Rabu, 29 Oktober 2014

CERPEN: Marrying A Stranger (18+!!!)

Sebentar lagi aku akan meninggalkan Inggris, setahun di sini rasanya cepat sekali. Tapi, tanah air Indonesia sudah menantiku, senang rasanya sebentar lagi aku bisa pulang ke kampung halaman.

Tuntutan pekerjaan tidak mengijinkanku untuk bersenang-senang di sini, hari-hari-ku aku habiskan di kantorku di kota London, Basinghall Avenue, tepatnya di gedung Standard Chartered. Dengan gaji 56 euro per jam, aku bisa menyewa apartemen kecil di belakang kantor.


Hari ini, kontrak bekerjaku di sini sudah habis, tapi tiket pesawat masih menunjukkan minggu depan baru pesawatku akan tinggal landas. Aku memutuskan untuk mengunjungi kota dari klub kesebelasan kesayanganku, Liverpool. Ku selesaikan bill di apartmentku, aku mengemasi barangku yang sekiranya aku butuhkan.

Mencari info tentang kereta yang akan menuju Liverpool, aku menuju stasiun kecil di kota London, Maglift. Ternyata kereta menuju Liverpool satu jam lagi, dengan cepat aku booking kereta itu. Kota London dan Liverpool berjarak kurang lebih 290km, membutuhkan waktu sekitar satu jam jika naik kereta cepat.

Sabtu sore ini, membeli kopi di mesin kopi tidaklah buruk, sambil menunggu kereta datang. Dua blok dari tempat duduk, perempuan setinggi kurang lebih 160 centimeter dan membawa tas ransel kecil tampak kebingungan melihat tiket kereta, wanita itu seperti keturunan Arab dan Inggris, hidung yang tajam dan pipi yang lesung dengan memakai syal Chelsea, membuat ia tampak memukau. Ia mendekatiku –karena hanya ada aku– dan bertanya,

“Excuse me, sir. Is this train stop that will go to Liverpool?” Tanyanya, dengan aksen asli Inggris.

“Yes, I think so. Do you wanna to go to Liverpool, too?” Balasku dengan senyum

“Oh yes, thanks, sir. Umm.. may I sit here?” Ia menunjuk bangku panjang yang sedang ku duduki.

“Sure.” . Jawabku ramah.

Kami bagaikan rasa bersalah yang terlalu dini untuk bertemu, dengan pilar rasa malu yang membatasi kami untuk melanjutkan pembicaraan. Aku hanya memutar-mutar ampas kopi ku yang tersisa di gelas styrofom,  sedangkan dia hanya bermain dengan kuku jemari tangannya dan rambut merah kehitamannya yang menutupi bagian samping wajahnya.

Dua puluh menit, kereta datang dari arah timur stasiun Maglift, aku bergegas berdiri, dan, wanita itu juga berdiri, aku masuk duluan ke gerbang utama, ternyata kereta itu cukup penuh, mungkin karena stasiun Maglift adalah pemberhentian sementara. Seat ku C3, dua seat dari depan, aku menaruh tas ransel ku ke bagasi atas dan duduk. Wanita muda itu naik dari gerbang, dan mengarah ke arahku, ia menaruh ranselnya di dada dan duduk di sebelahku lagi, benar-benar sebuah kebetulan.

“Hi, sir, you again.” Katanya dengan cengengesan.

“Ah, you stalk me, right?” Candaku.

“Nope, sir. Those ticket seller want us to sit together. Ahahaha!” Candanya balik dengan tawa ringannya.

Kereta mulai menggelindingkan bannya. Tawa wanita muda itu membuatku ingin untuk membuka obrolan lebih lebar dan panjang dengannya, ternyata tawa dapat membuat orang asing bak gula pasir, cepat menyatu dan larut.

“So, you’re from London, right? What is your name?” Tanyaku penasaran.

“I’m Dea, and you, sir? Wait. How did you knew I was from London?” Balasnya.

“I’m Bram, c’mon, you wear Chelsea’s scarf. Hey, I’m 25 years old, by the way, don’t call me ‘sir’.”

“Oh, these scarf.. just because people wear Chelsea’s stuff doesn’t mean they’re from London, right. But yes, I’m from London. Bram? Like motorcycle? Bram.. bram..? Wanita itu berbicara penuh canda, melepas syalnya dan meluruskannya

“Hahaha.. I don’t think you’re so amusing. My full name is Bramantio, Mario Bramantio.”

“Bramantio? That’s name looks familiar. Did you Indonesia descent? Or you’re from Indonesia?” Ia bertanya begitu penasaran

“Yes, I’m from Indonesia. Why you looks so curious?”

“Karena aku juga dari Indonesia, Bramantio. Hahaha...” jawabnya cepat. Mataku tergelak kaget, percakapan kami menggunakan bahasa Inggris terasa sia-sia.

“Serius?” tanyaku “maksudku, kamu sudah tau mukaku asli Indonesia. Kenapa ngajak ngomong bahasa Inggris?”

Ia terpingkal-pingkal kecil dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya “Kebiasaan kali, Bram. Empat tahun di sini siapa aja aku ajak bahasa Inggris. Eh ngomong-ngomong aneh kalau manggil cuma pakai nama, aku panggil kamu kak aja ya.”
“Terserah lah. Ahaha.. empat tahun di sini kamu kuliah De?”

“Iya, di Oxford, akhir bulan kemarin baru graduate. Aku masih pengin jalan-jalan di sini. Kamu di sini juga kuliah, kak?” tanyanya dengan wajah yang masih sumringah.

“Engga, aku baru selesai kontrak kerja di bank. Kamu kapan rencana pulang? Ngga bosen apa di Inggris?”

“Bosen?” tiba-tiba wajahnya berubah menjadi muram “Ngga semua orang bisa ke sini, kak. Boleh lah, kalau nikmati negeri orang. Ceritain dong kak, kenapa kamu bisa ke sini?”

“Hmm.. sebenernya aku ditawarin di, California, Hong Kong, Jepang juga sih, tapi..”

“Tunggu dulu.” Potongnya “Jepang? Kenapa milih Inggris dari pada Jepang?”

“Kalau di Jepang ngga ketemu kamu dong?” godaku.

“Hahaha.. Alah gombal. Terus, terus?”

“Aku juga mikir-mikir sih, Jepang sumber daya manusia kan jarang, apa-apa di sana mahal. Kalau di California, katanya di sana sering badai. Hong Kong malah apaan, yang paling jelas ya Inggris, SDM ada, poundsterling juga lumayan tinggi, kan. Cuacanya juga pas. Ya aku pilih Inggris lah.  Lagian di Inggris, juga ada klub favoritku, Liverpool. Aku juga pengin suatu hari, ya mungkin aja nikah sama orang sini, memperbaiki keturunan. Hahaha..” Jelasku.

“Hahaha.. Eh? Tapi Jepang kan juga enak kak, di sana bisa beli JAV.” Katanya.

“Hahaha!” tawaku tak sengaja. Aku berbisik “Eh, kamu itu cewe, kok tau JAV. Udah ah, jangan di bahas.” Balasku.

“Ya tau lah, masa cewe ngga boleh tau. Ahaha.. Eh Liverpool ya? Yang ngga pernah juara EPL itu?” ejeknya dengan nada bercanda.

“Dih, kok tiba-tiba nyela. Chelsea emang pernah menang Champions sampai lima kali?”

“Eh tapi musim lalu Runner-up EPL, lho. Udah ah, kok jadi bahas bola?”

“Kamu duluan” aku menggerutu “terus bahas apa dong? Eh kamu dong ceritain kenapa bisa sampai ke Inggris?” tanyaku.

“Hmm.. it’s a long story.”

“I’d love to hear it.”

“Jadi.. Pertama, pas papa meninggal waktu itu aku baru lulus SMP.”

“My biggest condolences..” potongku.

Ia tersenyum “Thanks, kak. Pas itu, aku ikut mama ke Singapore. Mama jadi TKI di sana. Terus.. well, mama juga ngga pengin aku kaya dia, kata beliau. Beliau menyuruh aku ngelanjutin SMA di Singapore, bukan sekolah sih, kaya lecture ber-sertifikat gitu, dengan tabungannya selama di sana. Mama ikut majikan yang hartanya melimpah ruah, and.. suatu ketika, majikan mama itu nikah, and you know what.. mereka ngga punya anak. Dan, 10 tahun di sana mama udah capek untuk ngelanjutin kerja, mama pengin pulang ke Indonesia. And finally, aku dibiayai majikan mama untuk kuliah, kebetulan mereka juga punya saudara di Inggris. Gitu..”

Aku mengambil nafas dalam-dalam “Kalau gitu aku kurang bersyukur, ya, Dea.”

“Kenapa, kak?” jawabnya.

“Ngga semua orang bisa ke Inggris, dan ternyata juga ada yang ke Inggris dengan jalan yang terjal.”

Bilik seat kami ber-oksigenkan kenangan Dea, mendengarkan memori kelam orang asing adalah bahan bakar untuk menghidupkan kesunyian. Dea boleh disebut pemeran baru dalam perjalananku, tapi suasana dan kebersamaan lama-kelamaan akan mengakar dan mempersatukan kami kurang dari satu jam. Aku mengalihkan topik pembicaraan.

Dea memanggil petugas kereta keliling. “Morning sir, vodka please.” Ia menoleh ke arahku “kamu apa, kak? Aku yang bayar.” tanyanya.

“Umm.. water?”

Petugas kereta mengambil air dan vodka kaleng dari lemari es berjalannya. “Here is the water, and vodka. It’ll be four pound.”

Dea menyerahkan uang kertas 5 pound, “keep that changes” katanya. Dea langsung menunggak vodka kalengnya. Aku melihat jendela, ternyata kami sudah sampai di Liverpool, aku melihat sungai menyeberangi antara rel kereta dan jembatan layang.

“Sungai apa ya itu, De?” tanyaku.

“Mersey, kak. Ih masa ngga tau, katanya fans Liverpool.” Candanya.

“Oh, jadi derbi Merseyside itu diambil dari nama sungai ini.”

“Maybe.”

“Awas mabok lho” kataku sambil melihat Dea yang terus menunggak vodkanya.

“Engga..” balasnya “kalau minumnya dua galon baru mabok.”

Kereta pun sampai di stasiun Exchange, Liverpool. Aku menunggu Dea keluar dari gerbang, mengemasi barangku dan turun. Melihat dea yang masih menikmati vodkanya.

“Thanks, stranger, udah nemenin satu jam di kereta. Mau lanjut ke Liverpool bagian mana?” ceplosku.

“Stranger? You still thought we’re still stranger? We’re connected.” katanya.

“Yup, err.. Dea. Okay, see you.”

“Yah.. masa pisah sih? Temenin Dea lah, kak. Kamu mau ninggalin aku gitu aja? Kaya papaku.” serunya.

“Yup.. Err, okay kamu udah ngebuat aku merasa bersalah .” Jelasku.

“Can I ask you something? Are you a banker?” tanya Dea

“Sure. I mean, I’ve told you before. Why?”

“Because you leave me a loan. Aku kedinginan, kak.” Serunya manja sambil merapatkan sweaternya rapat-rapat

“Ha ha.. nice joke, kid. Aku tahu, kok.” Sambil ku menepuk pundak Dea.

“Kenapa bisa tahu?”

“Because we’re connected. Okay, jalan aja ya.. Eh ngomong-ngomong ngga ada yang jealous?” kataku

“Argh.. Ada tuh, Steven Gerrard.” Dea menunjuk poster Liverpool di dinding stasiun. “Udah yuk.” Ia menggapai tanganku dan menggandengku.
.
Aku patuh ke sesuatu yang tak bisa ku tebak. Aku terus menggandengnya dengan seksama dan erat. Mengikuti kemanapun ia melangkah. Dalam tubuhku tumbuh petunjuk Tuhan memberikanku teman. Entah apa yang di pikirkan Dea, tetapi aku adalah orang yang mudah jatuh ke seseorang yang membuatku merasa ditemani. Dea adalah kota besar di hidupku yang belum aku jelajahi

“Merasa aneh ngga sih kamu, De?” tanyaku.

“Aneh? Aneh kenapa, kak?”

“Baru kenal dua jam lalu, sekarang kita udah gandengan.”

“Katamu we’re connected? Hahaha.. Kita berdiri di negara bebas kali, kak. Yang baru kenal semenit pun, juga bisa aja nikah. Hahaha..” candanya.

“Itu kan katamu..” kataku dengan muka bebek “Tahu Radiohead?” tanyaku.

“Yup, that’s one of my favorite british band.” Ia menjawab dengan antusias

“Besok sore di Goodison Park.”

“What?! Pasti udah habis tikernya.”

“On stage kali, nonton yuk. Aku bayarin deh.”

“Boleh, ngga apa kok, aku bayar sendiri. By the way, kita mau ke mana sekarang?"

Ia mengalihkan pandangan ke orang di dekat pintu stasiun bertanya ke security “Excuse, sir. Do you know the cheapest hotel around here?”

“About two hundred meters to east” kata penjaga pintu yang gagah itu “may I help you to order taxi, madam?”

“No sir, I prefer walking. Thanks, anyway.” Dea melemparkan senyuman manis dan membuat petugas itu ikut tersenyum.

Kami berjalan kaki, menuju ke timur, sore hari lumayan dingin di Inggris, berjalan satu kilometer pun tak menjadi masalah. Kami berdua berfoto bersama, bercanda gurau, menikmati detik-detik terakhir aku di Inggris bersama... orang yang baru dua jam aku kenal. Dan sampailah kami di hotel itu. Kami melihat hotel di belakang restauran, Ibis Hotel. Hotel bintang empat yang tidaklah cukup murah per malam jika di Indonesia.

“Cheapest hotel he said?” tanyaku muram.

“Around here. Ayolah. Jarang-jarang di sini.”

Menuju ruang resepsionis. Kami check-in di ruang resepsionis “Good afternoon, madam, sir. How can I help you?” kata resepsionis hotel itu

“Yes, I’d like to make reservation, one room with double bed” Dea menjawab

“Oka..”

“Wait.. wait..” aku memotong pembicaraan resepsionis, aku berbicara ke Dea “Kita se-kamar? Seriously?”

“Ngga apa. Aku ngga tidur.” Jawabnya, ia memalingkan wajahnya ke resepsionis kembali “Yes?”

“Okay, can I have your name? Your full name?” tanyanya

“Dea Oktaviani. O-K-T-A-V-I-A-N-I.”

“Allright, Mrs. Ok-ta-vi-ani, one room with double bed tonight, It will be 595 pound. Here’s the check-in card, your room is 2nd floor, ready for 5 minutes. Thank you.” Ia menyerahkan kartu check-in ke Dea.

Kami menuju lantai 2 lewat tangga. Dea memasukkan kartu ke slot pintu kamar. Kamar itu cukup megah, dengan TV LCD dan mini kulkas di samping TV. Dea meletakkan barang di bawah dan membuka selambu jendela. “Okay, kamu tidur di atas. Aku gampanglah, kalau ngantuk ya tidur di bawah.” Katanya. “Aku nyari tempat makan dulu ya” Dea keluar. Aku tergeletak di kasur empuk berukuran king size itu.

Rasa cemas ku ini kekal sekali, Dea adalah penyebab kecemasan itu. Kecemasan adalah penyakit tak ber-obat. Bagaimana tidak cemas, seumur hidupku aku baru ini sekamar dengan seorang wanita. Ditambah wanita ini baru ku kenal hari ini. Siang di Liverpool mengakibatkan banyak pikiran, ribuan wajah yang ku-kenal hanya satu yang membuatku gelisah saat ini. Bagaimana jika tiba-tiba aku menikahi Dea? Pikiran ku mulai ke mana-mana. Kecemasan hanya menjadi bebal dalam hidupku. Tapi sudahlah, saatnya beristirahat.

Pantulan-pantulan cahaya dari kaca-kaca yang membiaskan awan sore bergema mengarungi mataku, membangunkanku dari tidur yang lelap. Seseorang duduk di kursi dan bermain laptop. Ya Tuhan, itu Dea, ternyata aku tak bermimpi.

“HAI KEBOOO!” teriak Dea yang masih menancapkan mata di Macbook air nya. “Enak nya habis bangun tidur. Mandi sana. Ngga usah cari makanan, aku udah booking dinner di resto sebelah.” Serunya.

Aku melihat jam, ternyata jam 4 sore. Aku tertidur 2 jam. Aku masih kebingungan bak orang sehabis pingsan.

“Bisa dansa ngga?” tanya Dea

Aku terpaku kebingungan, “Hah? Dansa?” tanyaku

“Yup. Dansa bebas, aku sih bisa balet. Resto yang aku booking ngadain dance bersama couple. Jadi sebelum dinner, ada acara dansa dulu. Mau ya, ya, ya.”
“Terserah deh, De. Aku mandi dulu ya.” Jawabku.

Setelah keluar dari kamar mandi, aku melihat Dea yang dibaluti dress putih tak berlengan dan potongan di bawah lutut. Telinganya di hiasi giwang lingkaran besar, lehernya di tandai dengan liontin emas. Ia tampak elegan dengan tampilannya. Ia menunggu diluar sementara aku mengganti baju dengan jas kemeja putih dan rompi.

Kami nemuju restoran di dekat hotel kami, Venon Arms. Restauran itu dihiasi lampu-lampu bulat kecil di atas dinding-dinding tingginya. Bertemakan kuning yang klasik dan meja-meja yang di pakaikan kain kaca yang mengkilat. Pasangan-pasangan yang ber-malam minggu di sini tampak gagah dan cantik. Kami tampak paling muda dan pendek di antara pasangan-pasangan yang lain, karena gen kami yang Indonesia.

Kami duduk di meja paling belakang, waitress menuangkan air ke dalam gelas kami. Tak lama, musik klasik jazz berbunyi. Suara piano yang merdu dari titisan jari-jari professional. “Yok, udah siap?” Dea bertanya, ia berdiri dan menggandengku ke tengah ruangan yang mejanya membentuk letter U itu. Lampu dimatikan.

Anak piano-piano itu terus bernyanyi intro River Flow In You, sorotan lampu menyinari kami dan pasangan-pasangan yang berdansa. Kami mulai berdansa. Di mulai dari ia mendekati ku. Kami berpapasan dan tangan kanan kami saling berpegang. Dea beputar ke arahku mendarat di dadaku, ia melompat, aku menggendong Dea dari depan. Ia mengitari bawah tanganku yang menyongsong tangan Dea. Ia mengangkat kakinya, aku mengambil kakinya yang diangkat dan merangkul tubuh Dea, dan berputar. Dea dengan lincah menari-nari, aku pun mengerti maksudnya dan kami bagaikan listrik, sinkron.


Empat setengah menit kami berdansa. Dea merangkul leherku, berbisik “Hebat. Belajar dari mana?” aku tak sempat membalas. Launan nada itu mulai melambat, tanda akan berhenti. Kami berdampingan, dan berbaring di atas karpet merah itu berdua berhadapan.

Aplause dari penikmat dinner dan penonton dari luar jendela restauran berdatangan. Kami kembali ke meja kami dengan nafas kami yang tersenga-senga. Waitress mengantarkan makanan pembuka, sup jamur kental.

“Aku ngga nyangka kamu bisa ngerti maksudku” seru Dea.

“Katanya we’re connected. Gimana sih? Hahah..”

“Lah, masih di inget. Hahaha..”

Setelah pembuka, main course pun datang. Aku menyantap lahap chicken maryland pesanan Dea itu.

“Aku ke kamar mandi dulu ya” Ijin Dea

“Negara bebas.” Jawabku

Kuletakkan garpu pisauku di piring, aku sudah selesai makan. Waitress mengemasi piringku dan Dea. Orang-orang satu persatu mulai pergi, menipis. Kami berbincang sampai larut malam di restauran 24 jam itu. Dua pasang mata yang mulai lelah saling terikat.

“Makasih untuk hari ini.” kataku kepadanya. Merasa agak mabuk dari wine yang aku teguk. “Kamu wanita yang hebat”

“Kamu muji?” Dea tersenyum dan keluar dari bilik bangkunya, ia duduk di sebelahku. Paha kami saling berkontak fisik. “kamu juga pria kuat.”

Rayuan itu jelas tidak normal, tapi malam bersuhu 19 derajat celsius di Liverpool itu seakan berhenti. “Masih sadar? Yuk ke kamar.” Ajaknya.

Aku bergejolak aneh, menyadari diriku bagaikan rusa yang sudah di sergap harimau. Mata cokelat Dea berkilat mempesona. “Jadi” bisiknya “Kamu ngga pernah sama wanita hebat, kan, Kak.”

Aku masih merasakan diriku ter-jerat bekapan wine. Ditambah mata Dea, berupaya menyembunyikan luapan emosi; rasa malu, rasa gembira, dan rasa takut “Aku ngga pernah sama wanita manapun sebenarnya.”

Dea tersenyum dan beringsut lebih dekat “Aku ngga ngerti apa yang ada di pikiranmu. Tapi, biar aku jadi yang pertama.”

Ketakutan dan nadi ku berpacu kencang bersama, memori masa laluku lenyap. Menguap bersama malam yang dingin di kepulauan Britania Raya. Untuk pertama kalinya aku merasakan hasrat dan tak tertantang oleh rasa malu, rasa ingin meluapkan apa yang aku rasakan.
Aku menginginkan wanita itu.
Sepuluh menit kemudian, kami berada di kamar hotel berpelukan. Dea tak terburu-buru, sepasang bibir dan tangan Dea dengan sabar menumbuhkan sensasi-sensasi yang belum pernah sama sekali kurasakan dari tidak berpengalaman jiwaku.
Inilah pilihanku, Dea tak memaksanku.
Dalam pelukannya, aku pertamakalinya merasakan segalanya tak ada yang rumit, ketika berbaring menatap sinar-sinar yang terpikat oleh jendela malam, aku akan melakukan apa saja yang ingin Dea lakukan. Ini adalah dosa terindah yang pernah kulakukan.

Pagi hari di kota Liverpool, hanya dengan selimut aku menutupi tubuhku, melihat Dea yang tak menggunakan apapun bermain Macbook di mejanya. “Hei baby..” kata Dea. Ayo mandi, kita cari sarapan.”

“I made a sin.” Kataku. Astaga dia tidak tidur sungguhan.

Dea menghembuskan nafas panjang “Everybody made their own sin, darl.” Balasnya. Aku mandi dan berpakaian rangkap baju, kemeja, sweater dan jazz. Melihat suhu di iPhone ku yang sepuluh derajat celsius tampaknya aku tak mungkin juga hanya ber-kaso dan celana pendek.

Kami berjalan sekitar satu kilometer ke Eton Place, tempat bistro. Memilih tempat duduk di luar sedangkan Dea baru saja memesan sarapan.

“Kamu cakep pakai jazz itu” Dea membuka pembicaraan

“Kalah aku sama kamu, kamu ngga pakai apa-apa aja udah cakep.” Gurauku ke Dea.

“Bloodyhell hahaha.. Umm, kamu ngga punya temen di sini, kak?”

“Last time I have a friend he became a bullshit.”

“Segitunya..”

“Iya, temen ku di sini juga orang Indonesia. Sekitar tujuh orang di tempatin di kantorku, I hate to say, lama kelamaan sikapya aneh. Biasa, orang kaya baru, baru ke Inggris udah sombong.”

“Kamu bukannya juga baru ke Inggris?” Dea memotong pembicaraanku. Sarapan diantarkan oleh waitress, scrambel egg dan kentang goreng, dengan kopi susu kental. “thanks” kata Dea ke waitress itu.

“Aku sombong ngga?”

“Ya ngga sih... Kita sama, kak. Di saat aku lebih suka sendiri, di saat orang-orang ngga ada buat aku, Tuhan nemuin aku sama kamu. Semoga kesamaan kita ngga sampai situ.”

Semakin ke sini aku semakin bisa menumbuhkan rasa ke Dea. Ternyata cinta itu artistik, tak mengenal sosok dan waktu. Dea ubah seluruh rasa bertanyaku menjadi kemakluman. Seolah aku adalah kura-kura dengan cangkang yang kuat tak terkalahkan yang ingin mengubah dunia, kemudian datang Dea yang membalikkan cangkanku dengan mudahnya. Rasa khayal mendapatkan teman sehidup begitu pudar dengan kehadiran Dea.

Selesai sarapan, kami menuju Goodison Park, sekitar 4 kilometer dari sini. Kami menyewa sepeda double sadel, sepeda itu berwarna hitam mengkilap yang bisa menyala waktu malam hari. Dilengkapi sensor, setelah satu jam di parkir, sepeda itu akan di tarik kembali oleh penyewa jasa.

Bersepeda 4 kilometer tidaklah se-pegal saat kami berdansa 5 menit, tepat di depan Goodison Park telah banyak orang memakai syal dan kaos Radiohead. Loket tiket baru saja di buka, kami membeli tiket di situ juga, dengan antrian yang panjang tetapi rapi dan tak ricuh. Aku membayar tiket masing-masing 45 pound. Itu tiket festival, duduk paling depan.


Kami membeli makanan kecil untuk di bawa ke konser nantinya, Burger King di depan Goodison Park terlihat tak terlalu ramai, aku menunggu Dea membeli makanan, sementara Dea menunggu pesanan, aku melihat ia tampak berbincang dengan seseorang berkulit cokelat, Dea bersalaman dan tertawa bersama wanita itu. Wanita itu melihat ke arahku. Aku pun tak jelas melihat dia, kebetulan kacamata ku di tas dan tak bisa memandang sejauh itu. Selesai menerima pesanan, Dea pun menghampiriku.

“Siapa?” tanyaku.

“Lucy, sepupu jauh ku.” Kata Dea

“Orang Indonesia? Ngga dikenalin ke aku?

“Iya.. Dia keburu-buru katanya. Yaudah,  nunggu di dalem yuk.”

Jam menunjukan pukul 12. Konser dimulai sekitar 3 jam lagi. Dea menyenderkan kepalanya di pundakku, rambut panjang sebahunya yang merah kehitaman mengurai di antara tangan-tanganku. Menunggu bersama Dea rasanya terlalu cepat. Ia mengubah waktu menjadi oksigen, sesuatu yang aku pikir itu cepat habis walaupun sebenarnya masih ada. Saling beberapa kalimat dan kata yang sudah kami ucapkan, Dea memanggilku, “Bram.. maksudku, Kak.” Ia memanggil.

“Ya, De?” ku arahkan wajahku ke tengah rambutnya yang beraromakan stroberi itu. Aku tak bisa bohong, ini sangat terasa nyaman.

“Jadi pulang minggu ini? Pesawatmu ngga bisa di cancel aja?” Tanyanya memelas.

“Ngga yakin sepertinya kalau ada yang buat nyaman di Inggris.” Kataku.

“Aku kan” candanya “misalnya jadi, aku ikut ya. Aku di sini udah ngga punya siapa-siapa selain orang yang aku kenal kemarin.”
“Aku kan” sahutku.

“Menurutmu.. Dengerin aku ngomong dulu ya. Ngga ngerti kenapa aku takut kehilangan orang yang aku kenal dua hari lalu. Aku juga ngga ngerti kenapa Tuhan mengijinkan kita bersama, kalau ngga untuk bersama. Tolong ngerti aku, Bram. Aku cinta kamu. Aku tahu banget kita baru kenal. Menurutku ngga ada salahnya kalau kita lebih saling mengenal dengan saling bersama. Dan kadang, dunia ini adalah ruang yang saling terhubung, everything is connected. Selalu ada yang berhubungan meskipun kamu tak mau berhubungan dengan hal itu.”

“Ngga ngerti omonganmu, De, kamu ngomong kok puitis banget. Tapi aku ngerti kok, aku juga ngerasain itu sama kamu. Kamu itu lucu, baik, cantik. Dan walaupun, suatu hari nanti ketulusanku kamu pertanyakan, De, jangan pernah nyesal ya kalau kita pernah bertemu. ”

“Halah sialan. Hahaha. Iya, Bram.”

Thom Yorke menaiki panggung tak ber kanopi itu, memulai mengambil nafas untuk beraksi dengan berpenonton kerumunan orang-orang dengan sifat histeris. Gabungan suara baritone dan bass melengkapi ramainya suasana lagu radiohead itu. Mereka bernyanyi High And Dry. Dea menggenggam tanganku erat dan melihat ke arahku. Aku tatap mukanya yang bak lorong waktu, keindahan, ketakutan, dan kecintaan yang penuh. Letihku di perjalanan ini lengkap bersama orang yang baru ku kenal. Dea adalah fragmen asing terindah di hidupku. Aku ingin menyutradarai kami. Biarkan aku menyutradarai kami. Aku adalah sutaradara kami. Dea.


Akhirnya, kami menikah dan bahagia di Indonesia.






Senin, 27 Oktober 2014

Alasan Kenapa (Mungkin) Tuhan Ngga Ngabulin Doa Kita


Yo gaes, mumpung pikiran gue lagi bener-benernya, gue pengin share anggapan bahwa ada alasan Tuhan, dibalik Beliau ngga ngabulin doa kita.


 Sebelumnya, gue bukanlah anak konglomerat yang disediain Laptop dengan spek canggih, di kasih rumah pribadi untuk tinggal gue kelak bersama pacar istri, atau di belikan mobil mewah terbaru ber-merk Yong-Ma. But sometimes, bukannya ngga bersyukur, gue juga berdoa agar suatu hari gue punya rumah mewah, mobil yang banyak dan istri yang perhatian. Dan Tuhan belum ngabulin doa-doa gue tersebut. Apa alasannya?


1.      Kurang Merhatiin Tuhan

Lo udah diberi kesehatan, lo udah dikasih tempat tinggal yang ber-atap, lo udah makan enak 3x sehari. Tapi lo ngga sadar dan ngga merhatiin apa aja yang udah lo dapet semua itu dari Tuhan. Dan suatu ketika Tuhan mengambil salah satu dari hal itu. Kemudian lo dengan polosnya minta ke Tuhan untuk ngebalikin hal tersebut. Bayangin aja, lo punya temen, yang dateng ke elo pas ada maunya doang. Marah ngga?


2.      Kurang Bersyukur

“Ya Tuhan, berikan hamba iPhone 6” sementara kemarin lo baru aja beli iPhone 5S yang ngga beda jauh mahal harganya. Be thankful, di sana masih banyak orang yang ngga bisa beli iPhone, jangankan iPhone, handphone biasa aja ngga punya karena mereka sibuk mencari uangnya untuk makan. I told ya, you can’t have a perfect life, because it’s impossible. But you, can have a good life, because it’s perspective.


3.      Kurang Berusaha

Berdoa adalah hal yang bebal jika dilakukan tanpa usaha. Tuhan cinta umatNya yang mau berusaha dan bersyukur kepadaNya. Kamu minta Tuhan sesuatu dengan terus menerus, sementara kamu hanya diam. Hasilnya? Tentu ngga ada.


4.      Kurang Baik Ke Orang

Pendidikan agama gue, gue diajarkan untuk habluminallah dan habluminannas. Yaitu ngga hanya berbuat baik ke Tuhan, tapi juga berbuat baik ke sesama manusia.
Contohnya, lo udah berdoa dan berusaha keras untuk ngedapetin klien. Suatu ketika, lo di jalan di potong sama mobil, terus lo ngatain si orang yang motong jalan lo itu dengan sebutan binatang, ya misalnya “KELINCI!” terus dia lihat wajah lo dan di inget-inget terus sampai dia punya cucu. Entah gimana, tiba-tiba dia dateng ke kantor lo sebagai seorang klien, terus bos lo nyuruh lo untuk nanganin si kelinci ini. Dan tiba-tiba kelinci ini ngga mau di tanganin sama elo. Dan akhirnya minta bos lo untuk cari anak buahnya yang lain. That’s a simple explanation, you’ll learn from that automatically.


5.      Belum Waktunya

Kalau menurut lo empat hal di atas udah lo lakuin semua, tinggal pasrah, mungkin belum waktunya Tuhan ngasih apa yang lo minta. Atau mungkin Tuhan menyiapkan sesuatu yang lebih baik.


And finally this is the end part of my post, thanks for reading, gue hanya berbagi. Tapi for your information, doa gue sering di kabulkan Tuhan. Setiap hari gue berdoa supaya keluarga gue sehat, dan Tuhan sering banget ngabulin itu. Jika suatu hari gue sakit, mungkin ada saatnya Tuhan ngga ngabulin doa gue tersebut. Akhir kata, see you next post. J


Kamis, 16 Oktober 2014

Apa Kefanatikan Terbesarmu?

Baiklah, ini post hanya untuk memenuhi pos bulanan di blog gue, gue nulis post ini juga sambil ngantuk-ngantuk sambil lihat acara malem Netflix yang muka pemeran filmnya mirip-mirip film bokep.

Seminggu lalu gue merasa bersalah karena udah hampir berantem sama temen gue, sebut saja namanya Dede, yang-fanatik-abis-sama-klub-sepak-bola. Okay, gue ngga mau nyebut nama klub itu, tapi klub asal kota Manchester yang pakai jersey merah itu adalah klub yang musim transfer kemarin sudah datengin pemain hebat sampai menghabiskan ratusan juta. Euro.

Untuk mereka yang mengerti sepak bola, tentu bisa membayangkan bagaimana kombinasi Radamel Falcao, Angel Di Maria, Juan Mata Garcia dan Robin van Persie jika di atas lapangan dan di arsiteki mantan pelatih Belanda, Louis van Gaal. Tapi ya, namanya sepak bola, mereka cuma bisa kalah di kandang lawan.

Entah setan apa yang merasuki Dede, tanpa pernah dapet jatah nasi bungkus kalau tim tersebut menang, dia cepet-cepet nge-BBM gue pas gue ngetwit “Gimana mau menang, yang dimainin MU duit semua.” Yang sudah gue hapus. Dia maki-maki klub kesayangan gue, AC Milan, dengan huruf besar semua, yang diimbuhi tanda seru yang banyak di depannya, sampai memaki gue dengan kata-kata yang kotor, contohnya: “KUMAN!” ” BAKTERI!”


Dede hampir tiap tahun ngoleksi jersey sepak bola dari klub kesayangannya tersebut. Tentunya jersey yang harganya cuma tiga puluh lima ribu. Lalu, bagaimana dengan kita sendiri? Apa obsesi dan kefanatikan kita?

Ada kata fana di fanatik, fana yang artinya tidak nyata, berimbuhan tik, digabungkan menjadi fanatik, yang artinya tergila-gila dengan suatu hal walaupun hal itu tidak ada.

Suatu pagi, seorang teman, gue tanyain, apa kefanatikan terbesar lo?  Dia mempunyai kefanatikan yang semua lelaki bisa melakukannya, masturbasi, atau bahasa kasarnya coli. Sambil melihat Sora Aoi yang tertidur tanpa sehelai benang pun. Nikmat katanya, walaupun Sora Aoi itu tidak nyata, jadi benar, fanatik adalah mengagumi apa yang tidak nyata.

Fans JKT48, WOTA selalu fanatik dengan idol mereka masing-masing, mereka siap perang sipil jika JKT48 disebut girlband. Memakai tutup mulut dan topi miring, photobook yang dibawa kemana-mana ketika dia bepergian. Alay? Silahkan saja kalian menilai jika kefanatikannya menurutmu aneh. Suatu hari orang lain juga akan menyebutmu Alay karena kefanatikanmu yang suka menghakimi orang lain.

Path gue, penuh dengan orang-orang yang suka pamer. Bukankah Path kalian juga begitu, kisanak?  Kira-kira apa kefanatikan mereka? Mungkin mereka terlalu fanatik terlihat kaya, salahkah? Tidak, karena mereka tidak merugikan orang lain.

Gue pun punya kefanatikan gue sendiri, gue begitu fanatik dengan lihat film di laptop sambil tidur di kasur.


Jadi, apa kefanatikan terbesarmu?

Senin, 29 September 2014

CERPEN: Kopi Yang Pahit Untuk Hidupku

Ini adalah siang yang panas, di cafe bandara. Ahh.. bandara, tempat orang-orang melepas rindu dan air mata. Menunggu seseorang yang akan aku pinang seumur hidup datang, kami akan berlibur ke negara Itali, menghadiri pernikahan rekannya. Sambil menunggu, aku menikmati kopi moka-ku yang tak teraduk rata di dekat jendela cafe itu. Aku selalu suka menikmati kopi yang tidak diaduk, sangat menggambarkan hidup; pertama pahit dan semakin akhir semakin manis. Mungkin kisah perjalananku seperti kopi itu, aku juga pernah mengalami pahitnya dihianati.




▄
Kala itu aku masih perempuan polos yang baru pertama kali memasuki dunia kerja. Aku bekerja hanya sebagai tuntutan belajar hidup, tak perlu bekerja pun aku juga bisa hidup karena orang tuaku sudah cukup berharta untuk menghidupi anak perempuan tunggalnya. Hari pertama bekerja di perusahaan minyak negara sangatlah menyenangkan. Tepat jam empat sore, hujan turun menghujam kantorku. Aku berangkat kerja dengan angkutan umum. Sial, aku tidak bisa mengendarai mobil, jadi tak mungkin aku mampir ke parkiran dan mengambil mobilku, sialnya lagi aku menunggu angkutan umum di seberang jalan besar sambil menikmati air hujan yang menyerbu.

Basah kuyup kemeja casualku membuatku merasa seperti perempuan tak ter-urus. Untungnya, mana ada perempuan tak terurus yang memakai hi-heels tujuh senti? Seseorang dengan sepeda motor laki ber-cc 250 berhenti di samping trotoar tempat aku berdiri. Dia memakai kemeja casual yang dilapisi jaket. Ia membuka helm teropongnya dan berteriak dari pinggir jalan.

“Ngga aus ujan-ujanan? Ayo gue anterin!”

Sok kenal sekali cowok ini, kenapa juga aku harus percaya dia? Bagaimana kalau dia jahat kepadaku?

“Kan ujannya bisa di minum! Ngga usah, aku nungguin angkot!” Gengsiku mengalahkan logika, kemudian ia membalas

“Ngga bakal ada angkot, yuk gue anterin, percuma lo ujan-ujanan tapi ngga sampe rumah!” setelah diam sejenak, dia mengimbuhi ”Gue ngga jahat kok!”

Duh, waktu itu memang tak terlihat ada tanda-tanda angkutan umum lewat, hanya ada lelaki berjaket kulit itu di situ, apa boleh baut, aku melepas sepatuku dan menjinjingnya, naik ke jok belakang sepeda motor Ninja merah yang basah. Ia memacu kencang motornya, dan berhenti di depan warung kecil bertenda merah. Ia mengajakku masuk ke dalam dan duduk, ia memesan kopi panas dua gelas. Untuk hal mencari perhatian, lelaki memang pandai.
Ketika membuka helmnya, ia terlihat eksotis, rambut belah pinggir yang acak-acakan menghiasi matanya yang tajam dan dagunya yang lancip.

“Lo anak baru kan?” tanyanya samar, aku fokus melihatinya membuka jaket kulit yang press-body itu, dadanya cukup bidang untuk pegawai negeri, otot lehernya yang mengkilat akibat air hujan membuatku darahku melamban mengalir ke nadi.

“Woy!” bentakknya pelan.

“E.. Eh.. iya apa?” jawabku gugup dan menatap mukanya. “I.. Iya aku anak baru. Kenalin, Annisa. Kamu?” tanganku ku jabatkan.

Zerdian namanya, sudah dua tahun bekerja di perusahaan minyak negara. Kami memperkenalkan diri dan bercerita pengalaman bekerja. Itu percakapan yang sangat terasa menembus sore buat kami untuk saling memicingkan mata, sambil menikmati kopi yang hangat dan menunggu hujan reda. Ah, sore hari, sedikit usia Tuhan yang dipinjamkan ke manusia agar tahu rasanya abadi; dengan menikmati kopi panas disaat dinginnya hujan.

“Oh yayaya.. Lulusan akutansi. Pinter dong?” candanya.

“Pinteran kamu kali, di budaya dan ekonomi. Eh, hujannya mau reda nih, aku jalan aja deh, udah deket juga.” jawabku

“Lah, gue anterin aja... gratis, tenang aja..” dia terus memaksa.

Aku diam sejenak menatapi langit yang mulai jarang meneteskan air matanya “Entar ada yang cemburu...” candaku genit.

“Ngga ada, gue ngga punya cewe.”

Ih, macho-macho jomblo, pikirku, “Yaudah, deh.”

Sesampainya di rumah, aku dimintai nomor ponsel. Sedikit ragu, aku mengasihkan nomor ku kepadanya. Malamnya, kami berdua berbicara panjang lebar lewat pesan teks, ia mengaku tidak punya pasangan. Sebenarnya, ia pernah punya, namun meninggalkannya ke Jepang. Aku juga pernah memiliki kekasih, tapi itu sudah lama, dan tidak serius.
Sungguh? Maksudku, bagaimana mungkin pria macho bisa kesepian? Ia juga mempunyai Ibu yang sakit serius, ia bekerja untuk menafkahi Ibunya dan dirinya sendiri.

▄

Seseorang ber-Jazz hitam datang tepat di kafe dekat bandara, pria dengan tinggi seratus tujuh puluh lima senti itu menggandengku menuju penerbangan luar negeri. Pesawat lepas landas, perjalanan ke Itali membutuhkan waktu sekitar sebelas jam, ia membaca buku karyal Gayley Forman, If I Stay, dan menanyaiku

“Kenapa, Nis? Kok bengong?” tanyanya.

“Ngga pa-pa kok, Dra... eh, teman kamu Shifa itu cantik ngga sih?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.

“Lihat sendiri aja kalau sudah sampai, he-he.” Ia kembali membaca bukunya.

Aku tersenyum dan melihat luar jendela pesawat yang sayapnya merobek awan dan kembali memikirkan kenangan pahitku. Kenangan yang semakin hari semakin menyerupai bahasa asing, namun anehnya tak ada satupun yang bisa menerjemahkannya.


▄

Hari demi hari aku lewati di kantor itu, ada rekan yang baik, ada juga yang menyebalkan, semua teraduk rata di kantor itu. Aku tak pernah mempercayai rekan seolah mereka tak bisa jahat, pun aku tak pernah meragukan orang tak dikenal seolah-olah mereka tak bisa baik, Zerdian contohnya. Kita semakin dekat, karena Zerdian yang satu ruangan denganku. Kami bertukar ilmu, baru kenal tiga bulan dan rasanya kami sudah mendarah daging. Ia punya poin pandanganku, ia asyik dengan aksen Jawa Timur nya yang lucu. Ia lebih suka dipanggil Jaz, katanya memanggilnya dengan nama aneh bisa membuat orang menganggap bahwa kita sudah kenal dekat. Saat libur akhir pekan pun aku kerap memikirkannya. Ternyata aku tahu, rindu itu tak punya siklus.

Saat istirahat, aku mengetuk pintu ruangan, mengajak Zerdian yang sibuk mengerjakan tugas di komputer,

“Ngga istirahat Jaz?”

Ia nampak fokus menatap layar komputernya, mungkin dia masih fokus dan bekerja.

“Jaz? Kok bengong? Istirahat duluan ya..” aku meninggalkannya ke kantin.

Di kantin ia datang dengan membawa se-mangkuk bakso “Kamu betah kan di kantor?” tanyanya.

“Betah sih, kenapa?” jawabku.

“Ada aku soalnya, ya?” candanya lagi

“Ih, narsis.”

“Hahaha.. eh, Nis.” Tanyanya dengan muka menegang.

“Ya, Jaz?”

“Boleh ngomong ngga?”

“Apaan?”

“Kamu kerja disini, kenal aku, kenal yang lain, apa ngga suka salah satu karyawan gitu?”

Kenapa Zerdian tiba-tiba bertanya seperti itu? Tak seperti biasanya, Zerdian juga pakai “Kamu” daripada “Lo”.

“Umm. Suka semua kok, ngga ada yang ngga suka. Semuanya kan teman disini.” Jawabku.

“Bukan gitu maksudnya, Nisa... Disini ada yang terus merhatiin kamu, lho.”

“Siapa?”

“Aku.”

“Oh ya?” tanyaku, kuanggapnya bercanda.

“Menurutmu aneh?”

“Ngga sih, kalau itu memang tulus.”

“Sebenernya ngga tulus, aku juga pengin sesuatu dari kamu, yaitu kamu sendiri. Tapi aku tahu kok, sifat dasar pikiran adalah menolak dan meragukan. Mungkin butuh waktu.”

Sejenak aku berpikir, mungkin aku sudah saatnya membuka hati, aku tahu diri sudah berjalan jauh, tinggalkan jejak langkah. Tapi aku ingin melangkah lebih jauh, yaitu meninggalkan jejak hati ke orang lain. Jika aku menghindari, setidaknya aku perlu seseorang yang nantinya akan aku temui lagi, maka sekarang adalah saatnya.

Aku menggenggam tangannya yang berada di atas meja, dan berkata
“Aku ngerti kok, Jaz. Kita jalani dulu ya.” muka ku tampak malu-malu menatap Zerdian. “tapi.. boleh aku tau kenapa kamu maunya cuma sama aku?”

“Aku harap sampai kapanpun aku ngga ngerti kenapa aku milih kamu, supaya aku selalu mudah mencintai kekuranganku.”

“Mulai sekarang izinin aku mulai sering-sering lihat wajahmu, ya, Jaz. Supaya aku tahu, kalau jalan menuju pulang itu adalah kamu.”

Se-sederhana itu kami mengungkapkan cinta, kami adalah sepasang trauma yang berusaha saling menyembuhkan; masih telanjang belajar memahami dan menilai untuk menghakimi. Sepertinya aku adalah pelukis yang buruk, aku tidak bisa jelas melukis diriku sendiri, tetapi bisa sangat jelas aku melukis orang lain. Kita memelihara perasaan tak banyak tahu, karena justru dengan itulah rasa diantara kami tumbuh.

Zerdian juga sudah mengenalkanku ke orang-tuanya yang berada di kampung kecil di daerah depok. Wajah kedua orangtuanya sangatlah ramah, senyumnya mudah mencairkan suasana denganku. Zerdian adalah pekerja keras, dia bekerja bagai nelayan yang berotot, kemanapun angin membawanya ia tidak mau berhenti.

Empat belas bulan sudah kami menjalin itu semua. Aku terkadang suka merasa kesal dengannya, ia terlalu capek bekerja lapangan dan kantoran, perhatiannya juga mulai luntur kepadaku. Ban serep tidak akan kehilangan nilainya seperti ban meski tak jadi prioritas. Aku harap cinta Zerdian seperti itu. Setidaknya Zerdian harus menghidupi satu kegilaan dalam dirinya agar bisa tetap menjalani hidup normal; yaitu bekerja keras.

Suatu hari, saat awal bulan, ia mengajakku bersantap malam, di suatu restauran seafood yang harganya rata-rata tidaklah murah.
“Ini kan restauran mahal Jaz?” tanya ku habis turun dari sepeda motornya.

“Apa salahnya sekali-kali kesini bersama calon istri?” gombalnya.

Di meja kecil saling berhadapan wajah, setelah memesan santapan ia membuka percakapan, “Umur orang ngga ada yang tahu kan, Nis.”

“Iya, say. Kenapa emang?” tanyaku pelan.

“Orang tuaku juga semakin tua, aku pengin mereka bisa bahagia sebelum masanya habis. Rencana Tuhan selalu rahasia, tapi kalau direncanakan dan dijalani mungkin Tuhan juga ngerti keinginan kita.”

Aku diam sejenak, mencoba memahami maksud dan inti dari pembicaraan ini

“Aku pengin ngerencanain suatu hari orang lain manggil kamu Ibu Zerdian.” Lanjutnya. Dia mengambil sesuatu berwarnah merah bludru dari celana jeansnya “kalau kamu setuju sama rencanaku, kamu harus terima ini.”

Ia membuka kotak merah itu, itu cincin emas berukuran lingkaran kecil yang menyelip diantara gabus merah. Dia melamarku. Dua puluh tujuh tahun aku menjadi seorang perawan, di usia itu juga seseorang menginginkanku untuk menjadi teman hidupnya.

“Mungkin ini juga terlalu cepet, Nis,  tapi orang tuaku maksa.” Lanjut Zerdian “Sudah banyak hal baik yang aku lewatin dalam hidup, aku harus menebus, dan mastiin perjalananku berakhir di kamu. By the way, aku sudah bayar seperempat dari perencanaan ini. Aku bisa bangkrut dini kalau kamu nolak aku. Hahaha..” candanya. Aku mengambil kotak yang berada di dekat makanan itu, mengambil emas lingkaran dari tempatnya dan memakainya di jari manisku. Pas.

Keesokan siang, di kantor, aku berbincang dengan sahabatku yang sudah aku kenal selama setahun lebih, Marina.
“Tebak Rin, apa yang beda dari aku.” Tanyaku.

Ia mengerutkan dahi “Hmm.. apa ya, lo lebih cantik?”

“Ye.. dari dulu kalau itu. Ahaha.. lihat dong jariku.”

“Oh.. abis gajian. Lo beli cincin baru? Yakan?”

“Iiih.. bukan. Aku dilamar.”

Marina tampak tersedak keras dari minumannya “Serius lo, Nis? Lo di lamar sama Jaz?”

“Iyaaa!” seruku pelan.

Mata Marina yang terbuka lebar tampak ingin mengatakan sesuatu “Bukannya mau menghambat kisah lo, Nis. Gue benci bilangnya, tapi lo ngga bisa nikahin orang yang baru lo temuin.” Dia bilang.

Aku tak paham maksud omongannya, ia nampak serius “Tapi dia udah bayarin biaya wedding, Rin. Masa dia ngga serius?”

“Emang sih, lo lebih kenal dia. Tapi gue kenal dia lebih lama, nis. Yaaa.. gue akuin, Jaz itu keren, macho, eksotis, tapi dia bukan cowok yang cocok dijadiin suami. Dia pernah punya masalah sama atasan kita Pak Hendra. Dia pernah minjem sepeda motornya, terus ilang. Ngga tau dah ke mana. Katanya hilang pas mau bayar sewa truk. Terus setelah sehari, dia beli handphone baru, aneh kan? Tapi ya, kaya lo ngga tau pak Hendra aja, lo timpukin kepalanya pake batu juga dia tetep senyum sama elo.”

Tertampar dengan omongan Marina, aku masih membisu dan tidak percaya. Marina selalu jujur kepadaku, aku tahu itu. Rasanya aku ingin punya alat pendeteksi kebohongan dan memakaikannya ke Marina.

“Eh tapi..” lanjutnya “..itu kan udah dulu, setahun sebelum lo masuk sini. Ya dia pasti udah berubah lah. Yaudah deh Nis, selamat ya, gue ikut seneng.” hiburnya.

Mungkin waktu ini adalah jawaban atas semua pertanyaan, itu sebabnya yang indah tak bertahan lama. Dua hari sebelum pernikahanku, aku dan Jaz mengobrol panjang lebar di suatu kafe taman.
“Lusa udah siap belum, Jaz? Udah hafal ijab qabulnya emang? Hahahah!” candaku.

“Lah? Ya siap dong. Emang mau kamu yang ngucapin ijab qabul? Sekarang gantian aku yang tanya.”

“Apah?” jawabku genit.

“Emang kamu siap hamil?”

“Tergantung, kalau yang hamilin kamu ya mau.. Hahaha!” kami bercanda di atas meja kayu yang kusam. Sejenak kami diam setelah bergurau, ia membuka mulut lagi,

“Nis, boleh ngomong sesuatu ngga?” tanyanya.

“Apa?”

“Aku benci bilangnya, aku kan udah bayar setengah nikahan kita, dan kemarin tiba-tiba Ibu bilang beliau butuh dana buat obat, ngga murah. Intinya, aku tinggal bayar uang gedung sama dekornya. Kamu ada biaya ngga? Nanti kalau udah nikah, aku ganti.”

“Berapa Jaz?” tanyaku.

“Sekitar seratus lima puluhan, kalau ngga ada, aku bisa pinjem temenku kok.”

 Saat itu tak ada rasa ragu sedikitpun yang menjamah pikiranku, aku menjawab “Ada kok Jaz.” Sambil tersenyum “Kalau untuk masa depan, aku apa aja rela.”

Setelah pulang dari itu, aku tergeletak pegal di kasurku. Angin malam mulai membelai tubuh, ia kelembutan yang meski perlahan tak pernah ingkar janji. Pada malam yang telah mengelam, pikiran-pikiran mekar, buah dari pikiran itu siap di petik. Darinya,  itu adalah sebuah pertanyaan, dan pertanyaan seseorang yang akan menikah hanya satu “Apa dia jodoh yang tepat untukku?” tapi semoga keraguanku ini keliru.

▄

Sampai di stasiun kota Florence, Indra berbincang dengan orang Itali. Entah apa yang dibicarakan, namun orang itu tampak terbahak-bahak dengan rokoknya yang dijepit diantara bibirnya. Itulah mengapa aku bisa melupakan Jaz, karena Indra mempunyai aset terbesar dalam dirinya; yaitu berbuat baik kepadaku dan orang lain.

Sampai di rumah Shifa, teman Indra. Aku menaruh barangku di kamar Shifa. Ia menyuruhku untuk menyesuaikan jam tidur, Shifa adalah sosok wanita yang cantik, sopan, ber-etika dan lemah lembut, aneh rasanya jika Indra dahulu hanya berteman dengannya.
▄

Jum’at yang sunyi di kantor, asing ketika tak ada Jaz di kantor. Telepon genggamnya non-aktif, hari itu raga sangatlah bimbang, aku harus menikahi orang yang bahkan tak ada di saat besok adalah hari pernikahanku.

Saat jam istirahat aku menatap wajah marina yang duduk sendirian di meja belakang. Aku ingin menemuinya.
“Rin? Sendirian aja?” sapa ku sambil menyusulnya duduk di sebelahnya.

“Nis? Kok masih ngantor?” tanyanya dengan muka heran.

“Hah? Ya iyalah, kan besok nikahnya. Hahaha..”

“Emang udah beli pesawat buat ke Bali?”

“Bali? Lah ngapain gue ke sana?”

“Lu kan nikah di sana? Makanya gue ngga dateng, jauh amat. Ahaha.. Jaz udah ke Bali duluan?

Jaz? Ke Bali? Untuk apa? Pikirku. Aku semakin bingung dengan semua ini, Marina tak mungkin bohong ketika dia tak tertawa. Terangkat kaki ku langsung, aku menuju ruangan Pak Hendra, atasanku yang sangat ramah. Aku masuk ke kantornya, lelaki berusia empat puluh delapan tahun itu memegang kacamatanya.
“Eh, Annisa.. Ada apa, Nis?” tanyanya.

“Pak, apa Zerdian izin Bapak hari ini dia ke mana?” bimbang dengan nada bergetar karena nafas ku yang terputus-putus karena lari dari lantai satu ke lantai tiga.

“Lho? Dia kan sudah di pindah di Bali, Annisa. Memangnya kamu tidak diberi tahu?”

“B..B..Bali pak?”

Sambil melihat cincin di jari manisku, aku berpikir, badai apa yang mampir di hidupku? Apa benar Jaz adalah orang yang diceritakan Marina kemarin? Nampaknya aku tak pernah benar-benar mengenal sosok dari Zerdian. Aku bagai di hipnotis, dengan nada yang lembut dan muka yang eksotis Zerdian adalah seorang serigala. Nafas panjang memikul beban pikiran yang semakin lama semakin berat, apa yang telah Tuhan tulis dan apa yang telah aku ekspektasikan mungkin tak selamanya sinkron.

Malam yang seharusnya jadi malam pertama tampak pekat dengan kopi hitam yang lebam, kafeinnya merasuk melalui otot-otot dan memacu otak agar tenang. Bercengkrama dengan rokok dan kupejamkan mata, ya Tuhan, tiga ratus undangan yang disebarkan ternyata sia-sia. Aku belajar dari semua ini, ternyata untuk orang yang baruku kenal, sebaiknya jangan cepat menaruh hati. Aku tidak menyesal karena kehilangan jumlah nominal rupiah yang Jaz ambil, aku menyesal karena aku pernah mengenal seseorang yang ber-pura-pura menggilaiku. Tapi, bagaimanapun, tetap tegar itu adalah seni terhebat untuk meluapkan amarah. Malam yang panjang, tak ada sedikit pun hal yang bisa meninabobokkan diriku setelah kejadian itu.

▄


Di pesta pernikahan Shifa, teman Indra, terdengar  nada bertapak seiring detak sekon jam dari heels tujuh centimeterku, menggandeng dengan erat tangan Indra yang memakai jazz cokelat dan membawa curahan San Miguel. Dengan mata menyipit, aku berbicara dengan nada yang sedikit ku-serakkan, “Jadi, kapan kita nyusul mereka?”  Indra tersenyum dan mencium panjang pipiku.

Thanks to: 
-@adimasnuel
-Perempuan muda cantik yang ada di kafe bandara Soekarno-Hatta