Minggu, 06 Oktober 2013

Ikhlas

Ngadepin orang-orang ber-IQ jongkok bikin gue jadi bad mood, lagi males becanda, tapi gue pingin nulis, jadi terbentuklah post ini. Simak ya:
Kalau gue tanya apa definisi dari ikhlas apa yang ada di benak kalian?


“Memberi tanpa meminta timbal balik.”
“Merelakan sesuatu dengan lapang dada.”
“Melakukan tanpa niat apapun.”
“Musholla depan rumah gue, Al-ikhlas.”


Oke, ngga bisa di sebutin satu-satu. Yang jelas, masing-masing orang punya definisi sendiri tentang “Ikhlas”. Nah, menurut gue sendiri ikhlas itu Cuma satu kata. “Melupakan”. Yup, apa yang di maksud melupakan? Ini yang gue maksud Ikhlas dengan cara melupakan:


1.      Memberi dengan ikhlas.
Memberi itu adalah mengasih sesuatu yang dibutuhkan orang lain. Selain memberi tanpa meminta timbal balik, coba memberi dan melupakan. Memberi yang di lakukan dengan lupa akan membuat kita ngga mikirin lagi dan otomatis menjadi ikhlas.



2.      Berbuat yang ikhlas.
Kalau ditanya siapa yang berjuang dengan ikhlas di dunia ini, jawabannya adalah orang tua kita. Iya, mereka tak pernah mengingat apa yang mereka berikan ke kita. Mereka berjuang nge-lahirin, mereka berjuang cari nafkah, mereka berjuang supaya kita jadi orang bener. Kita aja mungkin kalau beribadah belum tentu ikhlas, kita masih menginginkan sesuatu dari Tuhan.


3.      Kehilangan yang  ikhlas.

“Handphone gue ilang”
 “Kok bisa?”
 “Di ilangin temen gue. Tapi gue sudah ikhlas kok.”

 Loh? Katanya sudah ikhlas, tapi kok masih “gigit” temen lo sebagai subyek nya?
Kalau sudah ikhlas ya berarti sudah lupa kalau apa yang terjadi. Jadi, percakapan tadi untuk orang yang sudah ikhlas sebenernya adalah:


“Handphone gue ilang.”
“Kok bisa?”
“Ngga tau.”
“Kok ngga tau?”
“Karena gue udah ikhlas.”

Oke, yang tadi emang lebay.


Memaafkan secara ikhlas.
 Ikhlas yang satu ini memiliki level yang paling sulit untuk dilakuin. Memaafkan orang mungkin sudah biasa, melupakannya itu lebih luar biasa. Tapi ngga semudah itu orang bisa ngelupain dia pernah disakitin siapa. Karena apa? Karena sakit, rasa sakit membuat kita mengingat-ingat siapa orang yang nyakitin kita, karena rasa sakit terus nyelimutin kita, dan butuh waktu yang lama untuk sembuh. Tapi coba dibalik, misalnya elo pernah di sakitin pacar lo, kalau lo bisa ngelupain kenapa elo terluka, berarti lo sudah sembuh. Dan pasti memaafkan doi dengan ikhlas.


Coba diterapin ke kebiasaan sehari-hari, susah emang, tapi hidup lebih fun kalau dilakoni dengan menerapkan ikhlas. Kok bisa? Karena gue sudah ngalamin.


Yup! Sampai di sini dulu post gue, seperti biasa, gue ngga ada maksud menggurui, ngga ada maksud menyindir, gue Cuma berbagi apa yang pernah gue alamin. Thank you udah nyimak ya...

Senin, 23 September 2013

THE NATION OF MINE!: Sebuah opini yang tidak menang lomba


Ngga lama, gue iseng ikut Jakarta Post project, well.. namanya iseng, gue juga ngga ngarep menang. Tapi gue dapet sertifikat, mungkin ini sebagai hadiah 'ngetik'. Dan karena beberapa orang penasaran dengan tulisan gue yang ngga menang, langsung aja kali ya gue post, ngga pake gue edit dan gue benerin, cekidot:



Not like most children, my parents always teach me to loving everythings that i have. Everything, including my country, Indonesia.
The most beautiful nation, rich of artistic, rich of culture, full of island from Sabang untill Merauke. That’s Indonesia, where race, religion, and clan can peaceful living together.
Untill now, I very love Indonesia, love the food of Indonesia, music Indonesia, and Indonesia culture.

But sometimes, Indonesian people underestimate with their own country. They’re like to showing if they don’t love Indonesia. I want to express about my opinion about Indonesian who dont love with their own country. Or you’re the one of them?

For examples, Indonesian people still like to wear suit and tie than wear batik, whereas batik is original art from Indonesia. I know wear batik is small things, but this is how you can show if you love Indonesia.

Not long ago, football club from europe came to Indonesia, but I still saw Indonesian people who wear rival’s jersey where Indonesia needs the scream like “IN.. DO.. NE.. SIA!”, but what? They’re even scream “GOAL!” when rival club scored. Pathetic? Yes. I know if their skill is far from Indonesian player, but this is our country! We must support! If you never scream when Indonesia lose, then you don’t scream when Indonesia win.

Now, so many place that nuanced western, so many people spent their time and consumed western food. Where Indonesia food need to be promote. Some Indonesian act like they’re western. Actually we’re not anti-western, we just need to filtering good or bad things from western. And western people is not always bad, we can look their discipline, their eticute, and their daily lifestyle.

About music, Indonesia had so many music genre. For example, dangdut music. So many Indonesian people said “This is a freak music.”, whereas dangdut its real Indonesia music genre. It means they’re dont love Indonesia. We can enjoying  western music, but dont forget our original music. Loving Indonesia music its one of many way to make Indonesia better.

Korean trend now is famous among Indonesian teens, from their style wearing leggings, clothes, and many more. Some people too nervous if they’re not up to date about trend. What if everyone buy local products? I swear Indonesia will be better. One of a thousand ways for make Indonesia better is buy local product.

Thats my opinion about Indonesian people who can’t loving their own country. Pathetic, they’re born in Indonesia, and they dont respect their country.

I was born here, I grow up here. I’m not the person who can change Indonesia alone. I started from the little things, i used local products, and love it. I want Indonesia had something that can be proud, I want every people in other country use Indonesia product.

And everything start from loving everything that we have, including love our own country. They can said Indonesia is small country, they can leave Indonesia. They can claim Indonesia culture. But one that never ever they really know. Indonesia is a great country, I proud to be Indonesian.
I love Indonesia.




Gimana? Emang sih, masih belepotan dengan grammar, tapi ini dari otak gue sendiri. Oke, sekian dulu post gue, sampai bertemu di postingan gue selanjutnya! :p

Sabtu, 21 September 2013

#PeopleAroundUs Seorang lulusan SD yang ingin menjadi dokter

Iri aku melihat dokter.
Aku ingin sesekali melihat diriku menjadi seorang dokter.
Andai saja orang tuaku memiliki biaya lebih ketika aku kecil,
mungkin aku sudah berada di ruang pemeriksaan pasien.

Tapi dunia tak mengizinkanku mengambil profesi itu.
Tapi juga aku tak pernah mau kalah melawan dunia.
Jika dokter bisa mengobati orang sakit.
Aku bisa mencegah orang sakit.

Sedikit mempelajari ilmu sains waktu SD.
Nyamuk bisa membawa berbagai macam penyakit dan tinggal di tempat yang lembab.
Aku? Aku bisa memusnahkan tempat yang lembab dengan memungut limbah.
Profesi pemungut limbah aku kira sama dengan dokter, hanya lebih sedikit pendapatannya.




Aku tak pernah lelah mejadi seorang pemungut limbah.
Semangatku mencari nafkah adalah senjataku untuk bertahan hidup.
Kaleng dan botol plastik bekas yang masih utuh adalah butiran emas yang harus aku kumpulkan.
Melihat keluargaku kenyang adalah bagian termanis di hidupku.

Nampak hari sudah kehabisan tenaga.
Tapi aku belum selesai berburu ‘emas’ku.
Mentari yang ingin terlelap mencoba menyudahi perjuanganku.
Rasanya dua puluh empat jam tidak cukup untuk menghabiskan tenagaku.

Segera aku ke tempat penampung dan menukar emasku dengan rupiah sebelum gelap.
Dalam senja aku mendapatkan rupiah yang cukup untuk biaya makan hari ini.
Dengan cepat aku membeli segenggam beras.
Dan sejenak menikmati kopi di kedai dekat rumah.

Kemana aku selanjutnya?
Aku harus pulang melihat keluargaku makan dengan lahap malam ini.
Dan tidak lupa bersyukur kepadaNya.
Ternyata Dia masih mengizinkanku dan keluargaku tersenyum hari ini.


Rabu, 11 September 2013

#PeopleAroundUs OJEK PAYUNG YANG KEHILANGAN HUJAN


Entah kata apa yang ada di benak masing-masing orang ketika melihat gambaran diatas.
Foto itu saya ambil sekitar seminggu yang lalu, tepat hujan datang ke Surabaya, iya hujan yang sangat sedikit itu menentukan rezeki beribu orang.
Yang aku dengar dari percakapan pada saat itu adalah:

“Payung, mbak?”
“Berapa dik?”
“Seikhlasnya.”
“Hmm.. Nggak usah deh, deket kok.

Disaat orang mengeluh dengan gaji mereka, masih ada orang yang mencari uang dengan meminta upah ‘seikhlasnya’ dan rela ber-basah-basah yang beresiko terkena penyakit. Dan masih ada orang yang menolaknya.

Saya adalah orang yang tak pernah tega melihat saudara sehidup yang sulit hanya untuk mencari sesuap nasi.
Saya coba mendekatinya, saya beri rupiah yang sekiranya cukup untuk membeli nasi bungkus untuk dia makan hari ini. Lalu langsung lari ke tempat parkir dimana saya me-markir kendaraan tanpa meminta jasa-nya. Saya adalah pelanggan pertama dan terakhir dia karena hujan tidak berhendak setia mengguyur tanah, dan ia pun pulang dengan membawa gaji dari saya.

Sambil menyetir dijalan, ego saya rasanya ditampar oleh Tuhan dengan mengenang  kejadian barusan, dan berpikir mengapa selama ini saya selalu mengeluh. Sambil menunggu macet, saya melihat lampu kota yang mulai menyala, melihat jalanan basah bekas hujan, dan berkata dalam hati...

Tuhan, aku suka caramu bercanda kepadaku.
Engkau buat aku mengeluh menjalani hidup ini.
Lalu engkau membuatku bersyukur dengan membuat adegan kecil tadi tepat di depan mataku.
Terimakasih, Tuhan.

Kamis, 05 September 2013

Banyak followers, belum tentu bener

Berani ngakuin ngga, kalau lo adalah korban waktu dari social media? Gue akuin iya. Entahlah, padahal twitter Cuma tulisan dengan batas 140 karakter per-twitnya tapi bikin betah untuk mantengin. Twitter itu bikin lupa apa-apa, contohnya anak-anak yang mau ujian, materi ngga ada di twitter tapi sempet-sempetnya baca timeline. :p


Tapi gue rasa untuk jaman yang apa-apa serba ada ini, ngga mustahil kalau beberapa orang suka bertingkah aneh, dengan media social media. Presiden aje nge-twit, ye gak?
Maksud gue di sini adalah orang-orang yang ngga baik yang “meng-hipnotis” pengguna social media. Iya pengguna social itu emang lucu, mereka kayak barang online shop, macem-macem. Dari orang baik, orang yang agak baik, orang yang hampir baik, sampai orang yang pura-pura baik.
Gue ngga men-klaim kalau gue adalah pengguna yang baik. Kenapa? Gue masih suka nyinyirin mantan misalnya. Tapi parahnya, ada orang yang lebih kampret dari nyinyirin mantan. Simak sedikit opini gue ya!

Pernah gue follow orang, dia adalah salah satu peserta stand-up comedy. Waktu itu, dia ngadain kuis berhadiah. Oke, kalau ngasih pertanyaan masih bisa disebut kuis. Tapi orang ini nyuruh orang kirim fotonya sendiri sengan berpakaian underwear di kepalanya. Aneh kan? Bayangin, gimana kalau elo nyuruh followers lo kirim foto ngangkang, dan tiba-tiba orang tua lo ngirimin fotonya lagi ngangkang. Sekarang gini, dia adalah selebtwit dengan followers yang banyak. Elo nasihatin doi, doi pasti ngga merasa bersalah karena banyak yang belain. Dan orang yang berfollowers banyak ini menurut gue ngga ada benernya sama sekali. Gue block. Langsung.

Akun ramalan pun juga gitu, mereka cuma nulis apa yang mereka mau dengan masing-masing zodiak, supaya bisa mancing orang untuk follow mereka. Ramalan adalah sesuatu yang belum tentu terjadi. Ngga usah akun ramalan, gue juga bisa kalau cuma nge-ramal. Gue nge-ramal, zodiak gue adalah taurus, taurus itu cocoknya sama gemini. Raisa itu zodiaknya gemini, berarti entar Raisa kawin sama gue. Percaya kalau Raisa bakal kawin sama gue? Nggak? Terus kenapa pada percaya ramalan yang nge-ramal nasib seseorang? Tapi kalau gue kawin sama raisa ya gue mau aja. #UjungUjungnyaKampret

Orang yang nge-twit se-enaknya jidat. Ada loh, mereka yang twit-nya ngga baca-able tapi ber-followers banyak. Biasanya ini artis yang demen cari sensasi di radio atau majalah anak-anak. Terus mereka punya followers banyak, sehingga apa yang di katain mereka kelihatan bener. Inget, semua orang diciptain ngga ada yang ngga salah. Termasuk orang yang ber-followers banyak.


Oke, gays eh.. guys.. ini adalah sedikit opini gue tentang akun twitter yang ngga bener di mata gue. Gue Cuma ngingetin kalian supaya jangan menuntut akun ber-followers banyak itu selalu benar. Gue sendiri pun belum tentu benar. Sekian post gue kali ini, ketemu di next post. Bahas apa? Pantengin aja blog gue. :p bubye! 

Sabtu, 31 Agustus 2013

CERPEN: 3V Yang Terpisah

Setiap terjebak macet di depan rumah sakit Bakti Kasih, aku tiba-tiba diserang memori kejam. Kisah ini terjadi sekitar dua tahun lalu, saat aku belum kehilangan segala-galanya.

Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ayah adalah pengusaha kaya raya yang sukses sampai luar negeri. Ibu ku adalah sosok perempuan yang baik yang pernah ku kenal. Kakak ku, huh. Aku selalu benci dengan kakak ku Vanessa, sikapnya yang manja, rewelnya yang selalu menggangguku, aku benci dengan dia.

Suatu hari, Ayah mengalami kecelakaan maut bersama Ibu ku saat mereka liburan ke Bali bersama Vanessa. Mobil Ayah terbalik dan masuk sungai, hancur tak ber-rupa. Ayah meninggal saat dibawa ke rumah sakit dengan ibu. Anehnya, hanya Vanessa yang selamat saat mobil di evakuasi. Kadang aku berfikir, kenapa tidak Vanessa yang meninggal saat kecelakaan itu, kenapa harus Ayah dan Ibu?

Satu-satunya teman ngobrol ku hanya Gabriel, aku rasa hanya dia yang benar-benar mengerti aku selama hidupku. Sedangkan Vanessa, dia hanya bisa membentakku. Aku selalu lelah, aku selalu murung setelah kejadian itu. Rasanya aku ingin melupakan kejadian pahit yang datang tanpa keinginanku itu.

Beberapa hari kemudian, Gabriel mengajak aku ke klub malam. Katanya, cara paling manjur melupakan masalah adalah meminum minuman keras. Awalnya aku tak percaya, tapi aku selalu penasaran, dan aku pun mencoba mengikuti Gabriel. Aku kabur dari rumah dengan sepengetahuan Vanessa, pergi ke klub malam. Melayang, bebas, yang kurasa. Gabriel benar, dia membuatku melupakan masalahku untuk sejenak.

Pulang dari klub, aku berpisah dengan Gabriel, aku mengantarkan pulang ke rumahnya, dan aku akan pulang ke rumah. Setengah perjalanan, sirine polisi terdengar nyaring, tampak mobil polisi mengejarku dan mendekap mobil ku dari depan, aku kira aku hanya melakukan kesalahan, lampu depan ku yang kurang terang? Tidak, melanggar lampu merah? Tidak. Lalu apa? Polisi dengan badan kekar itu mendatangiku dan mengucapkan selamat malam, ia berkata bahwa tas ku perlu diperiksa. Setelah kuberikan tas ku, ia mendapatkan sebuah plastik dengan isi bubuk putih. Ia bilang itu ekstasi. Tunggu, ekstasi? Aku bukan pemakai ekstasi. Bagaimana bisa itu ada di tas ku?

Malam-malam pun aku digiring ke kantor polisi terdekat, aku mencoba menghubungi Gabriel, tidak aktif. Aku hubungi Ryan kekasihku, nomor diluar servis area. Tidak ada pilihan lain, aku menghubungi Vanessa, aktif! Tapi ini tengah malam, ia pasti sedang tidur. Aku diperiksa 6 jam oleh polisi. Hari sudah pagi, aku tertidur di ruang periksa, kulihat ada 7 panggilan gagal dari Vanessa. Akhirnya kucoba hubungi dia kembali, terangkat! Aku suruh dia membawa uang dan ke kantor polisi untuk menemaniku.

Beberapa jam kemudian, ia datang, ia datang dengan mobil sedan merah, mobil pertama Ayah ku. Ia tampak tak ber-mimik. Longdress hitam tanpa lengan dengan syal. Ia mirip seperti Ibu ku, lalu ia berurusan dengan polisi, aku menunggu di ruang periksa menyimak percakapan kecil antara Vanessa dengan polisi. Inti dari percakapan itu adalah Vanessa memohon agar aku dibebaskan, dihapuskan cacatan kriminal di buku jurnal kepolisian, dengan syarat wajib lapor. Polisi juga menahan denda Vanessa sebagai uang penutup mulut. Vanessa jalan ke arah ruang periksa dan membuka separuh pintu kaca, wajahnya yang judes menyelimuti dirinya dan  dia berbicara dengan nada datar “Vinda, ayo pulang.” Lalu ia pergi menuju ke mobil.

Di mobil, seperti biasa, ia tetap memakai raut wajah yang judes. Aku mencoba mencairkan suasana dengan menanyai dia “Apa kabar kak?”, tapi dia acuh tak menggubris dan terus menyetir. Lampu merah didepan menyetop laju mobil, tiba-tiba Vanessa tampak batuk. Aku pikir itu batuk biasa. Semakin keras dan semakin keras batuk itu, tiba-tiba Vanessa memuntahkan darah di pangkuannya. Aku tercekik kaget, dia pingsan di setir mobil. Aku bingung, berpikir cepat dan aku menggantikan Vanessa menyetir, ku buka sabuk pengaman dan kugeser Vanessa ke belakang, badannya nampak panas. Ku larikan mobil ke rumah sakit terdekat, menyalakan lampu hasard, dan merobos lampu merah.

Sampailah di rumah sakit Bakti Kasih, aku gendong Vanessa ke UGD. Untung saja Vanessa mempunyai badan yang lebih kecil dari aku. Aku menidurkan Vanessa di kasur pasien yang tersedia di depan pintu UGD. Meneriaki petugas dan memintanya untuk menangani.

Lagi-lagi aku bertemu dengan hal ‘menunggu’, iya aku menunggu di ruang tunggu penjenguk di depan UGD. Tidak lama, Dokter datang ke arahku, dia tahu bahwa aku yang membawa Vanessa ke UGD karena pagi itu hanya aku yang ada di sana. Dokter menyatakan bahwa Vanessa terkena kanker tenggorokan yang belum kronis, Vanessa masih bisa sembuh dengan cara kemo terapi, tapi harus ditangani secara cepat. Dia butuh rawat inap agar mendapat oksigen dari kerongkongan dan makanan yang higienis. Aku bersyukur dia masih ada harapan untuk hidup. Aku mengurus biaya admin rumah sakit, mengambil tas Vanessa di mobil dan mengambil uang yang ia bawa untuk biaya. Hari itu aku tidak berpikir mengambil mobil ku yang masih kutinggal di kantor polisi.

Keesokan harinya, aku membawa baju ganti untuk Vanessa, dan boneka Panda teman Vanessa tidur. Masuk rumah sakit, dan kulihat Vanessa tertidur pulas. Aku menaruh boneka Pandanya disebelahnya, aku menunggu ia sampai terbangun. Sudah satu jam, dan dia belum terbangun. Aku mencoba keluar dan duduk di taman belakang rumah sakit. Hawanya sangat sejuk, pepohonan yang ringin dan hijau. Aku rasa aku mau menghabiskan waktuku disini sambil membaca komik favoritku, Detective Conan.

Tak lama, perempuan seumuranku dengan baju pasien menghampiriku dan duduk disebelahku. Dia duduk sambil memejamkan mata. Tiba-tiba dia menanyaiku “Kamu suka baca Detective Conan?” aku menjawab dengan nada kaget, bahwa aku suka membaca Conan.

 Ku perhatikan, dari cara dia berbicara dan berbahasa tubuh mirip sepertiku, rambutnya pun pendek bergelombang sama denganku, jam tangan yang ia pakai pun juga dipakai di tangan sebelah kanan. Aku seperti melihat diriku sendiri.

“Ohhh... sama dong, aku juga suka Komik itu.” Kata dia sambil tertawa kecil. Ia nampak sehat dan tidak sakit. Karena penasaran, aku bertanya kepada dia sakit apa yang dia alami, ia menjawab bahwa dirinya telah di vonis kanker sum-sum tulang, tapi Dokter bilang masih ada harapan hidup dengan cara operasi, tapi dengan badan yang lumpuh dan mati rasa. Operasinya pun dilakukan malam ini. Ia meminta doa dariku agar operasinya berhasil.

“Aamiin, kamu pasti bisa. Tapi ngomong-ngomong, kita belum kenalan, namamu siapa? Namaku Vinda.” Ia menjawab namanya adalah Vanda, dia berumur 18 tahun sama sepertiku. Kembali menggali tentangku, Vanda bertanya kenapa aku disini. Aku jawab, aku sedang menunggu anggota keluargaku satu-satunya, yaitu kakak ku yang terkena kanker tenggorokan. Aku bercerita semua ke Vanda tentang Vanessa.

Ia nampak memperhatikan aku bercerita, aku jeda ceritaku dan membiarkan ia berpikir. Tak lama, ia bercerita tentang seseorang yang juga penderita Kanker tenggorokan di kamarnya, ia bilang bahwa seseorang yang di kamar inapnya itu seperti kakaknya sendiri, walau baru semalam bertemu. Dia berkata semua tentang orang itu, dia bercerita kepada Vanda bahwa dia mempunyai adik kandung yang sangat dia sayangi. Suatu hari Ayahnya meninggal, karena kecelakaan, dia diutus Ayahnya agar dia disuruh menjaga Adiknya dengan sedikit keras. Karena Adiknya mempunyai Ibu yang susah diatur dan menurun ke sifatnya.

 Aku berfikir, apa itu Vanessa? Tidak mungkin Vanessa bercerita tentang hal pribadinya ke orang lain. Aku sangat mengerti sifatnya. Dia juga menjelaskan kepada Vanda, adiknya pernah mendapat teman yang mau menusuk dia dari belakang. Temannya itu pernah berkencan dengan kekasih Adiknya saat dia jalan-jalan di Mall. Tidak hanya itu, temannya juga memasukkan sesuatu ke tas Adiknya tanpa sepengetahuan Adiknya. Temannya mengerti bahwa dia menemuinya melakukan itu, dan mengancam mau membunuh jika diberitahukan kepada Adiknya. Malam itu semakin larut, sehingga Vanda hampir tertidur ketika mendengar cerita. Ia mengatakan kepadaku, bahwa ini adalah hari terakhir di kamar ini, Vanda pamit ke dia dan mendoakan cepat sembuh sebelum Vanda tidur.

Penasaranku yang tak bisa diredam, membuatku bertanya kepada Vinda siapa nama temannya dengan nada keras dan penasaran, dia menjawab dengan sedikit lupa. Dia berkata Vasa.. Vassen.. Va.., dan aku reflek menyebutnya “Vanessa?!” dia meneriakkiku “Iya benar!”
Aku terdiam, mukaku bagai gambaran di pasir pantai yang terkikis ombak, hampa, dan beribu perasaan masuk sekaligus ke dalam diriku. Terkadang aku tak mengerti mengapa Tuhan menciptakan drama yang begitu rumit. Mungkin ini adalah skenario kecil Tuhan yang mengangkat aku sebagai peran utamanya. Aku seperti tidak memiliki cukup tenaga untuk tertawa dan tidak memiliki cukup air mata untuk menangis.

Suster bermata sipit mendatangi Vanda dan menyuruhnya untuk istirahat sebelum Operasi, dia mengucapkan sampai jumpa kepadaku, aku pun menanggapinya dengan wajah yang datar. Aku rasa aku harus pulang dan istirahat setelah dihantam kenyataan itu.

Besoknya, aku segera ke rumah sakit, dengan niat ingin memeluk Vanessa dan memberi tahu sebenarnya yang telah terjadi. Tapi dia tidak ada di kasur pasien, aku tanya suster yang memberi obat pasien lain, tapi ia tidak mengerti.

Setelah aku cari di taman dan teras kamar tidak ada, lalu aku pergi ke operator dan bertanya dimana pasien bernama Cristina Vanessa, operator mengatakan bahwa Vanessa baru saja masuk ke ruang operasi karena tumor di leher semakin berkembang, operator juga mengatakan bahwa pihak rumah sakit sudah menghubungiku, tetapi ia bilang ponselku tidak aktif. Aku lihat, ternyata masih mode pesawat, setelah dari kantor polisi dua hari lalu dengan maksud untuk menghemat baterai.

Dengan tatapan kosong aku berduka dalam hatiku, rasanya ini terjadi tanpa aku minta. Tuhan memang penulis skenario yang hebat.

Aku mencoba menenangkan diri dengan duduk di kursi, kuambil nafas dalam mencoba tenang. Tiba-tiba aku ingat Vanda yang menjalani operasi tadi malam, aku kembali ke operator dan tanya pasien yang menderita kanker sum-sum tulang, dia bilang ada empat orang yang menderita kanker tersebut, aku bilang yang baru ber-operasi tadi malam.

“Oh... Yang itu, maaf, kemarin tim medis gagal menangani penyakitnya dan dia menutup usia, orang tuanya juga datang dan nampak tak sedih, mungkin mereka sudah mengerti karena anaknya memiliki penyakit yang sudah lama.” Kata operator sambil bernada sedih.

Rencana Tuhan memang tiada yang tahu, ia renggut satu per satu orang yang berbuat baik kepadaku. Orang itu bagaikan bunga di taman, yang di petik duluan hanya yang bagus. Iya, aku percaya istilah itu. Sisa orang yang baik padaku hanya kakak ku, mungkin hanya dia yang terbaik untuk ku, aku mungkin selalu salah di mata dia, tapi aku yang salah kalau aku membenci dia.

Akan ku tunggu hasil operasi kakak ku, seberapa lama itu. Setelah operasi, aku ingin memeluknya dan mengatakan aku telah banyak salah kepadanya. Ku panjatkan doa kepada Tuhan semoga operasi itu berhasil.

Tiga jam berlalu, dokter operasi sudah keluar dari ruangan. Mukanya tampak kelelahan, dia memanggil “Cristina Vanessa?”, aku berdiri dan datang ke dia. Aku berkata bahwa aku adalah Adiknya, dokter itu meminta maaf, ia berkata bahwa kanker Vanessa semakin parah, dalam 24 jam kanker itu bisa berlipat 25 persen, dan ini sudah terlambat. Dalam kata lain, Vanessa sudah meninggal selama operasi berlangsung.

Sekarang aku sudah sebatang kara, tidak ada seorang pun yang menemani ku saat ini. Tiga hari setelah itu, aku masuk ke kamar Vanessa, merapikan kamarnya yang berantakan, sebelumnya aku tak pernah masuk ke kamar Vanessa karena ia selalu mengunci diri di kamar dan hanya keluar ketika makan. Bantal Vanessa ada yang aneh, nampak persegi timbul  dari luar. Aku membuka sarung bantal itu dan ternyata itu amplop yang lusut, nampak wangi, ku buka isi amplop itu dan menemukan tulisan yang di tulis oleh Vanessa yang bertuliskan

“Mungkin jika ada orang yang menemukan ini, aku telah tiada. Aku sudah lama mengidap penyakit kanker dan aku tidak mau merepotkan satu orang pun yang aku sayang. Tolong sampaikan pesan untuk Vinda, bahwa aku selalu sayang dia.”


Semenjak itu aku mulai menghargai hal-hal kecil yang berada di sekitarku, aku melihat pengamen di sepanjang macet, aku melihat matahari sore yang mau tenggelam, dan bersyukur bahwa menghargai hal kecil bukanlah hal yang sia-sia.

Minggu, 25 Agustus 2013

CERPEN: Hari terberatku

Ini mungkin malam yang paling gelap dan panjang buatku. Malam yang tanpa ucapan selamat tidur dari-mu. Pernah melihat botol plastik yang diremukkan? Mungkin itu seperti perasaanku saat ini.
Tidak, aku tidak melebih-lebihkan perasaanku. Aku berbicara sesuai apa yang aku rasakan. Mungkin yang bilang aku begitu, mereka belum kenal rasanya disakiti. Aku adalah pahlawan, aku memiliki akal seperti Einstein dan memiliki hati kuat seperti Superhero. Tapi itu sebelum aku disakiti.

Malam berlangsung seperti biasa, bedanya aku tidak memejamkan mata dan bermimpi seperti biasa. Masih kulihat televisi Ayah yang menyala tanpa suara. Oh, itu pertandingan sepak bola. Sepertinya pemain Manchester United melihat Ayah yang sedang tertidur pulas.

Bergegas aku ke kamar mandi dan mencoba rileks dengan menyiramkan air hangat dari shower. Diam seketika tidak berkata, kurasa air ini tidak hangat seperti biasanya. Kupakai kemeja putih dan mengambil sepeda dengan maksud mau berangkat kerja. Aku berusaha tidak memperdulikan Adik yang sedang mengejar bus sekolahnya.

Lesung pipit ku terasa terbebani, rasanya mengayuh sepeda lebih ringan daripada tersenyum. Mungkin aku lupa tidak sarapan. Aku berhenti di kedai kopi didepan makam Ibu untuk membeli sepotong roti dan teh. Seperti biasanya, penjualnya tua dan selalu senyum ketika melayani pembeli. Tunggu... bagaimana bisa orang itu selalu tersenyum? Ah sudahlah, itu tidak penting. Yang penting aku menghabiskan sarapanku dan pergi ke supermarket tempat aku berkerja sebelum jam 8.

Aku kembali menaiki sepedaku dan pergi, tidak lupa menoleh ke makam ibu ku dan meminta agar Ibu kembali untuk mengetahui bagaimana perasaanku hari ini. Ayolah, itu hal yang sia-sia. Aku menyeberangi lampu merah demi lampu merah, melewati blok demi blok. Dan melihat daun berguguran sepanjang perjalanan. Petugas kebersihan pun tampak kewalahan membersihkan daun itu. Tapi ada yang beda, aku berpikir ada yang beda... Oh bibirnya. Bibirnya masih bisa melengkung cembung ke bawah. Sial.. lagi-lagi aku melihat orang tersenyum.

Akhirnya sampai di supermarket. Aku menaruh sepeda di depan rumah kosong sebelah supermarket. Aku mulai masuk dan memakai rompi kasir. Membuka kunci pintu depan. Membalik tanda tutup menjadi buka. Menyalakan komputer kasir. Kenapa aku sendirian? Kenapa hanya aku yang menjaga kasir? Ternyata ini masih jam 7 kurang. Aku duduk dan membuka twitter dari telepon seluler ku. 18 mention? Oh teman-temanku yang mengucapkanku ulang tahun. Aku bahkan lupa kalau aku ulang tahun. Entahlah, hari ini aku adalah pelupa. Aku adalah pemurung semenjak kejadian kemarin.

Kubalas mention teman-temanku, dengan kata yang ceria, walau sebenarnya tidak. Aku senang tidak ada yang mengucapkan lewat media visual. Itu lah mengapa aku suka twitter, menulis tanpa memaksa baca. Berpendapat tanpa rasa salah. Dan bersuara tanpa perlu nada.

Sepertinya pengunjung pertama datang, ia adalah pekerja dari proyek rumah sebelah. Masih memakai helm kuning dengan muka lusuh. Baiklah kurasa nanti kubalas sisa mention dari temanku. Ia membeli air mineral dingin 3 botol. Lagi-lagi, dia nampak tersenyum ketika membayar ke kasir. Kali ini aku mencoba tanya mengapa ia bisa nampak ceria saat bekerja. Dia tersenyum dan menjawab se-akan-akan tak ada apa-apa. “Kenapa ya? Mungkin karena saya sudah menikah dan mengerti untuk apa saya berkerja.” Lalu ia pergi dengan muka yang masih terlihat tersenyum.

Rekan kerjaku, Kate datang dengan muka nampak tersenyum juga. Ia menyapaku dengan ramah, wajahnya nampak cantik dengan senyumnya. Bagaimana bisa? Ini kan belum akhir bulan. Baiklah, apa yang aku dapat kan hari ini? Melihat orang tersenyum dan berharap bisa melakukannya.

Pembeli pun bergantian datang. Kulihat ada wanita separuh baya yang membuka pintu. Ia membeli obat anti serangga ukuran kecil. Ia memilih kasir ku sebagai pembayarannya. Kumasukkan harga ke komputer, memberikan harga yang sesuai label, dan menerima uang darinya. Lalu ia pergi dengan barangnya tanpa mengucapkan terima kasih. Sampai portal kasir ia malah berkata “Aku kecewa, harga senyum semakin mahal.”

Kate nampaknya mendapatkan waktu istirahatnya. Ia nampak tidak makan dan malah mendekat ke arahku. Mendapatiku yang duduk di bangku kasir tanpa balutan senyum, bertanya “Ada apa denganmu?” Seperti biasa, aku selalu pintar dalam hal menyembunyikan perasaan. Aku menjawab “Tidak ada apa-apa. Kenapa kau tidak istirahat?” dan ia mencoba menanyakan mengapa aku tidak tersenyum. Ini aneh, aku baru kenal Kate 3 bulan semenjak aku bekerja disini dan Kate sudah tahu bagaimana perasaanku. Tidak hanya hari ini, seminggu setelah aku bekerja disini juga aku pernah ada masalah dengan pelanggan, lalu Kate mencoba menyelesaikannya sebagai senior disini.

Aku semakin percaya dengannya. Kuceritakan masalahku, kucoba menjelaskan mengapa aku murung hari ini. Ia nampak mendengarkan dan melihatku, pupilnya nampak membesar seperti dia mencoba menyerap ceritaku. Melihat ke arah jendela, lalu tersenyum, dan berkata “Pernah pergi ke pantai? Pernah melihat ombak yang sangat besar? Bayangkan itu masalah dari orang seluruh dunia. Seberapa besar masalahmu? Mungkin hanya setetes air dari ombak itu. Tidak usah kamu, aku juga pernah mengalami masalah yang besar. Kedua orang tuaku meninggalkanku saat masih kecil. Mereka mengalami kecelakaan mobil. Tapi hanya aku yang selamat karena aku duduk di belakang. Itu secuil dari masalah di dunia ini. Menangisinya adalah hal percuma, sebab itu sudah terjadi.”

Nampaknya Kate benar, Kate berbicara seolah-olah kita sudah bersahabat sejak lama. Mungkin benar kata pepatah, sahabat bukan yang datang pertama atau terakhir, tapi yang datang dan tak pernah pergi.
Waktu kerjaku sudah habis. Kupakai kardigan lengan panjangku dan segera mengambil sepeda untuk pergi dari tempat kerjaku. Aku terlalu sering membiarkan diriku tanpa hiburan. Aku ingin ke taman, mencari udara segar. Aku rasa percuma pulang ke rumah dan terkejut tidak satupun ada yang menungguku. Duduk disekitar taman dan membalas mention ucapan selamat ulang tahunku kurasa cukup untuk menenangkanku. Lagi-lagi aku melihat hal kecil di sekitarku. Sang Ibu yang duduk dengan Anaknya, dan sang Anak berkata “Ibu, kenapa Kau tiba-tiba membelikanku balon?” sang ibu menjawab “Karena kita perlu kejutan nak, ketika kamu jenuh. Mungkin kejutan akan membuatmu tersenyum.” Kejutan? Masa bodoh, siapa yang mau mengejutkanku.

Setengah perjalanan tiba-tiba ban sepedaku meledak, aku tergelincir, aku jatuh dan antingku lepas entah kemana. Tanganku sedikit lecet. Sepedaku... entahlah, tak berupa. Sudah dekat dengan rumah, aku harus membersihkan diri dan mengobati lukaku. Bagaimana besok ya? Aku tidak ada kendaraan untuk pergi bekerja. Aku masuk ke rumah dan melepas kardigan dan kemejaku. Kulihat ke kamar dan mendapatkan surat di depan pintu kamarku. Aku penasaran. Aku buka surat di amplop itu dan ternyata surat itu untukku isi surat itu adalah

“Selamat ulang tahun Odessa, semoga kau senang dengan hadiahku. Tertanda, Ayah.”

Aku buka pintu kamarku dan kulihat sepeda biru yang sadel nya masih terbungkus plastik, aku terdiam, ku usap mataku dan ku cubit dagingku, kurasa aku bermimpi. Tidak, ini sepeda dari ayah. Baru kali ini aku terkejut, tanpa beban berat bibirku melengkung dengan sendirinya. Kejutan yang kecil ini berhasil membuat masalah kecilku terlupakan. Aku senang. Aku menunggu ayah sampai pulang kerja dan memeluknya, lalu mengucapkan terima kasih.


Ternyata benar, sedikit kejutan bisa mengubahku. Ayah yang cuek, tidak memperdulikanku, ternyata ia yang membuatku tersenyum. Bodohnya aku, aku selalu sibuk dengan orang yang tidak selalu ada buatku, tanpa sadar ada orang di sekitarku yang lebih peduli. Senang rasanya.