomong bahasa Inggris?”

Ia terpingkal-pingkal kecil dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya “Kebiasaan kali, Bram. Empat tahun di sini siapa aja aku ajak bahasa Inggris. Eh ngomong-ngomong aneh kalau manggil cuma pakai nama, aku panggil kamu kak aja ya.”
“Terserah lah. Ahaha.. empat tahun di sini kamu kuliah De?”

“Iya, di Oxford, akhir bulan kemarin baru graduate. Aku masih pengin jalan-jalan di sini. Kamu di sini juga kuliah, kak?” tanyanya dengan wajah yang masih sumringah.

“Engga, aku baru selesai kontrak kerja di bank. Kamu kapan rencana pulang? Ngga bosen apa di Inggris?”

“Bosen?” tiba-tiba wajahnya berubah menjadi muram “Ngga semua orang bisa ke sini, kak. Boleh lah, kalau nikmati negeri orang. Ceritain dong kak, kenapa kamu bisa ke sini?”

“Hmm.. sebenernya aku ditawarin di, California, Hong Kong, Jepang juga sih, tapi..”

“Tunggu dulu.” Potongnya “Jepang? Kenapa milih Inggris dari pada Jepang?”

“Kalau di Jepang ngga ketemu kamu dong?” godaku.

“Hahaha.. Alah gombal. Terus, terus?”

“Aku juga mikir-mikir sih, Jepang sumber daya manusia kan jarang, apa-apa di sana mahal. Kalau di California, katanya di sana sering badai. Hong Kong malah apaan, yang paling jelas ya Inggris, SDM ada, poundsterling juga lumayan tinggi, kan. Cuacanya juga pas. Ya aku pilih Inggris lah.  Lagian di Inggris, juga ada klub favoritku, Liverpool. Aku juga pengin suatu hari, ya mungkin aja nikah sama orang sini, memperbaiki keturunan. Hahaha..” Jelasku.

“Hahaha.. Eh? Tapi Jepang kan juga enak kak, di sana bisa beli JAV.” Katanya.

“Hahaha!” tawaku tak sengaja. Aku berbisik “Eh, kamu itu cewe, kok tau JAV. Udah ah, jangan di bahas.” Balasku.

“Ya tau lah, masa cewe ngga boleh tau. Ahaha.. Eh Liverpool ya? Yang ngga pernah juara EPL itu?” ejeknya dengan nada bercanda.

“Dih, kok tiba-tiba nyela. Chelsea emang pernah menang Champions sampai lima kali?”

“Eh tapi musim lalu Runner-up EPL, lho. Udah ah, kok jadi bahas bola?”

“Kamu duluan” aku menggerutu “terus bahas apa dong? Eh kamu dong ceritain kenapa bisa sampai ke Inggris?” tanyaku.

“Hmm.. it’s a long story.”

I’d love to hear it.”

“Jadi.. Pertama, pas papa meninggal waktu itu aku baru lulus SMP.”

My biggest condolences..” potongku.

Ia tersenyum “Thanks, kak. Pas itu, aku ikut mama ke Singapore. Mama jadi TKI di sana. Terus.. well, mama juga ngga pengin aku kaya dia, kata beliau. Beliau menyuruh aku ngelanjutin SMA di Singapore, bukan sekolah sih, kaya lecture ber-sertifikat gitu, dengan tabungannya selama di sana. Mama ikut majikan yang hartanya melimpah ruah, and.. suatu ketika, majikan mama itu nikah, and you know what.. mereka ngga punya anak. Dan, 10 tahun di sana mama udah capek untuk ngelanjutin kerja, mama pengin pulang ke Indonesia. And finally, aku dibiayai majikan mama untuk kuliah, kebetulan mereka juga punya saudara di Inggris. Gitu..”

Aku mengambil nafas dalam-dalam “Kalau gitu aku kurang bersyukur, ya, Dea.”

“Kenapa, kak?” jawabnya.

“Ngga semua orang bisa ke Inggris, dan ternyata juga ada yang ke Inggris dengan jalan yang terjal.”

Bilik seat kami ber-oksigenkan kenangan Dea, mendengarkan memori kelam orang asing adalah bahan bakar untuk menghidupkan kesunyian. Dea boleh disebut pemeran baru dalam perjalananku, tapi suasana dan kebersamaan lama-kelamaan akan mengakar dan mempersatukan kami kurang dari satu jam. Aku mengalihkan topik pembicaraan.

Dea memanggil petugas kereta keliling. “Morning sir, vodka please.” Ia menoleh ke arahku “kamu apa, kak? Aku yang bayar.” tanyanya.

“Umm.. water?”

Petugas kereta mengambil air dan vodka kaleng dari lemari es berjalannya. “Here is the water, and vodka. It’ll be four pound.”

Dea menyerahkan uang kertas 5 pound, “keep that changes” katanya. Dea langsung menunggak vodka kalengnya. Aku melihat jendela, ternyata kami sudah sampai di Liverpool, aku melihat sungai menyeberangi antara rel kereta dan jembatan layang.

“Sungai apa ya itu, De?” tanyaku.

“Mersey, kak. Ih masa ngga tau, katanya fans Liverpool.” Candanya.

“Oh, jadi derbi Merseyside itu diambil dari nama sungai ini.”

Maybe.”

“Awas mabok lho” kataku sambil melihat Dea yang terus menunggak vodkanya.

“Engga..” balasnya “kalau minumnya dua galon baru mabok.”

Kereta pun sampai di stasiun Exchange, Liverpool. Aku menunggu Dea keluar dari gerbang, mengemasi barangku dan turun. Melihat dea yang masih menikmati vodkanya.

“Thanks, stranger, udah nemenin satu jam di kereta. Mau lanjut ke Liverpool bagian mana?” ceplosku.

Stranger? You still thought we’re still stranger? We’re connected.” katanya.

Yup, err.. Dea. Okay, see you.”

“Yah.. masa pisah sih? Temenin Dea lah, kak. Kamu mau ninggalin aku gitu aja? Kaya papaku.” serunya.

“Yup.. Err, okay kamu udah ngebuat aku merasa bersalah .” Jelasku.

Can I ask you something? Are you a banker?” tanya Dea

Sure. I mean, I’ve told you before. Why?”

“Because you leave me a loan. Aku kedinginan, kak.” Serunya manja sambil merapatkan sweaternya rapat-rapat

Ha ha.. nice joke, kid. Aku tahu, kok.” Sambil ku menepuk pundak Dea.

“Kenapa bisa tahu?”

Because we’re connected. Okay, jalan aja ya.. Eh ngomong-ngomong ngga ada yang jealous?” kataku

“Argh.. Ada tuh, Steven Gerrard.” Dea menunjuk poster Liverpool di dinding stasiun. “Udah yuk.” Ia menggapai tanganku dan menggandengku.
.
Aku patuh ke sesuatu yang tak bisa ku tebak. Aku terus menggandengnya dengan seksama dan erat. Mengikuti kemanapun ia melangkah. Dalam tubuhku tumbuh petunjuk Tuhan memberikanku teman. Entah apa yang di pikirkan Dea, tetapi aku adalah orang yang mudah jatuh ke seseorang yang membuatku merasa ditemani. Dea adalah kota besar di hidupku yang belum aku jelajahi

“Merasa aneh ngga sih kamu, De?” tanyaku.

“Aneh? Aneh kenapa, kak?”

“Baru kenal dua jam lalu, sekarang kita udah gandengan.”

“Katamu we’re connected? Hahaha.. Kita berdiri di negara bebas kali, kak. Yang baru kenal semenit pun, juga bisa aja nikah. Hahaha..” candanya.

“Itu kan katamu..” kataku dengan muka bebek “Tahu Radiohead?” tanyaku.

Yup, that’s one of my favorite british band.” Ia menjawab dengan antusias

“Besok sore di Goodison Park.”

What?! Pasti udah habis tikernya.”

“On stage kali, nonton yuk. Aku bayarin deh.”

“Boleh, ngga apa kok, aku bayar sendiri. By the way, kita mau ke mana sekarang?"

Ia mengalihkan pandangan ke orang di dekat pintu stasiun bertanya ke security “Excuse, sir. Do you know the cheapest hotel around here?”

About two hundred meters to east” kata penjaga pintu yang gagah itu “may I help you to order taxi, madam?”

No sir, I prefer walking. Thanks, anyway.” Dea melemparkan senyuman manis dan membuat petugas itu ikut tersenyum.

Kami berjalan kaki, menuju ke timur, sore hari lumayan dingin di Inggris, berjalan satu kilometer pun tak menjadi masalah. Kami berdua berfoto bersama, bercanda gurau, menikmati detik-detik terakhir aku di Inggris bersama... orang yang baru dua jam aku kenal. Dan sampailah kami di hotel itu. Kami melihat hotel di belakang restauran, Ibis Hotel. Hotel bintang empat yang tidaklah cukup murah per malam jika di Indonesia.

Cheapest hotel he said?” tanyaku muram.

Around here. Ayolah. Jarang-jarang di sini.”

Menuju ruang resepsionis. Kami check-in di ruang resepsionis “Good afternoon, madam, sir. How can I help you?” kata resepsionis hotel itu

Yes, I’d like to make reservation, one room with double bed” Dea menjawab

“Oka..”

Wait.. wait..” aku memotong pembicaraan resepsionis, aku berbicara ke Dea “Kita se-kamar? Seriously?

“Ngga apa. Aku ngga tidur.” Jawabnya, ia memalingkan wajahnya ke resepsionis kembali “Yes?”

Okay, can I have your name? Your full name?” tanyanya

“Dea Oktaviani. O-K-T-A-V-I-A-N-I.”

Allright, Mrs. Ok-ta-vi-ani, one room with double bed tonight, It will be 595 pound. Here’s the check-in card, your room is 2nd floor, ready for 5 minutes. Thank you.” Ia menyerahkan kartu check-in ke Dea.

Kami menuju lantai 2 lewat tangga. Dea memasukkan kartu ke slot pintu kamar. Kamar itu cukup megah, dengan TV LCD dan mini kulkas di samping TV. Dea meletakkan barang di bawah dan membuka selambu jendela. “Okay, kamu tidur di atas. Aku gampanglah, kalau ngantuk ya tidur di bawah.” Katanya. “Aku nyari tempat makan dulu ya” Dea keluar. Aku tergeletak di kasur empuk berukuran king size itu.

Rasa cemas ku ini kekal sekali, Dea adalah penyebab kecemasan itu. Kecemasan adalah penyakit tak ber-obat. Bagaimana tidak cemas, seumur hidupku aku baru ini sekamar dengan seorang wanita. Ditambah wanita ini baru ku kenal hari ini. Siang di Liverpool mengakibatkan banyak pikiran, ribuan wajah yang ku-kenal hanya satu yang membuatku gelisah saat ini. Bagaimana jika tiba-tiba aku menikahi Dea? Pikiran ku mulai ke mana-mana. Kecemasan hanya menjadi bebal dalam hidupku. Tapi sudahlah, saatnya beristirahat.

Pantulan-pantulan cahaya dari kaca-kaca yang membiaskan awan sore bergema mengarungi mataku, membangunkanku dari tidur yang lelap. Seseorang duduk di kursi dan bermain laptop. Ya Tuhan, itu Dea, ternyata aku tak bermimpi.

“HAI KEBOOO!” teriak Dea yang masih menancapkan mata di Macbook air nya. “Enak nya habis bangun tidur. Mandi sana. Ngga usah cari makanan, aku udah booking dinner di resto sebelah.” Serunya.

Aku melihat jam, ternyata jam 4 sore. Aku tertidur 2 jam. Aku masih kebingungan bak orang sehabis pingsan.

“Bisa dansa ngga?” tanya Dea

Aku terpaku kebingungan, “Hah? Dansa?” tanyaku

“Yup. Dansa bebas, aku sih bisa balet. Resto yang aku booking ngadain dance bersama couple. Jadi sebelum dinner, ada acara dansa dulu. Mau ya, ya, ya.”
“Terserah deh, De. Aku mandi dulu ya.” Jawabku.

Setelah keluar dari kamar mandi, aku melihat Dea yang dibaluti dress putih tak berlengan dan potongan di bawah lutut. Telinganya di hiasi giwang lingkaran besar, lehernya di tandai dengan liontin emas. Ia tampak elegan dengan tampilannya. Ia menunggu diluar sementara aku mengganti baju dengan jas kemeja putih dan rompi.

Kami nemuju restoran di dekat hotel kami, Venon Arms. Restauran itu dihiasi lampu-lampu bulat kecil di atas dinding-dinding tingginya. Bertemakan kuning yang klasik dan meja-meja yang di pakaikan kain kaca yang mengkilat. Pasangan-pasangan yang ber-malam minggu di sini tampak gagah dan cantik. Kami tampak paling muda dan pendek di antara pasangan-pasangan yang lain, karena gen kami yang Indonesia.

Kami duduk di meja paling belakang, waitress menuangkan air ke dalam gelas kami. Tak lama, musik klasik jazz berbunyi. Suara piano yang merdu dari titisan jari-jari professional. “Yok, udah siap?” Dea bertanya, ia berdiri dan menggandengku ke tengah ruangan yang mejanya membentuk letter U itu. Lampu dimatikan.

Anak piano-piano itu terus bernyanyi intro River Flow In You, sorotan lampu menyinari kami dan pasangan-pasangan yang berdansa. Kami mulai berdansa. Di mulai dari ia mendekati ku. Kami berpapasan dan tangan kanan kami saling berpegang. Dea beputar ke arahku mendarat di dadaku, ia melompat, aku menggendong Dea dari depan. Ia mengitari bawah tanganku yang menyongsong tangan Dea. Ia mengangkat kakinya, aku mengambil kakinya yang diangkat dan merangkul tubuh Dea, dan berputar. Dea dengan lincah menari-nari, aku pun mengerti maksudnya dan kami bagaikan listrik, sinkron.


Empat setengah menit kami berdansa. Dea merangkul leherku, berbisik “Hebat. Belajar dari mana?” aku tak sempat membalas. Launan nada itu mulai melambat, tanda akan berhenti. Kami berdampingan, dan berbaring di atas karpet merah itu berdua berhadapan.

Aplause dari penikmat dinner dan penonton dari luar jendela restauran berdatangan. Kami kembali ke meja kami dengan nafas kami yang tersenga-senga. Waitress mengantarkan makanan pembuka, sup jamur kental.

“Aku ngga nyangka kamu bisa ngerti maksudku” seru Dea.

“Katanya we’re connected. Gimana sih? Hahah..”

“Lah, masih di inget. Hahaha..”

Setelah pembuka, main course pun datang. Aku menyantap lahap chicken maryland pesanan Dea itu.

“Aku ke kamar mandi dulu ya” Ijin Dea

“Negara bebas.” Jawabku

Kuletakkan garpu pisauku di piring, aku sudah selesai makan. Waitress mengemasi piringku dan Dea. Orang-orang satu persatu mulai pergi, menipis. Kami berbincang sampai larut malam di restauran 24 jam itu. Dua pasang mata yang mulai lelah saling terikat.

“Makasih untuk hari ini.” kataku kepadanya. Merasa agak mabuk dari wine yang aku teguk. “Kamu wanita yang hebat”

“Kamu muji?” Dea tersenyum dan keluar dari bilik bangkunya, ia duduk di sebelahku. Paha kami saling berkontak fisik. “kamu juga pria kuat.”

Rayuan itu jelas tidak normal, tapi malam bersuhu 19 derajat celsius di Liverpool itu seakan berhenti. “Masih sadar? Yuk ke kamar.” Ajaknya.

Aku bergejolak aneh, menyadari diriku bagaikan rusa yang sudah di sergap harimau. Mata cokelat Dea berkilat mempesona. “Jadi” bisiknya “Kamu ngga pernah sama wanita hebat, kan, Kak.”

Aku masih merasakan diriku ter-jerat bekapan wine. Ditambah mata Dea, berupaya menyembunyikan luapan emosi; rasa malu, rasa gembira, dan rasa takut “Aku ngga pernah sama wanita manapun sebenarnya.”

Dea tersenyum dan beringsut lebih dekat “Aku ngga ngerti apa yang ada di pikiranmu. Tapi, biar aku jadi yang pertama.”

Ketakutan dan nadi ku berpacu kencang bersama, memori masa laluku lenyap. Menguap bersama malam yang dingin di kepulauan Britania Raya. Untuk pertama kalinya aku merasakan hasrat dan tak tertantang oleh rasa malu, rasa ingin meluapkan apa yang aku rasakan.
Aku menginginkan wanita itu.
Sepuluh menit kemudian, kami berada di kamar hotel berpelukan. Dea tak terburu-buru, sepasang bibir dan tangan Dea dengan sabar menumbuhkan sensasi-sensasi yang belum pernah sama sekali kurasakan dari tidak berpengalaman jiwaku.
Inilah pilihanku, Dea tak memaksanku.
Dalam pelukannya, aku pertamakalinya merasakan segalanya tak ada yang rumit, ketika berbaring menatap sinar-sinar yang terpikat oleh jendela malam, aku akan melakukan apa saja yang ingin Dea lakukan. Ini adalah dosa terindah yang pernah kulakukan.

Pagi hari di kota Liverpool, hanya dengan selimut aku menutupi tubuhku, melihat Dea yang tak menggunakan apapun bermain Macbook di mejanya. “Hei baby..” kata Dea. Ayo mandi, kita cari sarapan.”

I made a sin.” Kataku. Astaga dia tidak tidur sungguhan.

Dea menghembuskan nafas panjang “Everybody made their own sin, darl.” Balasnya. Aku mandi dan berpakaian rangkap baju, kemeja, sweater dan jazz. Melihat suhu di iPhone ku yang sepuluh derajat celsius tampaknya aku tak mungkin juga hanya ber-kaso dan celana pendek.

Kami berjalan sekitar satu kilometer ke Eton Place, tempat bistro. Memilih tempat duduk di luar sedangkan Dea baru saja memesan sarapan.

“Kamu cakep pakai jazz itu” Dea membuka pembicaraan

“Kalah aku sama kamu, kamu ngga pakai apa-apa aja udah cakep.” Gurauku ke Dea.

Bloodyhell hahaha.. Umm, kamu ngga punya temen di sini, kak?”

Last time I have a friend he became a bullshit.”

“Segitunya..”

“Iya, temen ku di sini juga orang Indonesia. Sekitar tujuh orang di tempatin di kantorku, I hate to say, lama kelamaan sikapya aneh. Biasa, orang kaya baru, baru ke Inggris udah sombong.”

“Kamu bukannya juga baru ke Inggris?” Dea memotong pembicaraanku. Sarapan diantarkan oleh waitress, scrambel egg dan kentang goreng, dengan kopi susu kental. “thanks” kata Dea ke waitress itu.

“Aku sombong ngga?”

“Ya ngga sih... Kita sama, kak. Di saat aku lebih suka sendiri, di saat orang-orang ngga ada buat aku, Tuhan nemuin aku sama kamu. Semoga kesamaan kita ngga sampai situ.”

Semakin ke sini aku semakin bisa menumbuhkan rasa ke Dea. Ternyata cinta itu artistik, tak mengenal sosok dan waktu. Dea ubah seluruh rasa bertanyaku menjadi kemakluman. Seolah aku adalah kura-kura dengan cangkang yang kuat tak terkalahkan yang ingin mengubah dunia, kemudian datang Dea yang membalikkan cangkanku dengan mudahnya. Rasa khayal mendapatkan teman sehidup begitu pudar dengan kehadiran Dea.

Selesai sarapan, kami menuju Goodison Park, sekitar 4 kilometer dari sini. Kami menyewa sepeda double sadel, sepeda itu berwarna hitam mengkilap yang bisa menyala waktu malam hari. Dilengkapi sensor, setelah satu jam di parkir, sepeda itu akan di tarik kembali oleh penyewa jasa.

Bersepeda 4 kilometer tidaklah se-pegal saat kami berdansa 5 menit, tepat di depan Goodison Park telah banyak orang memakai syal dan kaos Radiohead. Loket tiket baru saja di buka, kami membeli tiket di situ juga, dengan antrian yang panjang tetapi rapi dan tak ricuh. Aku membayar tiket masing-masing 45 pound. Itu tiket festival, duduk paling depan.


Kami membeli makanan kecil untuk di bawa ke konser nantinya, Burger King di depan Goodison Park terlihat tak terlalu ramai, aku menunggu Dea membeli makanan, sementara Dea menunggu pesanan, aku melihat ia tampak berbincang dengan seseorang berkulit cokelat, Dea bersalaman dan tertawa bersama wanita itu. Wanita itu melihat ke arahku. Aku pun tak jelas melihat dia, kebetulan kacamata ku di tas dan tak bisa memandang sejauh itu. Selesai menerima pesanan, Dea pun menghampiriku.

“Siapa?” tanyaku.

“Lucy, sepupu jauh ku.” Kata Dea

“Orang Indonesia? Ngga dikenalin ke aku?

“Iya.. Dia keburu-buru katanya. Yaudah,  nunggu di dalem yuk.”

Jam menunjukan pukul 12. Konser dimulai sekitar 3 jam lagi. Dea menyenderkan kepalanya di pundakku, rambut panjang sebahunya yang merah kehitaman mengurai di antara tangan-tanganku. Menunggu bersama Dea rasanya terlalu cepat. Ia mengubah waktu menjadi oksigen, sesuatu yang aku pikir itu cepat habis walaupun sebenarnya masih ada. Saling beberapa kalimat dan kata yang sudah kami ucapkan, Dea memanggilku, “Bram.. maksudku, Kak.” Ia memanggil.

“Ya, De?” ku arahkan wajahku ke tengah rambutnya yang beraromakan stroberi itu. Aku tak bisa bohong, ini sangat terasa nyaman.

“Jadi pulang minggu ini? Pesawatmu ngga bisa di cancel aja?” Tanyanya memelas.

“Ngga yakin sepertinya kalau ada yang buat nyaman di Inggris.” Kataku.

“Aku kan” candanya “misalnya jadi, aku ikut ya. Aku di sini udah ngga punya siapa-siapa selain orang yang aku kenal kemarin.”
“Aku kan” sahutku.

“Menurutmu.. Dengerin aku ngomong dulu ya. Ngga ngerti kenapa aku takut kehilangan orang yang aku kenal dua hari lalu. Aku juga ngga ngerti kenapa Tuhan mengijinkan kita bersama, kalau ngga untuk bersama. Tolong ngerti aku, Bram. Aku cinta kamu. Aku tahu banget kita baru kenal. Menurutku ngga ada salahnya kalau kita lebih saling mengenal dengan saling bersama. Dan kadang, dunia ini adalah ruang yang saling terhubung, everything is connected. Selalu ada yang berhubungan meskipun kamu tak mau berhubungan dengan hal itu.”

“Ngga ngerti omonganmu, De, kamu ngomong kok puitis banget. Tapi aku ngerti kok, aku juga ngerasain itu sama kamu. Kamu itu lucu, baik, cantik. Dan walaupun, suatu hari nanti ketulusanku kamu pertanyakan, De, jangan pernah nyesal ya kalau kita pernah bertemu. ”

“Halah sialan. Hahaha. Iya, Bram.”

Thom Yorke menaiki panggung tak ber kanopi itu, memulai mengambil nafas untuk beraksi dengan berpenonton kerumunan orang-orang dengan sifat histeris. Gabungan suara baritone dan bass melengkapi ramainya suasana lagu radiohead itu. Mereka bernyanyi High And Dry. Dea menggenggam tanganku erat dan melihat ke arahku. Aku tatap mukanya yang bak lorong waktu, keindahan, ketakutan, dan kecintaan yang penuh. Letihku di perjalanan ini lengkap bersama orang yang baru ku kenal. Dea adalah fragmen asing terindah di hidupku. Aku ingin menyutradarai kami. Biarkan aku menyutradarai kami. Aku adalah sutaradara kami. Dea.


Akhirnya, kami menikah dan bahagia di Indonesia.






1 komentar:

  1. Casino, RV Park, Laughlin, NV - Mapyro
    Find the best 충청남도 출장샵 gaming and entertainment near Casino, RV Park, Laughlin, 밀양 출장안마 NV, USA. See map 이천 출장마사지 for more 광양 출장안마 information. 대구광역 출장샵

    BalasHapus