Rabu, 26 November 2014

CERPEN: The Invicible.



Kumpulan terik matahari menyusup ke rongga kepalaku. Langit negara Eropa dengan suhu yang mampu mencengkramku, melintasi alam pikiranku dengan kenangan enam tahun lalu setelah aku melihat dia. Seseorang memanggilku “Ana? Lihat apa, An?” yang belum aku gubris. Tunggu, apa benar itu dia? Ia tampak lebih besar dan berotot, rambutnya panjang dan sedikit messy, matanya yang tajam dan lebar saat tak memakai kacamata. Melihat ke arahku. Wajahnya masih sama saat ia tak mampu melihat aku secara jelas saat aku di depan sekolah dulu, memicingkan matanya dengan kepala yang dimiringkan ia terlihat semakin tampan di bawah depan Burger King.

▄

“Aku cinta kamu, Ana!” teriakan bocah aneh dari panggung itu sukses berat membuat otot rasa malu-ku pecah. Aku keluar dari lapangan sekolah dengan mengajak sahabatku, Shinta. Rasa sebal dan malu merajut tiap sudut muka-ku.

“Kamu kenapa sih, An?” tanya Shinta sambil cengengesan.

“Diem kenapa Shin! Udah tahu aku malu!”

Ia cengengesan setelah aku digojloki anak-anak se-sekolah karena sikap anak aneh tadi. Rio namanya, teman sekelas yang sudah dari semester satu mengincarku. Menerimanya? Jangankan berbicara dengannya, setiap kami rolling bangku dan ia dibelakangku, aku selalu sekarat kehabisan oksigen karena ia terus membuatku kesal.

Semua berawal dari kelas satu SMK, saat olahraga. Seluruh murid kelas disuruh memutari komplek sekolah yang lumayan panjang. Rio tampak kelelahan dan hampir tersandung kakinya sendiri. Tapi aku melihat temannya, Giva, seseorang anak band yang terkenal se-Surabaya. Mereka berdua lari berdampingan. Aku membawa tempat minum Tupperware yang bisa dislempang. Aku mendekati mereka berdua, dengan niat mencari perhatian ke Giva “Hai. Capek ngga?” tanyaku.

“Lumayan.” Giva menjawab dengan cool sambil berlari.

“Nih minum.” Aku menyerahkan tempat minum ku ke Giva.
“Wah kebetulan. Makasih ya.” Ia mengambilnya dari tanganku

Ia tampak tak langsung membuka dan meminumnya, melainkan ia menyerahkannya ke temannya, Rio.

“Iki boy, jare ngelak? Iki lho, ngombe teko Ana” – Ini, boy, katanya haus? Ini lho, minum dari Ana. Katanya.

Duh kenapa yang minum jadi Rio sih?! Pikirku. Rio langsung membuka botol itu dan menghabiskan airnya.

Rio berteriak “Makasih, Ana. Udah cantik, baik lagi.” Ucapan itu membuat semua anak termasik Giva yang berlari menertawaiku dan Rio. Aku sangat tak mau mengingat kejadian itu lagi.


Semenjak kejadian itu, Rio terus menggombaliku di depan anak-anak dan tak berhentinya menuliskan ‘Aku Cinta Ana’ di papan tulis besar di depan kelas. Sampai saat kejadian tadi, ia naik diatas panggung setelah Band Giva perform untuk pensi memperingati berakhirnya kelas satu SMK kami.

Saat waktu senggang dan pensi berakhir, aku menghampirinya, membuka mataku lebar-lebar didepannya karena sikap tidak masuk akal yang ia lakukan tadi di depan panggung sekolah. Dia  hanya memangku gitar dan membuat petikan demi petikan, ia santai dengan melihatku mampir ke bangkunya. “Rio! Bisa berhenti bikin aku malu ngga?!” bentakku.

Rio menghentikan memetik gitarnya, ia melihat kearahku. “Lho aku kan pengen dapetin kamu sih, An. Masa ngga boleh? Daripada se-sekolah sepi ngga ada yang teriak ciye-ciye?” jawabnya cengengesan dan kembali memetik senar-senar gitarnya.

“Tapi ya jangan gitu dong, Io. Yang malu itu lho aku! Kamu itu siapaku sih? Aku lho, ngga suka sama kamu!”

Muka Rio berubah dari cengengesan menjadi tegang “Iya An, aku memang ngga pantes kok dapetin kamu. Maaf ya.” Ucap Rio dengan nada gemulai. Aku sedikit merasa bersalah ketika melihatnya memetik gitarnya tanpa memasukkan kuncinya.
“Tapi kan itu cuma bercanda, An? Syukur-syukur deh kalau dapet. Hahaha..” ia kembali mengubah raut mukanya menjadi cengengesan.

“DUHHH! NGGA TAU AH!” teriakku di depannya.

Aku jengkel, rasa amarahku memuncak hingga sepersekian milimeter di otak. Itu karena Rio. Hingga aku meluapkan semuanya ke Shinta, sahabatku yang beda kelas, dia adalah sahabatku sejak SMP. Aku pun menceritakan semua rasa malu ku ke Shinta, tetapi ia hanya tertawa melihat ceritaku tentang kelakuan aneh Rio.

“Hahaha.. bagus dong, An. Itu tandanya dia minta perhatian balik ke kamu.” Ia menggosok-gosok rambutku yang panjang.

“Kamu kok malah ketawa sih? Aku, kan, pengennya di perhatiin Giva!” teriakku ke muka Shinta.

“Dih ngarep. Hahaha.. Iya, ngerti kok aku, An. Tapi Rio juga ngga kalah gantengnya kan sama Giva?” ia malah menggodaku lagi

“Dih jauuuhhh!” aku menyangkalnya.

Setelah menikmati beberapa pekan stay di rumah,  kami resmi naik ke kelas 2 SMK. Di mana anak-anak mulai nakal, karena sudah bukan menjadi junior lagi. Di kelas 2, aku mendapatkan wali kelas yang terkenal killer di sekolah. Pak Hasyim, dengan badan yang tinggi dan rambut botaknya, ia menyuruh seluruh kelasku memperkenalkan diri kepadanya. Setelah semua sudah memperkenalkan diri kepadanya, ia mulai membuat rules.

“Saya minta, semua anak di kelas ini berteman. Oleh sebab itu, jangan membeda-bedakan mana laki dan mana perempuan. Laki dan perempuan harus duduk bersebelahan.” Teriaknya dengan suara yang 5 oktav.
Kelas kami pun mulai pindah bangku, yang ku lihat pertama adalah Giva. Sayang, ia sudah di booking sama Via, seorang model tinggi yang setiap ke sekolah tampil elegan. Semua murid saling bergerak, aku hanya duduk di bangku-ku dan menunggu siapa rekan bangku cowo-ku. Aduh, Rio. Ia menaruh tas ransel nya di bangku. “Ngga dapet tempat selain ini, janji ngga ganggu kok.” Ia bilang dengan singkat. Syukurlah kalau begitu.

Hari-hari berjalan seperti biasa, entah apa roh yang menyambet Rio sampai ia tidak menggodaku lagi selama kelas 2 ini. Sampai dengan semester 5, ujian akhir semester sudah menunggu. Saat ujian Fisika, aku menamatkan Rio yang serius menghitung angka demi angka. Satu setengah jam, dan aku baru menggarap lima dari dua puluh lima soal. Rio dengan polosnya keluar bangku dan membawa kertasnya. “Rio! Udah selesai? Tungguin.” Bisikku.

Rio kembali ke bangku, aku melihat kertas ulangannya. Dua puluh lima soal, Rio sudah menggarap semua dengan rumus yang rapih. Rio membalikkan kertas ulangannya kepadaku. Dengan cepat aku menyalin semuanya. Hanya lima belas menit, aku sudah selesai semua. Aku mengumpulkannya dan keluar kelas. Rio yang keluar dari pintu kelas, ku panggil dengan nada selembut mungkin.

“Rio?” dengan jalan menuju arahnya.

“Ya, An?” ia menoleh, dengan lehernya yang terlihat berotot.

“Ngga papa. Makasih udah bantuin. Hehe..” aku menepuk lengannya, merasa berhutang kepadanya. Tangannya juga terlihat berotot, jemariku merasakan lekukan demi lekukan di lengannya.

“Sama-sama, aku emang suka itung-itungan kok hahaha..” ia tersenyum memalingkan wajahnya, berjalan menuju kantin. Benar juga kata Shinta, Rio lumayan ganteng juga, dengan rambut yang sedikit panjang dan dadanya yang bidang.

Aku memanggilnya lagi, “Rio!!”

“Apa lagi Anaaa?!” ia menjawab dengan sedikit jengkel.

“Umm.. Sabtu, habis renang nonton yuk?”

“Boleh, atur aja.” Ia tersenyum kembali.

Akhirnya hari Sabtu. Seluruh kelas dua SMK libur karena ujian tes olahraga renang. Semua murid perempuan tes terlebih dahulu, saat giliranku, aku melakukannya dengan mudah. Ah, hanya 100 meter. Dan akhirnya semua murid perempuan selesai. Saatnya giliran murid laki-laki, kelasku mendapat giliran pertama, kuperhatikan satu demi satu teman sekelasku, mataku mendapatkan seseorang berbadan yang setengah telanjang dan sangat berotot, itu Rio? Tidak salah, dadanya membelah bidang, perutnya yang membentuk enam persegi tak henti-hentinya ku pandangi, inchi demi inchi lekukan punggungnya sangat seksi. Harus kuakui, untuk urusan badan, Giva tak ada apa-apanya dibanding Rio. Terus menerus kupandangi saat dia meluncur untuk menepati ujian 100 meter itu.

Suara Shinta membuyarkan lamunanku “An! Nafas dong!” aku memalingkan wajah ku ke wajah Shinta, nafas beratku yang terhentak hentak dengan menggenggam tangan Shinta.

“Apa? Apa? Lihat apa?!” tanyanya penasaran.

“Rio, Shin! Rio!” jawabku sambil bergemetar.

“Iya kenapa?!”

“Ngga lihat? Hot abis!” bisikku di telinganya

“Tuh kan, An, aku bilang apa. Dia bikin kamu kelepekan.. makan omongan sendiri.. Hahaha!” candanya.

Pandaganku terus terpaku di Rio saat meniriskan badannya, harus kuakui, aku menyesal pernah menganggap ia Invicible. Aku pun menyudahi memandanginya. Lagipula, aku bisa bertemu dengannya nanti saat kita pergi. Setelah keluar dari kamar mandi wanita, aku melihatnya didepan pintu keluar memakain kemeja hitam dan jeans. Apa yang Rio tunggu? Pikirku. Aku menghampirinya dan menyapanya. “Hai, Io.” Sapaku.

“Hai, udah siap?” ia bertanya sambil tersenyum.

“S..S..Siap. Di mana?” tanyaku balik.

“Terserah, TP? Yuk.” Aku menggenggam tangannya dan menariknya, ia menggenggam lebih erat tanganku. Ia mengendarai motor bebek, ia memuatku di belakang.

Tiba kami di Tunjungan Plaza, menuju XXI,  untuk kencan pertama, film superhero memang cocok untuk menemani sepasang sejoli yang masih saling mencoba memahami. Film The Incredible Hulk, menceritakan Dr. Bruce Banner yang diperankan oleh Edward Norton yang berusaha menjauhi kekasihnya yang diperankan oleh Liv Tyler karena ia tak mau kekasihnya tersakiti karena perubahannya yang menjadi mahluk besar akibat sinar gamma.


Setelah film selesai aku mengajaknya untuk membeli kopi di cafe XXI, 

 “Keburu-buru ngga?” tanyaku “Ngopi yuk, gantian deh aku yang bayarin. Hahaha..”

“Boleh. Mumpung besok Minggu.” Ujarnya dengan cepat.

Kami duduk di bangku kosong di depan, ia memesan Frappucino es, sama sepertiku.

“Hai, Io.” Panggilku.

“Ya, An?” jawabnya. Ia bermain dengan tempat tisu meja makan. 

"Kalau boleh jujur, langsung aja ya, aku itu sukaaa banget sama kamu yang sekarang.” Ia tersedah kecil “Eh kamu ngga apa?”

“Wow, aku juga suka kamu. Ahaha.. Iya, terus?” jawabnya cool.

“Ngga godain aku yang kaya dulu, sekarang kamu juga dandanannya lebih rapih, kacamatamu ngga segede dulu kaya pertama masuk, dan badan mu sekarang seksi banget, kamu nge-gym ya? Hahaha.” Pujaku. Aku mungkin adalah wanita, tapi aku tak mau hanya karena aku sebagai wanita aku tak berani mengutarakan isi hati. Tak lama, aku menyambung “Jadi, Io, entah kenapa rasa ini semakin mengakar, dan kau ngga bisa bohong. Aku tiba-tiba jadi sayang kamu.” tanyaku.

Rio menatap ku kosong, aku menunggu suara yang dilepaskan dari pitasuaranya, memperhatikan bibirnya yang melingkup untuk mengatakan sesuatu “Ehm.. iya kok, kalau boleh jujur, aku tanya ke Shinta buat dapetin kamu. Haha.. ngga nyangka aja sekarang malah jalan sama kamu.” Ia berkata.

“Shinta? Ya ampun dia yang nyampein semua? Hahaha.. Kalau gitu...”

“Tapi, maaf An.” potongnya. “Rasanya ngga fair kalau aku ngedapetin kamu itu susah, tapi kamu ngedapetin aku bisa gampang.”

“Iya, Io. Maaf sebelumnya, aku bukan Betty Ross yang bisa terima kamu pas kamu masih jadi ‘aneh’. Aku cuma cewe egois yang...”

“Psst..” ia menggenggam tanganku. “Aku ngga pernah nyalahin kamu. Sekolah kita masih panjang, aku ngga mau di tengah-tengah kita kandas. Lebih baik kita cukup segini aja. Kita juga harus ujian praktek, kan.” Ujarnya.

Kenapa ngga di coba dulu, Io? Bagian manaku yang perlu aku ubah untuk bisa pas jadi bagian dari kamu?! Seakan kalimat itu ingin kulontarkan dengan keras di wajahnya. Aku adalah pemilih yang buruk, aku selalu menginginkan kesempurnaan, tapi malah dibuat lenyap oleh kesempurnaan.

Ruangan yang ber-AC seakan tak mempan mendinginkanku, dahi dan leherku berkeringat, hati dan otak seakan saling menghajar. Aku terus menerus diam tak berpatah kata, namun aku harus bisa membuktikan bahwa aku adalah sesosok wanita yang dewasa. Aku terus menahan air mataku. Mungkin seperti sudah rumusnya bahwa manusia itu seperti magnet, ketika magnet A mendambakan sisi lain dari magnet B, magnet B menolak. Tapi ketika magnet B menginginkan sisi lain magnet A, magnet A menolak.

Sampai lah kami di rumahku, aku turun dari motor bebeknya, ia pun turun mengikutiku, ia melepas helmnya. Aku segera ke depan pintu pagar ku agar ia tak tahu bahwa aku tidak bisa membendung air mataku. “Lucyana.” Panggilnya.

Kuhentikan langkah ku, kuambil nafas panjang dan menghembuskannya, tubuhku berbalik ke arahnya. Ia menghampiriku, aku menjawabnya “Iya, Mario?” sambil tersenyum.

“Maaf” katanya “Aku sudah menghabiskan perasaanku ke kamu sebelum kamu peduli aku” Aku tak bisa menjawab ocehannya, aku terus memandang wajahnya dari dekat, tatap matanya membunuh mataku dengan perlahan, wajahnya terus mendekat ke wajahku, mataku terpejam dengan sendirinya. Kurasakan gesekan antara dua sisi daging tebal membungkam bibirku. Lambat laun aku merasakan bibirku semakin melembab. Tangan Rio mencengkram pinggulku dan mendekatkan ke arahnya. Kami saling mendekatkan dada kami. Terus menerus hingga ke leher. Pelukannya memberi rasa nyaman. Aku menikmati malam yang kian sunyi di antara sensasi gerakan lidah Rio di bibirku. Aku tak mau melepasnya, ia berikan aku surga dunia yang manis. Aku tak mau ini berakhir.

Perlahan, nadi ku terus memuncak hingga beberapa bit-rate, ia melepaskan bibirnya. Aku tak akan pernah melupakan ini. “Gutennait, Lucy.” Ia berkata. Ia pergi ke tempat motornya di sanding, lalu pergi meninggalkan rumahku.

Hari demi hari aku menikmati saat-saat di sekolah bersamanya. Aku habiskan waktuku di sekolah hampir tak lepas melihat wajahnya. Saat ia makan ke kantin bersamaku, saat kami bekerja sama dalam mengerjakan ujian, saat aku kerumahnya untuk mengerjakan tugas bersama. Aku tak akan pernah melupakan saat itu. Kami terus menempel hingga teman-teman mengira bahwa kamu adalah sepasang kekasih. Tapi, hubugan yang seperti ini justru akan bertahan lama, bukan. Di dalam doa ku aku selalu menyebut namanya. Ya Tuhan, jika ia meninggalkanku, jika ia tak mencintaiku, hukum dia untuk mencintaiku selamanya.

Sampai setibanya masa dimana kami sudah lulus sekolah. Seusai salat subuh, handphone Nokia E71 ku bergetar, menatap tab atas, yang bertuliskan message dari Mario Bramantio.
‘Dear Lucyana Anggraeni, sudah mutusin ambil kuliah jurusan apa? Di Jakarta macet banget, mau ke Trisakti aja harus nunggu lama. See ya later.’

Delete Message
Confirm

Aku melanjutkan tidur di hari libur sambil menunggu panggilan dari Universitas Sepuluh November Surabaya. Jahat? Tidak, aku tidak jahat, aku hanya berpikir bahwa ketika kamu tidak menginginkan seseorang itu, maka jangan membuatnya jatuh ke hatimu.

 ▄


Rio kembali menatap handphonenya. “Ana?! Lucyaaanaaa~” goda saudara sepupuku, Dea di sampingku. “Kok bengong? Itu cowoku, mau aku kenalin?”

“Ngga usah De, anakku udah nunggu. Kasihan, liburan ke sini ngga makan. Ahaha.” Aku mengambil pesanan Burger King ku. “duluan ya De” aku mencium pipinya. “muah muah”
Kuletakkan mulutku di samping telinganya dan berbisik “Ganteng juga cowomu. Hihihi.” Dan ia tersenyum

Aku berjalan meninggalkannya, menuju mobil suamiku. Suamiku, Giva dan anakku menunggu di dalam mobil. Aku memberikan Burger pesanan mereka, VW tahun 2013 Giva meluncur menuju hotel di mana kami tinggal. Dan kadang-kadang aku berfikir, kasihan Dea, ia memakan bekas roti gigitanku. Hahaha.

Minggu, 23 November 2014

Alasan Kamu Dijauhin Orang Sekitar



Setiap gue mau nulis post di blog, gue selalu lihat koleksi film gue, gue buka random, dan gue ngebuka film. Gue ngebuka film American Beauty. Film itu menceritakan bahwa setiap orang punya pandangan yang menarik, kenapa setiap orang itu saling membutuhkan, dan setiap orang yang cuma ada butuhnya doang. Dan post ini terisnpirasi dari film itu.
Well, hidup emang ngga lengkap rasanya kalau ngga pernah ada masalah sosial, gue juga pernah nyeritain masalah sosial gue di sini. Yup, ‘kehilangan’ orang-orang sekitar. Bukan berarti mereka lenyap dimakan komodo, tapi mereka “menghindar” dari lo. Dan gue rasa, gue tahu alasan mereka ninggalin kita karena sikap kita sendiri.  Ini sikap-sikap yang bikin orang sekitar ngejauhin kita

1.      Dateng Pas Butuhnya Doang

Pas SMK, gue punya temen yang baik banget namanya Ian. Saking baiknya, sampai-sampai  sepeda motor gue diparkirin di depan ruang kepala sekolah sama doi.  Dia ngga pernah itung-itungan soal duit, karena emang doi anaknya orang berada, gue kalau minta jajan di beliin, pas gue ngga bawa motor di anterin, pokoknya baik banget. Suatu ketika kami ulangan bahasa Inggris. Untuk urusan Inggris-Inggrisan, gue cukup menguasai materi ini, tapi ngga dengan sohib gue Ian. Sebelum ulangan, dia tanya ke gue, dan reaksi gue agak jengkel karena gue merasa diganggu karena lagi ngobrol sama temen gue yang lain. Beberapa hari setelah itu, gue ngga bawa motor pas ke sekolah, dan gue minta anterin Ian, jelas dia ngga mau dong, dia lebih milih ke parkiran motor duluan dan pulang. Gue emang ngga sadar, gue sadar pas dia bilang ke temen-temen gue kalau gue dateng pas butuhnya doang, temen-temen gue juga bilang ke gue. Yup, ketika seseorang ngga ngomong sama elo, biasanya dia ngomongin lo. Temen-temen gue bilang ke gue kalau gue orangnya emang dateng pas butuhnya doang, setelah gue coba ubah sikab gue itu, akhirnya Ian, sohib gue bisa akrab lagi sama gue.

2.      Ngga Mau Rugi

Retno adalah salah satu gebetan gue anak sosialita, dia lebih milih ngga makan daripada ngga dandan. Suatu ketika kami ngedate, kami nonton bioskop yang waktu itu filmnya Paul Walker pas belum mokad. Sebagai seseorang yang punya batang, gue harus bayarin doi karena gue yang ngajak nonton, harga 2 tiket bioskop adalah Rp.60.000, gue bayar dengan uang Rp.50.000 dua lembar, karena bioskop baru buka, mereka ngga punya kembalian jadi gue minta ke Retno Rp.10.000 biar uangnya pas, di dalem bioskop dia pinjem HP gue. Selesai nonton, kami pulang, doi sudah di jemput ortunya. Gue coba telpon nyokap gue, ternyata pulsa gue habis, padahal baru isi pulsa, pas gue cek, ternyata dua jam yang lalu ada SMS yang mengatakan bahwa gue telah mentransfer pulsa 20.000 ke nomer gebetan gue. Udah tau dong apa yang dimaksud perhitungan? Belum jadian aja perhitungan, gimana pas punya anak~


3.      Terlalu Kepo

Kalau deket sama seseorang, memang ada batasnya, walaupun itu sahabat sendiri, tapi elo ngga wajib tahu masalahnya yang cukup pribadi, KECUALI, emang dia pengin cerita sama elo. Misalnya, keluarganya dia ada masalah yang cukup besar, it’s their own business. Lo jangan jadi orang ke sekian yang nambah pengen tahu.

4.      Ngeselin

Ngga usah gue jelasin, rasanya semua tahu gimana kalau jadi orang ngeselin. Gue kasih contoh. Misal, disaat lo lagi butuh banget sama orang, dan lo nge-BBM orang itu, orang itu ngga nge’R’ chat lo, tapi dia bisa ganti profile pictures. Kecuali sibuk, orang yang sengaja ngga nge’R’ BBM itu menurut gue ngeselin. Banget.

5.      Kamu Ngga Menarik

Gimana jadi orang menarik? Gue pernah jelasin itu di sini.

Yup, itu mungkin alasan paling klasik kenapa elo dijauhin orang. Kenapa gue bisa ngerti? Karena gue ngalamin sendiri. Yup, guys, sampai ketemu di next post. See you, don’t be an asshole. ;)

Rabu, 29 Oktober 2014

CERPEN: Marrying A Stranger (18+!!!)

Sebentar lagi aku akan meninggalkan Inggris, setahun di sini rasanya cepat sekali. Tapi, tanah air Indonesia sudah menantiku, senang rasanya sebentar lagi aku bisa pulang ke kampung halaman.

Tuntutan pekerjaan tidak mengijinkanku untuk bersenang-senang di sini, hari-hari-ku aku habiskan di kantorku di kota London, Basinghall Avenue, tepatnya di gedung Standard Chartered. Dengan gaji 56 euro per jam, aku bisa menyewa apartemen kecil di belakang kantor.


Hari ini, kontrak bekerjaku di sini sudah habis, tapi tiket pesawat masih menunjukkan minggu depan baru pesawatku akan tinggal landas. Aku memutuskan untuk mengunjungi kota dari klub kesebelasan kesayanganku, Liverpool. Ku selesaikan bill di apartmentku, aku mengemasi barangku yang sekiranya aku butuhkan.

Mencari info tentang kereta yang akan menuju Liverpool, aku menuju stasiun kecil di kota London, Maglift. Ternyata kereta menuju Liverpool satu jam lagi, dengan cepat aku booking kereta itu. Kota London dan Liverpool berjarak kurang lebih 290km, membutuhkan waktu sekitar satu jam jika naik kereta cepat.

Sabtu sore ini, membeli kopi di mesin kopi tidaklah buruk, sambil menunggu kereta datang. Dua blok dari tempat duduk, perempuan setinggi kurang lebih 160 centimeter dan membawa tas ransel kecil tampak kebingungan melihat tiket kereta, wanita itu seperti keturunan Arab dan Inggris, hidung yang tajam dan pipi yang lesung dengan memakai syal Chelsea, membuat ia tampak memukau. Ia mendekatiku –karena hanya ada aku– dan bertanya,

“Excuse me, sir. Is this train stop that will go to Liverpool?” Tanyanya, dengan aksen asli Inggris.

“Yes, I think so. Do you wanna to go to Liverpool, too?” Balasku dengan senyum

“Oh yes, thanks, sir. Umm.. may I sit here?” Ia menunjuk bangku panjang yang sedang ku duduki.

“Sure.” . Jawabku ramah.

Kami bagaikan rasa bersalah yang terlalu dini untuk bertemu, dengan pilar rasa malu yang membatasi kami untuk melanjutkan pembicaraan. Aku hanya memutar-mutar ampas kopi ku yang tersisa di gelas styrofom,  sedangkan dia hanya bermain dengan kuku jemari tangannya dan rambut merah kehitamannya yang menutupi bagian samping wajahnya.

Dua puluh menit, kereta datang dari arah timur stasiun Maglift, aku bergegas berdiri, dan, wanita itu juga berdiri, aku masuk duluan ke gerbang utama, ternyata kereta itu cukup penuh, mungkin karena stasiun Maglift adalah pemberhentian sementara. Seat ku C3, dua seat dari depan, aku menaruh tas ransel ku ke bagasi atas dan duduk. Wanita muda itu naik dari gerbang, dan mengarah ke arahku, ia menaruh ranselnya di dada dan duduk di sebelahku lagi, benar-benar sebuah kebetulan.

“Hi, sir, you again.” Katanya dengan cengengesan.

“Ah, you stalk me, right?” Candaku.

“Nope, sir. Those ticket seller want us to sit together. Ahahaha!” Candanya balik dengan tawa ringannya.

Kereta mulai menggelindingkan bannya. Tawa wanita muda itu membuatku ingin untuk membuka obrolan lebih lebar dan panjang dengannya, ternyata tawa dapat membuat orang asing bak gula pasir, cepat menyatu dan larut.

“So, you’re from London, right? What is your name?” Tanyaku penasaran.

“I’m Dea, and you, sir? Wait. How did you knew I was from London?” Balasnya.

“I’m Bram, c’mon, you wear Chelsea’s scarf. Hey, I’m 25 years old, by the way, don’t call me ‘sir’.”

“Oh, these scarf.. just because people wear Chelsea’s stuff doesn’t mean they’re from London, right. But yes, I’m from London. Bram? Like motorcycle? Bram.. bram..? Wanita itu berbicara penuh canda, melepas syalnya dan meluruskannya

“Hahaha.. I don’t think you’re so amusing. My full name is Bramantio, Mario Bramantio.”

“Bramantio? That’s name looks familiar. Did you Indonesia descent? Or you’re from Indonesia?” Ia bertanya begitu penasaran

“Yes, I’m from Indonesia. Why you looks so curious?”

“Karena aku juga dari Indonesia, Bramantio. Hahaha...” jawabnya cepat. Mataku tergelak kaget, percakapan kami menggunakan bahasa Inggris terasa sia-sia.

“Serius?” tanyaku “maksudku, kamu sudah tau mukaku asli Indonesia. Kenapa ngajak ngomong bahasa Inggris?”

Ia terpingkal-pingkal kecil dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya “Kebiasaan kali, Bram. Empat tahun di sini siapa aja aku ajak bahasa Inggris. Eh ngomong-ngomong aneh kalau manggil cuma pakai nama, aku panggil kamu kak aja ya.”
“Terserah lah. Ahaha.. empat tahun di sini kamu kuliah De?”

“Iya, di Oxford, akhir bulan kemarin baru graduate. Aku masih pengin jalan-jalan di sini. Kamu di sini juga kuliah, kak?” tanyanya dengan wajah yang masih sumringah.

“Engga, aku baru selesai kontrak kerja di bank. Kamu kapan rencana pulang? Ngga bosen apa di Inggris?”

“Bosen?” tiba-tiba wajahnya berubah menjadi muram “Ngga semua orang bisa ke sini, kak. Boleh lah, kalau nikmati negeri orang. Ceritain dong kak, kenapa kamu bisa ke sini?”

“Hmm.. sebenernya aku ditawarin di, California, Hong Kong, Jepang juga sih, tapi..”

“Tunggu dulu.” Potongnya “Jepang? Kenapa milih Inggris dari pada Jepang?”

“Kalau di Jepang ngga ketemu kamu dong?” godaku.

“Hahaha.. Alah gombal. Terus, terus?”

“Aku juga mikir-mikir sih, Jepang sumber daya manusia kan jarang, apa-apa di sana mahal. Kalau di California, katanya di sana sering badai. Hong Kong malah apaan, yang paling jelas ya Inggris, SDM ada, poundsterling juga lumayan tinggi, kan. Cuacanya juga pas. Ya aku pilih Inggris lah.  Lagian di Inggris, juga ada klub favoritku, Liverpool. Aku juga pengin suatu hari, ya mungkin aja nikah sama orang sini, memperbaiki keturunan. Hahaha..” Jelasku.

“Hahaha.. Eh? Tapi Jepang kan juga enak kak, di sana bisa beli JAV.” Katanya.

“Hahaha!” tawaku tak sengaja. Aku berbisik “Eh, kamu itu cewe, kok tau JAV. Udah ah, jangan di bahas.” Balasku.

“Ya tau lah, masa cewe ngga boleh tau. Ahaha.. Eh Liverpool ya? Yang ngga pernah juara EPL itu?” ejeknya dengan nada bercanda.

“Dih, kok tiba-tiba nyela. Chelsea emang pernah menang Champions sampai lima kali?”

“Eh tapi musim lalu Runner-up EPL, lho. Udah ah, kok jadi bahas bola?”

“Kamu duluan” aku menggerutu “terus bahas apa dong? Eh kamu dong ceritain kenapa bisa sampai ke Inggris?” tanyaku.

“Hmm.. it’s a long story.”

“I’d love to hear it.”

“Jadi.. Pertama, pas papa meninggal waktu itu aku baru lulus SMP.”

“My biggest condolences..” potongku.

Ia tersenyum “Thanks, kak. Pas itu, aku ikut mama ke Singapore. Mama jadi TKI di sana. Terus.. well, mama juga ngga pengin aku kaya dia, kata beliau. Beliau menyuruh aku ngelanjutin SMA di Singapore, bukan sekolah sih, kaya lecture ber-sertifikat gitu, dengan tabungannya selama di sana. Mama ikut majikan yang hartanya melimpah ruah, and.. suatu ketika, majikan mama itu nikah, and you know what.. mereka ngga punya anak. Dan, 10 tahun di sana mama udah capek untuk ngelanjutin kerja, mama pengin pulang ke Indonesia. And finally, aku dibiayai majikan mama untuk kuliah, kebetulan mereka juga punya saudara di Inggris. Gitu..”

Aku mengambil nafas dalam-dalam “Kalau gitu aku kurang bersyukur, ya, Dea.”

“Kenapa, kak?” jawabnya.

“Ngga semua orang bisa ke Inggris, dan ternyata juga ada yang ke Inggris dengan jalan yang terjal.”

Bilik seat kami ber-oksigenkan kenangan Dea, mendengarkan memori kelam orang asing adalah bahan bakar untuk menghidupkan kesunyian. Dea boleh disebut pemeran baru dalam perjalananku, tapi suasana dan kebersamaan lama-kelamaan akan mengakar dan mempersatukan kami kurang dari satu jam. Aku mengalihkan topik pembicaraan.

Dea memanggil petugas kereta keliling. “Morning sir, vodka please.” Ia menoleh ke arahku “kamu apa, kak? Aku yang bayar.” tanyanya.

“Umm.. water?”

Petugas kereta mengambil air dan vodka kaleng dari lemari es berjalannya. “Here is the water, and vodka. It’ll be four pound.”

Dea menyerahkan uang kertas 5 pound, “keep that changes” katanya. Dea langsung menunggak vodka kalengnya. Aku melihat jendela, ternyata kami sudah sampai di Liverpool, aku melihat sungai menyeberangi antara rel kereta dan jembatan layang.

“Sungai apa ya itu, De?” tanyaku.

“Mersey, kak. Ih masa ngga tau, katanya fans Liverpool.” Candanya.

“Oh, jadi derbi Merseyside itu diambil dari nama sungai ini.”

“Maybe.”

“Awas mabok lho” kataku sambil melihat Dea yang terus menunggak vodkanya.

“Engga..” balasnya “kalau minumnya dua galon baru mabok.”

Kereta pun sampai di stasiun Exchange, Liverpool. Aku menunggu Dea keluar dari gerbang, mengemasi barangku dan turun. Melihat dea yang masih menikmati vodkanya.

“Thanks, stranger, udah nemenin satu jam di kereta. Mau lanjut ke Liverpool bagian mana?” ceplosku.

“Stranger? You still thought we’re still stranger? We’re connected.” katanya.

“Yup, err.. Dea. Okay, see you.”

“Yah.. masa pisah sih? Temenin Dea lah, kak. Kamu mau ninggalin aku gitu aja? Kaya papaku.” serunya.

“Yup.. Err, okay kamu udah ngebuat aku merasa bersalah .” Jelasku.

“Can I ask you something? Are you a banker?” tanya Dea

“Sure. I mean, I’ve told you before. Why?”

“Because you leave me a loan. Aku kedinginan, kak.” Serunya manja sambil merapatkan sweaternya rapat-rapat

“Ha ha.. nice joke, kid. Aku tahu, kok.” Sambil ku menepuk pundak Dea.

“Kenapa bisa tahu?”

“Because we’re connected. Okay, jalan aja ya.. Eh ngomong-ngomong ngga ada yang jealous?” kataku

“Argh.. Ada tuh, Steven Gerrard.” Dea menunjuk poster Liverpool di dinding stasiun. “Udah yuk.” Ia menggapai tanganku dan menggandengku.
.
Aku patuh ke sesuatu yang tak bisa ku tebak. Aku terus menggandengnya dengan seksama dan erat. Mengikuti kemanapun ia melangkah. Dalam tubuhku tumbuh petunjuk Tuhan memberikanku teman. Entah apa yang di pikirkan Dea, tetapi aku adalah orang yang mudah jatuh ke seseorang yang membuatku merasa ditemani. Dea adalah kota besar di hidupku yang belum aku jelajahi

“Merasa aneh ngga sih kamu, De?” tanyaku.

“Aneh? Aneh kenapa, kak?”

“Baru kenal dua jam lalu, sekarang kita udah gandengan.”

“Katamu we’re connected? Hahaha.. Kita berdiri di negara bebas kali, kak. Yang baru kenal semenit pun, juga bisa aja nikah. Hahaha..” candanya.

“Itu kan katamu..” kataku dengan muka bebek “Tahu Radiohead?” tanyaku.

“Yup, that’s one of my favorite british band.” Ia menjawab dengan antusias

“Besok sore di Goodison Park.”

“What?! Pasti udah habis tikernya.”

“On stage kali, nonton yuk. Aku bayarin deh.”

“Boleh, ngga apa kok, aku bayar sendiri. By the way, kita mau ke mana sekarang?"

Ia mengalihkan pandangan ke orang di dekat pintu stasiun bertanya ke security “Excuse, sir. Do you know the cheapest hotel around here?”

“About two hundred meters to east” kata penjaga pintu yang gagah itu “may I help you to order taxi, madam?”

“No sir, I prefer walking. Thanks, anyway.” Dea melemparkan senyuman manis dan membuat petugas itu ikut tersenyum.

Kami berjalan kaki, menuju ke timur, sore hari lumayan dingin di Inggris, berjalan satu kilometer pun tak menjadi masalah. Kami berdua berfoto bersama, bercanda gurau, menikmati detik-detik terakhir aku di Inggris bersama... orang yang baru dua jam aku kenal. Dan sampailah kami di hotel itu. Kami melihat hotel di belakang restauran, Ibis Hotel. Hotel bintang empat yang tidaklah cukup murah per malam jika di Indonesia.

“Cheapest hotel he said?” tanyaku muram.

“Around here. Ayolah. Jarang-jarang di sini.”

Menuju ruang resepsionis. Kami check-in di ruang resepsionis “Good afternoon, madam, sir. How can I help you?” kata resepsionis hotel itu

“Yes, I’d like to make reservation, one room with double bed” Dea menjawab

“Oka..”

“Wait.. wait..” aku memotong pembicaraan resepsionis, aku berbicara ke Dea “Kita se-kamar? Seriously?”

“Ngga apa. Aku ngga tidur.” Jawabnya, ia memalingkan wajahnya ke resepsionis kembali “Yes?”

“Okay, can I have your name? Your full name?” tanyanya

“Dea Oktaviani. O-K-T-A-V-I-A-N-I.”

“Allright, Mrs. Ok-ta-vi-ani, one room with double bed tonight, It will be 595 pound. Here’s the check-in card, your room is 2nd floor, ready for 5 minutes. Thank you.” Ia menyerahkan kartu check-in ke Dea.

Kami menuju lantai 2 lewat tangga. Dea memasukkan kartu ke slot pintu kamar. Kamar itu cukup megah, dengan TV LCD dan mini kulkas di samping TV. Dea meletakkan barang di bawah dan membuka selambu jendela. “Okay, kamu tidur di atas. Aku gampanglah, kalau ngantuk ya tidur di bawah.” Katanya. “Aku nyari tempat makan dulu ya” Dea keluar. Aku tergeletak di kasur empuk berukuran king size itu.

Rasa cemas ku ini kekal sekali, Dea adalah penyebab kecemasan itu. Kecemasan adalah penyakit tak ber-obat. Bagaimana tidak cemas, seumur hidupku aku baru ini sekamar dengan seorang wanita. Ditambah wanita ini baru ku kenal hari ini. Siang di Liverpool mengakibatkan banyak pikiran, ribuan wajah yang ku-kenal hanya satu yang membuatku gelisah saat ini. Bagaimana jika tiba-tiba aku menikahi Dea? Pikiran ku mulai ke mana-mana. Kecemasan hanya menjadi bebal dalam hidupku. Tapi sudahlah, saatnya beristirahat.

Pantulan-pantulan cahaya dari kaca-kaca yang membiaskan awan sore bergema mengarungi mataku, membangunkanku dari tidur yang lelap. Seseorang duduk di kursi dan bermain laptop. Ya Tuhan, itu Dea, ternyata aku tak bermimpi.

“HAI KEBOOO!” teriak Dea yang masih menancapkan mata di Macbook air nya. “Enak nya habis bangun tidur. Mandi sana. Ngga usah cari makanan, aku udah booking dinner di resto sebelah.” Serunya.

Aku melihat jam, ternyata jam 4 sore. Aku tertidur 2 jam. Aku masih kebingungan bak orang sehabis pingsan.

“Bisa dansa ngga?” tanya Dea

Aku terpaku kebingungan, “Hah? Dansa?” tanyaku

“Yup. Dansa bebas, aku sih bisa balet. Resto yang aku booking ngadain dance bersama couple. Jadi sebelum dinner, ada acara dansa dulu. Mau ya, ya, ya.”
“Terserah deh, De. Aku mandi dulu ya.” Jawabku.

Setelah keluar dari kamar mandi, aku melihat Dea yang dibaluti dress putih tak berlengan dan potongan di bawah lutut. Telinganya di hiasi giwang lingkaran besar, lehernya di tandai dengan liontin emas. Ia tampak elegan dengan tampilannya. Ia menunggu diluar sementara aku mengganti baju dengan jas kemeja putih dan rompi.

Kami nemuju restoran di dekat hotel kami, Venon Arms. Restauran itu dihiasi lampu-lampu bulat kecil di atas dinding-dinding tingginya. Bertemakan kuning yang klasik dan meja-meja yang di pakaikan kain kaca yang mengkilat. Pasangan-pasangan yang ber-malam minggu di sini tampak gagah dan cantik. Kami tampak paling muda dan pendek di antara pasangan-pasangan yang lain, karena gen kami yang Indonesia.

Kami duduk di meja paling belakang, waitress menuangkan air ke dalam gelas kami. Tak lama, musik klasik jazz berbunyi. Suara piano yang merdu dari titisan jari-jari professional. “Yok, udah siap?” Dea bertanya, ia berdiri dan menggandengku ke tengah ruangan yang mejanya membentuk letter U itu. Lampu dimatikan.

Anak piano-piano itu terus bernyanyi intro River Flow In You, sorotan lampu menyinari kami dan pasangan-pasangan yang berdansa. Kami mulai berdansa. Di mulai dari ia mendekati ku. Kami berpapasan dan tangan kanan kami saling berpegang. Dea beputar ke arahku mendarat di dadaku, ia melompat, aku menggendong Dea dari depan. Ia mengitari bawah tanganku yang menyongsong tangan Dea. Ia mengangkat kakinya, aku mengambil kakinya yang diangkat dan merangkul tubuh Dea, dan berputar. Dea dengan lincah menari-nari, aku pun mengerti maksudnya dan kami bagaikan listrik, sinkron.


Empat setengah menit kami berdansa. Dea merangkul leherku, berbisik “Hebat. Belajar dari mana?” aku tak sempat membalas. Launan nada itu mulai melambat, tanda akan berhenti. Kami berdampingan, dan berbaring di atas karpet merah itu berdua berhadapan.

Aplause dari penikmat dinner dan penonton dari luar jendela restauran berdatangan. Kami kembali ke meja kami dengan nafas kami yang tersenga-senga. Waitress mengantarkan makanan pembuka, sup jamur kental.

“Aku ngga nyangka kamu bisa ngerti maksudku” seru Dea.

“Katanya we’re connected. Gimana sih? Hahah..”

“Lah, masih di inget. Hahaha..”

Setelah pembuka, main course pun datang. Aku menyantap lahap chicken maryland pesanan Dea itu.

“Aku ke kamar mandi dulu ya” Ijin Dea

“Negara bebas.” Jawabku

Kuletakkan garpu pisauku di piring, aku sudah selesai makan. Waitress mengemasi piringku dan Dea. Orang-orang satu persatu mulai pergi, menipis. Kami berbincang sampai larut malam di restauran 24 jam itu. Dua pasang mata yang mulai lelah saling terikat.

“Makasih untuk hari ini.” kataku kepadanya. Merasa agak mabuk dari wine yang aku teguk. “Kamu wanita yang hebat”

“Kamu muji?” Dea tersenyum dan keluar dari bilik bangkunya, ia duduk di sebelahku. Paha kami saling berkontak fisik. “kamu juga pria kuat.”

Rayuan itu jelas tidak normal, tapi malam bersuhu 19 derajat celsius di Liverpool itu seakan berhenti. “Masih sadar? Yuk ke kamar.” Ajaknya.

Aku bergejolak aneh, menyadari diriku bagaikan rusa yang sudah di sergap harimau. Mata cokelat Dea berkilat mempesona. “Jadi” bisiknya “Kamu ngga pernah sama wanita hebat, kan, Kak.”

Aku masih merasakan diriku ter-jerat bekapan wine. Ditambah mata Dea, berupaya menyembunyikan luapan emosi; rasa malu, rasa gembira, dan rasa takut “Aku ngga pernah sama wanita manapun sebenarnya.”

Dea tersenyum dan beringsut lebih dekat “Aku ngga ngerti apa yang ada di pikiranmu. Tapi, biar aku jadi yang pertama.”

Ketakutan dan nadi ku berpacu kencang bersama, memori masa laluku lenyap. Menguap bersama malam yang dingin di kepulauan Britania Raya. Untuk pertama kalinya aku merasakan hasrat dan tak tertantang oleh rasa malu, rasa ingin meluapkan apa yang aku rasakan.
Aku menginginkan wanita itu.
Sepuluh menit kemudian, kami berada di kamar hotel berpelukan. Dea tak terburu-buru, sepasang bibir dan tangan Dea dengan sabar menumbuhkan sensasi-sensasi yang belum pernah sama sekali kurasakan dari tidak berpengalaman jiwaku.
Inilah pilihanku, Dea tak memaksanku.
Dalam pelukannya, aku pertamakalinya merasakan segalanya tak ada yang rumit, ketika berbaring menatap sinar-sinar yang terpikat oleh jendela malam, aku akan melakukan apa saja yang ingin Dea lakukan. Ini adalah dosa terindah yang pernah kulakukan.

Pagi hari di kota Liverpool, hanya dengan selimut aku menutupi tubuhku, melihat Dea yang tak menggunakan apapun bermain Macbook di mejanya. “Hei baby..” kata Dea. Ayo mandi, kita cari sarapan.”

“I made a sin.” Kataku. Astaga dia tidak tidur sungguhan.

Dea menghembuskan nafas panjang “Everybody made their own sin, darl.” Balasnya. Aku mandi dan berpakaian rangkap baju, kemeja, sweater dan jazz. Melihat suhu di iPhone ku yang sepuluh derajat celsius tampaknya aku tak mungkin juga hanya ber-kaso dan celana pendek.

Kami berjalan sekitar satu kilometer ke Eton Place, tempat bistro. Memilih tempat duduk di luar sedangkan Dea baru saja memesan sarapan.

“Kamu cakep pakai jazz itu” Dea membuka pembicaraan

“Kalah aku sama kamu, kamu ngga pakai apa-apa aja udah cakep.” Gurauku ke Dea.

“Bloodyhell hahaha.. Umm, kamu ngga punya temen di sini, kak?”

“Last time I have a friend he became a bullshit.”

“Segitunya..”

“Iya, temen ku di sini juga orang Indonesia. Sekitar tujuh orang di tempatin di kantorku, I hate to say, lama kelamaan sikapya aneh. Biasa, orang kaya baru, baru ke Inggris udah sombong.”

“Kamu bukannya juga baru ke Inggris?” Dea memotong pembicaraanku. Sarapan diantarkan oleh waitress, scrambel egg dan kentang goreng, dengan kopi susu kental. “thanks” kata Dea ke waitress itu.

“Aku sombong ngga?”

“Ya ngga sih... Kita sama, kak. Di saat aku lebih suka sendiri, di saat orang-orang ngga ada buat aku, Tuhan nemuin aku sama kamu. Semoga kesamaan kita ngga sampai situ.”

Semakin ke sini aku semakin bisa menumbuhkan rasa ke Dea. Ternyata cinta itu artistik, tak mengenal sosok dan waktu. Dea ubah seluruh rasa bertanyaku menjadi kemakluman. Seolah aku adalah kura-kura dengan cangkang yang kuat tak terkalahkan yang ingin mengubah dunia, kemudian datang Dea yang membalikkan cangkanku dengan mudahnya. Rasa khayal mendapatkan teman sehidup begitu pudar dengan kehadiran Dea.

Selesai sarapan, kami menuju Goodison Park, sekitar 4 kilometer dari sini. Kami menyewa sepeda double sadel, sepeda itu berwarna hitam mengkilap yang bisa menyala waktu malam hari. Dilengkapi sensor, setelah satu jam di parkir, sepeda itu akan di tarik kembali oleh penyewa jasa.

Bersepeda 4 kilometer tidaklah se-pegal saat kami berdansa 5 menit, tepat di depan Goodison Park telah banyak orang memakai syal dan kaos Radiohead. Loket tiket baru saja di buka, kami membeli tiket di situ juga, dengan antrian yang panjang tetapi rapi dan tak ricuh. Aku membayar tiket masing-masing 45 pound. Itu tiket festival, duduk paling depan.


Kami membeli makanan kecil untuk di bawa ke konser nantinya, Burger King di depan Goodison Park terlihat tak terlalu ramai, aku menunggu Dea membeli makanan, sementara Dea menunggu pesanan, aku melihat ia tampak berbincang dengan seseorang berkulit cokelat, Dea bersalaman dan tertawa bersama wanita itu. Wanita itu melihat ke arahku. Aku pun tak jelas melihat dia, kebetulan kacamata ku di tas dan tak bisa memandang sejauh itu. Selesai menerima pesanan, Dea pun menghampiriku.

“Siapa?” tanyaku.

“Lucy, sepupu jauh ku.” Kata Dea

“Orang Indonesia? Ngga dikenalin ke aku?

“Iya.. Dia keburu-buru katanya. Yaudah,  nunggu di dalem yuk.”

Jam menunjukan pukul 12. Konser dimulai sekitar 3 jam lagi. Dea menyenderkan kepalanya di pundakku, rambut panjang sebahunya yang merah kehitaman mengurai di antara tangan-tanganku. Menunggu bersama Dea rasanya terlalu cepat. Ia mengubah waktu menjadi oksigen, sesuatu yang aku pikir itu cepat habis walaupun sebenarnya masih ada. Saling beberapa kalimat dan kata yang sudah kami ucapkan, Dea memanggilku, “Bram.. maksudku, Kak.” Ia memanggil.

“Ya, De?” ku arahkan wajahku ke tengah rambutnya yang beraromakan stroberi itu. Aku tak bisa bohong, ini sangat terasa nyaman.

“Jadi pulang minggu ini? Pesawatmu ngga bisa di cancel aja?” Tanyanya memelas.

“Ngga yakin sepertinya kalau ada yang buat nyaman di Inggris.” Kataku.

“Aku kan” candanya “misalnya jadi, aku ikut ya. Aku di sini udah ngga punya siapa-siapa selain orang yang aku kenal kemarin.”
“Aku kan” sahutku.

“Menurutmu.. Dengerin aku ngomong dulu ya. Ngga ngerti kenapa aku takut kehilangan orang yang aku kenal dua hari lalu. Aku juga ngga ngerti kenapa Tuhan mengijinkan kita bersama, kalau ngga untuk bersama. Tolong ngerti aku, Bram. Aku cinta kamu. Aku tahu banget kita baru kenal. Menurutku ngga ada salahnya kalau kita lebih saling mengenal dengan saling bersama. Dan kadang, dunia ini adalah ruang yang saling terhubung, everything is connected. Selalu ada yang berhubungan meskipun kamu tak mau berhubungan dengan hal itu.”

“Ngga ngerti omonganmu, De, kamu ngomong kok puitis banget. Tapi aku ngerti kok, aku juga ngerasain itu sama kamu. Kamu itu lucu, baik, cantik. Dan walaupun, suatu hari nanti ketulusanku kamu pertanyakan, De, jangan pernah nyesal ya kalau kita pernah bertemu. ”

“Halah sialan. Hahaha. Iya, Bram.”

Thom Yorke menaiki panggung tak ber kanopi itu, memulai mengambil nafas untuk beraksi dengan berpenonton kerumunan orang-orang dengan sifat histeris. Gabungan suara baritone dan bass melengkapi ramainya suasana lagu radiohead itu. Mereka bernyanyi High And Dry. Dea menggenggam tanganku erat dan melihat ke arahku. Aku tatap mukanya yang bak lorong waktu, keindahan, ketakutan, dan kecintaan yang penuh. Letihku di perjalanan ini lengkap bersama orang yang baru ku kenal. Dea adalah fragmen asing terindah di hidupku. Aku ingin menyutradarai kami. Biarkan aku menyutradarai kami. Aku adalah sutaradara kami. Dea.


Akhirnya, kami menikah dan bahagia di Indonesia.