Rabu, 27 Agustus 2014

Bahagia Adalah Cita-Cita


“Maaf, anda tidak lolos.”

Bosen. Itu pikiran dari benak gue setiap kali baca tulisan itu di layar komputer gue. Dalam sebulan, gue udah 3 kali baca tulisan itu. Sebenernya gue juga kecewa sama pendidikan di Indonesia, temen gue yang kerjanya di sekolah selengean, bisa masuk dengan mudah ke Universitas Negeri. Alasannya jelas, bokap dia jadi rektor di Universitas itu. Ngga adil, dunia di desain se-demikian rupa sulitnya cuma untuk lihat orang lain yang bisa memiliki apa yang sudah gue perjuangin. Ujian yang sesungguhnya buat gue bukanlah UNAS atau UPRAK, tapi mau kemana dan jadi apa setelah lulus itu baru ujian.

Pas TK, gue juga ditanyain sama keluarga mau jadi apa setelah besar. Gue jawab jadi Pilot, alasannya bisa terbang ke mana aja, jalan ke mana aja. Pas SMP gue sadar, pilot itu butuh mata yang normal untuk bekerja, sedangkan mata gue rabun, akhirnya gue ngelepas cita-cita itu.

Gue inget, pas SD, gue perpisahan dan gue ditanyain apa cita-cita gue sama guru gue, gue jawab dengan polosnya “Dokter”. Karena mungkin pengetahuan gue saat itu terbatas, jadi yang paling enak ya jadi dokter. Ditanyain kenapa jadi dokter, alasannya simple “Pengin menolong orang.” Beda sama yang punya cita-cita karbitan jadi dokter, pasti alasannya “Biar bisa dapet duit banyak”. Tapi lama-lama, semua akan tersadar bahwa semua yang diinginkan, ngga semuanya terkabul. Gue lemah di matematika, gue ngga masuk SMA kelas IPA dan pada akhirnya gue sadar kalau dokter hanyalah bayangan semu untuk di-raih.

Gue akhirnya ngerti, kalau bercita-cita itu jangan tinggi-tinggi, tapi bercita-cita yang banyak, sehingga pas salah satu udah mungkin ngga terkabul, masih banyak cita-cita yang lainnya. Dan cita-cita bukanlah sekedar profesi, melainkan apa tujuanmu selanjutnya yang harus dan pantes lo perjuangin. Tuhan menciptakan rencana juga mungkin ngga sesuai cita-cita lo, tapi Tuhan merencanakan apa yang pantes buat lo.


Gue emang cuma lulusan SMK Negeri yang belum punya banyak pengalaman dan bukan anak juragan tanah, apa skill gue? Ngga pernah bisa buat gue tunjukin, karena kelebihan gue cuma punya passion. Yang paling gue inginin saat ini simple, yaitu bahagia dan bikin orang tua bangga, itu adalah hal yang ngga diajarin sekolah. Dan apa jawaban gue pas orang bilang apa cita-cita lo? Gue akan jawab cita-cita gue pengin jadi bahagia.






Rabu, 30 Juli 2014

Setiap Lebaran, Adalah Perubahan

Kemarin adalah hari besar bagi kaum muslim, seneng sih bisa ngumpul ngumpul keluarga, sedih juga karena badan gue yang udah kurus karena puasa bakal ikut lebar-an juga karena makan-makanan berat. Seneng, haru, rindu, bahagia, sampai gendutan, adalah hikmah dibalik setiap lebaran.
Foto keluarga gue pas lebaran:


Nyariin gue? Biar gue zoom-in:


Gue sempet berfikir, apa hikmah lebaran? Setiap tahun gue ngalamin tapi gue ngga pernah tahu hikmahnya. Kata orang, lebaran itu mulai dari nol, lebaran itu saling maaf-maafan. Ngga kaget dengan jawaban klise seperti itu, tapi.., menurut gue, lebaran adalah perubahan.
Perubahan itu terlihat jelas,

Mulai dari duit THR, yang dulu gue bisa-bisa dapet sampai 300 ribu..dolar, dari tahun ke tahun, angka itu semakin menipis, sekarang gue paling Cuma dapet 50 ribu, itu pun dari ortu. Gue juga ngga kepikiran gimana 4 sampai 5 tahun lagi? Mungkin gue yang ngasih ponakan-ponakan gue.
Sikap gue yang tambah dewasa. Gimana gue tau kalau gue tambah dewasa? Tentunya juga dari lebaran. Dulu, kalau ortu ngga ngasih baju baru pas lebaran, gue suka ngambek dan ngerengek sampai-sampai ketek gue bisulan. Sekarang, sama sih, gue juga masih minta ortu, tapi kalau ortu ngga ngasih, yaudah.


Yang paling jelas adalah, keluarga yang saling sili mengganti era. Dulu, gue masih paling kecil sendiri ketika dan paling unyu sendiri pas lebaran, sekarang, badan gue udah se-dementor, ponakan gue udah bejibun. Wajah-wajah sesepuh yang udah wafat pun udah diganti dengan wajah-wajah dari cucu-cicit mereka yang tahun kemarin baru lahir. Saudara-saudara gue yang udah ngga bisa dateng karena tuntutan pekerjaan pun juga menghiasi perubahan dalam setiap lebaran ini.


Semuanya udah berubah, dan semuanya bakal berubah. Ngga perlu ditakuti, Cuma perlu di hadapi. Elo cuma perlu terbiasa dengan perubahan itu. Gue duduk, dan ternganga sambil berpikir, lebaran tahun depan gue masih bisa lihat orang-orang ini lagi ngga ya, sambil ngelihatin opor ayam gue yang mulai dingin.

Jumat, 25 Juli 2014

CERPEN: Melepas

“Lusa udah siap belum, Jaz? Udah hafal ijab qabulnya emang? Hahahah!” goda Nisa sambil meminum jus-nya.

“Lah? Ya siap dong. Emang mau kamu yang ngucapin ijab qabul? Sekarang aku gantian tanya..”

“Apah?” jawab Nita sambil menatap dengan nakal.

“Emang kamu udah siap hamil?”

“Tergantung, kalau yang hamilin kamu ya mau.. Hahaha!!”

Gaya tertawa Nisa mengingatkanku pada seseorang yang jauh disana, Alina namanya, dia adalah anak perantau dari Padang, yang menikah dengan warga negara Jepang. Awalnya kami kenal saat kami masih duduk di bangku sekolah menengah akhir, saat masa orientasi siswa, dia tampak paling tinggi di antara anak-anak yang lainnya. 

▄


Aku lagi bengong karena tak satu-pun anak laki-laki mengajakku bermain. Sekolahku adalah salah satu sekolah di ibu kota yang SD, SMP, SMA dijadikan satu, jadi aku tak punya teman bermain, karena rata-rata mereka bermain sama teman-teman dari angkatan masing-masing. Dikelas aku hanya menggambar anime dan grafiti untuk mengisi waktu kosong.

“Kamu gambar Lucy fairytail atau gambar aku sih?” tiba-tiba suara itu terdengar dari belakang bangku aku duduk.

“Eh?! Hehehe...” aku tertawa canggung, ternyata itu anak cewek yang selalu tidak pernah keluar ketika istirahat. Dari kejauhan dia tampak cantik, begitu aku lihat langsung dari dekat...
Tambah cantik.

“Suka anime?” tanyaku..

“Suka, dari aku kecil Ayah suka beliin aku Conan tiap minggu.” Jawabnya sambil tertawa halus.

“Eh kita udah tiga hari MOS, belum kenal, namamu siapa? Aku Alina.. Alina Yoshino.” Lanjutnya, sambil menerbitkan tangannya ke depan ku.

“Aku.. namaku.. Zerdian, panggil aja Ze.” Aku sahut tangannya untuk berkenalan

“Okay.. Aja Ze.” Sambil membungkukkan kepalanya 90 derajat.

“Hahah.. ngga pakai aja juga. Kamu.. orang... Jep..”

“Bukan!” bantahnya “Aku orang Indonesia asli, lahirku aja yang di Jepang. Jadi ceritanya...”


Mulai saat itu kami mulai cocok, dia pindahkan tasnya ke bangkuku dan duduk bersamaku. Kami bercerita panjang lebar soal kehidupan masing-masing. Sampai saat bel pulang, kami sengaja berjalan lambat. Agar obrolan kami cepat selesai sebelum tiba di tempat jemputan. Aku yang orangnya suka canggung ketika berhadapan langsung dengan cewek, entah kenapa ini beda. Dia bagaikan sahabat cowok, untukku. Mungkin kita sama-sama kesepian, ternyata aku mendapat makna dari kesepian itu sendiri, orang yang sama-sama kesepian memiliki koneksi yang kuat saat mereka bertemu.

Hari-hari berjalan seperti biasa, kami selalu kerjasama saat ulangan, kami istirahat selalu bersama, sesekali juga sering bertengkar, karena aku yang sibuk dengan anak cowok yang sudah ku kenal. Kami seaakan tak peduli sekolah, kami habiskan  waktu bersama saat sekolah. Seluruh siswa kelas memanggilku Jaz, karena Alina yang menjadikan namaku Aja Ze.

Sampai suatu saat ada pelajaran seni rupa, kami diwajibkan mewarnai menggunakan kuas, aku selalu tertarik saat pelajaran seni, aku bisa meluapkan apa yang tak bisa aku katakan dalam bentuk gambar. Aku melukis dengan rapih dan khusyuk.
 Tiba-tiba Alina, minta tolong aku, “Eh Jaz, aku gambarin tangan dong.. Kalau aku gambar tangan jelek.”
Pas kami bertukar tempat duduk, Alina menyenggol cat air yang tutupnya sudah terbuka. “Pyok”
“Loooh, Jaz!!” teriaknya.
Gambar gedungku yang hampir jadi berubah menjadi biru setengah. Aku hanya diam.

“Jaz?! Sorryyy..” Alina sambil memasang wajah cemas.

“Hmmm.. ngga apa kok.” Jawabku bohong sambil tersenyum, aku mulai gambar lagi, ternyata bel sudah habis. Aku hanya tidak bisa marah ke Alina, karena koneksi kami yang kuat membuatku memaafkan segala kesalahannya, begitupun juga dia. Kami diam-diaman sampai istirahat.

“Jaz..” panggilnya, dengan nada bersalah.

“Hmmm?”

“. . . . . yaudah deh kalau marah. Emang aku salah.”

Aku diam sejenak... “Hahah.. ngga papa kali lin, santai aja. Gambarku ilang, aku masih  bisa bikin lagi. Lah kalau aku marah, terus kamu ilang dari aku, mau cari dimana temen kaya kamu?”

“Ehehehe.. eheh.. eh.. Jaz...” sambil meneteskan air mata.

Hari-hari berjalan seperti biasa, sampai kami naik kelas 2. Kami sama-sama memutuskan mengambil IPS, aku ambil IPS karena aku sangat lemah fisika, rumus dan hafalan membuatku gila. Dia ambil IPS karena dia suka bahasa. Aneh, bukannya kelas IPA juga ada bahasa? Pikirku.
Lucunya, dari 4 kelas IPS, kami sama-sama masuk kelas yang sama. Tentu kami duduk sebangku lagi. Kelas ini ada murid baru, Erik namanya, dia anak SMA Negeri ternama, dia dari Tangerang, dia pindah ke Jakarta karena Ayahnya kerja disini.
Erik punya badan yang macho abis, badannya sebesar dan se-padat karung beras. Brewoknya bagaikan Kun Aguero, pemain bola terkenal. Tapi sayang, dia membawa tas bergambarkan Minion Despicable Me. Wali kelas menyuruhnya memilih bangku bebas, karena semua bangku sudah terisi dua-dua, Erik memilih pojok nomer dua, bangkuku dan Alina.

“Sorry, ganggu ngga?” Tanya Erik ke arahku.

“Ngga, sama sekali.” Sambil aku senyum. “Lin, ge.. ser.”

Alina geser ke pojok, aku pun ikut geser. Erik sangat memakan tempat.

“Bro.. gue Ze.” Sambil mengepakkan tanganku.

“Erik.” Dengan senyum ramah dan menyaut tanganku. Remasannya sangat kuat.

“Yang disini Alina, salam kenal.” Alina menyebrangkan tangannya lewat dadaku.

“Hai. Erik.” Dan menjabat tangan Alina. Alina tampak meringis kesakitan ketika dijabat Erik.
“Kalian berdua... Couple?”

“Bukan!” kami berdua teriak.

Erik bercerita tentang kehidupannya. Saat dia SMP, dia pernah terkena kasus narkoba. Dia adalah korban dari semua itu. Ayahnya bekerja di perusahaan listrik negara. Yang tiap dua tahun sekali selalu di pindah kota. Dia juga kesepian, karena tampang yang mirip preman Dufan, anak laki-laki pun juga takut sama dia, padahal kalau sudah kenal, Erik adalah orang yang sangat ramah. Dia juga cerita, mungkin dia ngga akan kenal dengan aku lama, karena fisiknya yang lemah dikarenakan punya penyakit ginjal. Aku bilang, umur orang ngga bakal ada yang tahu, selama kamu hidup, ya nikmati aja apa yang ada disekitarmu. Erik adalah bocah yang ngga seberapa pintar, tapi dia punya semangat. Semangat.. satu-satunya alasan untuk kamu mengalahkan semua orang yang ber-skill. Hingga kami naik ke kelas tiga.

Kelas tiga, adalah dimana saat anak sekolah mulai nakal, apalagi ayah sudah membelikanku motor. Jadi, kami sering pergi bertiga, ngga mahal-mahal, paling pergi ke monas, untuk sekedar melepas diri dari tugas sekolah. Diwaktu senggang, kita pergi ke puncak, membawa mobil Erik, dan Erik yang nyetir. Dibawah malam kita tiduran, menikmati bintang yang mulai meredup dan Alina bertanya..

“Jaz, kalau kamu udah lulus.. mau kemana?”

“Hoaahh.. paling balik ke Surabaya, kuliah, kerja, nikah, punya anak. Mati deh.” Jawabku singkat.

“Hahaha, mesti kalau sama aku ngga pernah serius. Kamu, rik?”

“Paling gue ngikutin jejak ayah gue, jadi engineer. Dari kecil disuapin mesin mulu. Hahah... Elo sendiri kemana, Lin?” jawab Erik.

“Aku.. sama deh kaya Jaz kayanya, kuliah dulu.. cita-cita kan harus di gapai. Heheh..”

“Jaz.. Lin.. Kalian kan udah setahun jadi temen yang ada buat gue. Gue boleh minta satu permintaan ngga?”

“Apa, rik?” Jawab kami bareng.

“Ginjal gue, kan semakin parah. Kayanya udah mulai tahap kedua sih, dokter bilang. Misal.. misal nih ya, kalau gue ngga ada pas lo berdua lagi di sekolah, lo mau ngga kabur, dari sekolah, terus berdoa di rumah gue?”

“Apapun deh buat elo, rik. Tapi ya jangan meninggal dulu lah, kulkas gue kalau rusak, mau dibenerin siapa?” jawabku.

“Hahaha.. sialan lo. Tapi Jaz, Lin, kalau mungkin dunia udah ngga ngijinin gue tinggal di badannya lagi, lo mau kan anggep gue sebagai orang yang pernah ada di hidup lo berdua?”

“Iya rik” Jawab Alina “Kita bakal anggep kamu ada, walau ragamu ngga ada. Tapi, kita kan bukan Kristiani, gimana caranya kita bisa doa di tempat kamu?”

“Yang berdoa kan udah ada, lo tinggal sampaiin gimana caranya lo pernah kenal gue, gimana gue, dan elo siapa gue, pas di depan peti gue. Simple kan? Ayolah, gue pengin dateng ke acara pemakaman gue sendiri, mungkin jadi hantu.”

Sejak saat itu, kami bertiga seperti meja berkaki tiga. Walaupun salah satu dari kita ‘Pincang’ yang lain selalu bisa memperbaikinya dengan menyeimbangkan sisi yang lain.
Memasuki semester kedua, Erik sudah mulai jarang masuk, karena kontrol ginjal, dan cuci darah. Walaupun Erik tidak masuk sehari, rasanya kami kehilangannya selamanya. Aku sering menjenguk ke rumah sakit, tapi masih kontrol dan tidak boleh masuk ke Lab.

Esoknya, handphone Alina berdering. Dia membuka segera walau sedang pelajaran. Sengaja aku mendekatkan kepala ku di dekat handphonenya. Sang pengirim sms anonim, atau nomernya belum dinamai di handphone Alina, sms itu berisikan bahwa Alina disuruh ke rumah sakit oleh Ayahnya Erik.

Setelah setengah jam, istirahat kelas, Alina dan aku langsung menuju parkir mobil, aku menyuruh Alina melepas sepatunya dan naik ke pundakku, aku mengangkatnya dan loncat lewat pagar belakang, aku dengan mudah lompat melewati tembok sebelah, dan menuju parkiran motor, aku ke rumah sakit naik motor bersama Alina.


Sampai disana, kami langsung lari ke tempat UGD Erik. Melihat Erik yang mendapatkan selang dari hidungnya. Tak berkata, Alina hanya meneteskan air mata. Pria berkumis datang dari belakang..

“Alina? Jaz?” panggilnya.

“I.. Iya? Ayahnya Erik?” Jawab Alina gugup.

“Hmmm.. pertama saya mengucapkan terimakasih, kamu berdua sudah jadi teman Erik. Erik cerita banyak tentang kalian berdua, maaf jika saya belum bisa menemui kalian. Kata dokter Erik sudah ngga ada harapan, Erik hanya ingin kalian maju dan berdoa saat pemakaman.”

“Kami, berdua, juga minta maaf, kalau belum bisa kasih Erik yang terbaik, om.” Balasku.

“kami akan melakukan apapun yang diinginkan Erik.” Lanjut Alina

Kami berdua pulang, aku mengantar Alina, dan aku pulang ke rumah sendiri untuk istirahat. Jam 1 dini hari, aku terbangun karena PING!!! Alina yang begitu banyak, aku scroll ke atas, chat Alina menuliskan sekitar setengah jam yang lalu, dia memberitahu ku Erik sudah tiada, aku tahu Alina butuh pundah untuk bersandar, dia sudah pernah ditnggal Ibunya, satu-satunya orang yang paling dia sayang, dan sekarang dia kehilangan sahabat dekat yang baru kita kenal setahun.


▄

“Mungkin ini bukan pilihan, walaupun ini mengejutkan. Cepat atau lambat, kita semua mempunyai kesempat untuk meninggalkan dunia ini. Tidak perlu takut. Pada akhirnya semua apa yang telah dilakukan, kemudian terlupakan. Itu sudah menjadi rumus Tuhan untuk menceritakan dunia ini. Dan jika ada seseorang yang mencintaimu dan mengingatmu, maka itu sudah menjadi kehendak Tuhan, menunjukan seberapa beruntungnya dirimu. Terimakasih.” Tutup Alina di pidato pemakaman Erik, disertai derasnya air mata yang mengalir di pipinya. Alina kembali duduk dan menanyaiku.

“Ngga mau nyampein apa-apa?”

"Ngga.” Jawabku tanpa emosi.

“Belum sembuh dari ditinggal Ibu, sekarang udah ditinggal Temen deket.”

“Dalam hal menyakiti, seseorang yang paling dalam menancapkan pedangnya adalah yang paling dekat denganmu. Disengaja atau ngga, itu bakal terjadi.”

“Iya, Erik sama Ibu contohnya.”

Erik dan aku memang tidak sedarah, tapi koneksi kami membuat kita se-dekat nadi. Aku mulai belajar suatu hal, semua orang akan ditinggalkan seseorang. Entah itu karena kesalahanmu atau bukan, tapi itu memang rencana Tuhan dari awal.

Kami pun telah lulus SMA, kami liburan bersama teman sekelas ke Yogyakarta, menghabiskan masa terakhir SMA, di hadapan sunset pantai Parangtritis, kami membuka janji dan rahasia kami.

“Jadi, Jaz.. Kalau kita beda kampus, kamu di Surabaya, kamu janji ngga bakal masih inget aku?”


“Janji dong...” jawabku, “Lin..”

“Ya?” jawabnya sambil tersenyum

“Sadar ngga sih, kalau kita ini cewek-cowok?”

“Maksudmu, Jaz?” tiba-tiba wajahnya berubah penasaran

“Iya, 3 tahun kita temenan, dan bakal gini-gini aja.”

“Jadi.. intinya.. kamu.. mau..”

“Iya Lin.. jadi, rasa ini baru muncul. Aneh ya, hehe..”

“Hahaha.. Jaz, sama kok, aku juga. Cuma bedanya, aku sudah ada sejak lama.”

“Kenapa ngga bilang dari dulu?”

“Aku kan cewek.. aku ngga pernah bisa ngungkapin.”

“. . . . . jadi.. Lin, gimana?”

Dia mengambil tanganku yang lagi menggenggam pasir pantai, dan menggenggamnya. “Iya Jaz, ayo kita mulai dari awal.” Bibirnya memekarkan senyuman.
Tanpa segan-segan aku menahan pundaknya dan mengenggam tubuhnya, seakan tak peduli ada orang lain. Cinta pertama memang indah, seakan jiwa ini mengecil, dan jiwa yang lain masuk ke tubuh.

Pengumuman perguruan tinggi negeri, Alina masuk perguruan tinggi yang dia ingingkan, Sastra Inggris. Sedangkan aku... aku diterima di tempat Alina juga, Budaya dan Ekonomi. Aku tahu kami beda kelas, tapi kita masih menetap disini. Aku menjemput dia seperti saat kami waktu SMA, kampus kami Cuma berbeda 2 blok dari belakang.
Suatu ketika, aku jemput dia, dia memberikan amplop kecil kepadaku..

“Apa ini, Lin?” sambil mengintip isi amplopnya.

“Buka aja dulu, Jaz.”

Aku buka amplop itu. Ternyata kertas kecil bertuliskan huruf kanji yang tak satupun aku mengerti.
“Becanda Lin? Mana ngerti aku artinya..”

“Huh.. Surat pemecatan.”

“Maksudnya?” tanyaku.

“Perusahaan Ayah, bangkrut, yang di Indonesia. Semua karyawan Cuma dikasih 2 opsi; mau pindah ke Jepang, atau cabut kontrak. Ayah, pilih yang.. pertama.” Dengan nada pasrah “Aku ikut Ayah, Jaz.”

“Kapan berangkat?”

“Minggu depan.”

Remuk. Meledak. Buyar semua konsentrasi dan akalku. Ngga adil, seakan dunia ini sengaja memisahkan penghuninya.

“Naik ke motor.”

“Mau kemana, Jaz? Aku kemarin udah ngundurin diri dari kampus.”

“Lin..”

“Iya, iya.. aku ambil tas dulu.”

Seharian aku habiskan bersama Alina, dari nonton bioskop, makan, duduk-duduk di taman, foto-foto berdua ditempat yang ramai, sampai senja tiba, aku ingin mengabadikan ini dalam hidup. Aku membuat memori ini untuk kami. Hari-hari terakhir, saat mata kita tak pernah kedip, dan berharap waktu beku untuk  selamanya, jadi kami bisa memeluk satu sama lain.

Ternyata khayal, waktu seakan begitu cepat. Sampai di depan rumah Alina, aku masih belum percaya kalau dia mau pergi, aku memegang kepalanya hingga mata kami berdekatan, dan berbisik.
“Kamu penjahat, Lin. Kamu luapin perasaan ditinggal seseorang ke aku. Tapi ngga apa-apa, aku masih beruntung bisa kenal kamu. Tapi inget, Lin, aku ngga pernah rela kamu pergi.” Bisikku, hingga air mataku yang sudah tak tertahan, dan jatuh.

Alina menutup mata, mendekatkan bibirnya ke bibirku, dan mengecupnya. Kemudain berbisik, “Jiwaku yang akan selalu sama kamu, Jaz.”

“Aku pingin sebelum kamu berangkat, kita makan malem dulu, di restoran tempat kita biasa makan. Aku mau kasih kenangan buat kamu”

“Apapun, Jaz.”

Tepat sebelum hari keberangkatan Alina, aku tunggu dia di restoran. Aku sengaja meninggalkan handphone karena aku tak mau diganggu siapapun. Aku suah membawa anting emas, untuk kuberikan kepada Alina. Aku tunggu satu jam Alina belum datang. Dua jam, aku mulai cemas. Tiga jam, aku menyerah, aku pulang kerumah, dan mengecek handphone. Ada 9 missed call, dan 1 sms tertuliskan,

“Zerdian, dear. Sebelumnya sorry banget, tapi tiba-tiba jadwal pesawat dimajukan. Aku kali ini aja, ngga bisa nepatin ajakamu. Maaf ya.”

Masa lalu ku cukup kelam, ditinggal dua orang dengan tidak disengaja. Kadang-kadang saat aku lagi melamun, Alina dan Erik suka mampir sebentar di benak. Aku benar-benar belajar banyak tentang dua orang itu. Aku mengerti apa arti ‘Melepas’, bukan karena kamu tidak layak memiliki, melainkan karena kamu harus tahu mengapa kamu pernah memiliki.

7 tahun setelah itu, aku lulus kuliah dan kerja di perusahaan minyak negara. Aku tidak pernah berubah, masih suka kesepian dan menyendiri. Tapi, bukankah Tuhan sudah mentakdirkanku seperti itu?

Aku masih kontak dengan Alina, lewat surel dan video call. Dia bekerja di kedutaan Indonesia di Jepang, dia sudah bisa 4 bahasa. Kami bagaikan dua ikan dalam akuarium yang dibatasi oleh kaca, bisa melihat, tapi tidak pernah bertemu.

Tiba-tiba seseorang mengetuk pintuku, dan bertanya. “Ngga istirahat, Jaz?”
Tampak mukanya yang tidak pernah lelah bekerja, dia mirip seperti Alina, berkacamata, rambut panjang, tinggi semampai. Dia juga baik, asyik, mau diajak susah, mirip seperti Alina. Boleh, menentukan, kamu suka siapa, atau kamu ingin menikahi siapa, tapi satu yang perlu diingat; jodoh ditangan Tuhan.


“Jaz? Kok bengong? Istirahat duluan ya..” dan Annisa menutup pintu.

Kamis, 24 Juli 2014

Ngga Ada Alasan Untuk Benci



Temen gue, Jono, adalah orang yang bisa banget kalau bikin gue benci sama orang. Ngga tau kenapa, dia paling bisa mencari alasan dan kesalahan orang lain buat dibenciin ke gue.

Contohnya simple, temen gue beli iPhone baru, terus gue cerita ke dia “Eh si Ciko beli iPhone 69S lho! Dia belinya limited edition, dia beli langsung dari Kamerun”

Gue ngerti banget, orang normal pasti jawab “Wah serius lo Mod? Ntar gue pinjem ah.”
Atau, se-engga peduli-pedulinya mungkin jawab “Oh gitu Mod..”

Temen gue, Jono, jawab “Alah, paling dia beli di pasar apung, atau ngga nyolong di Ancol.”

Itu yang bikin gue penasaran dan langsung nge-judge Ciko, temen gue kalau iPhone yang di beli itu dari pasar apung.

Dari cerita diatas, elo pasti tau gimana sifat Jono. Si penyihir yang bisa mengendalikan otak kita jadi rusak karena benci. I hate to say, mungkin elo punya sifat kaya Jono, kalau lo kaya gini:

Pertama:
Misal, elo akhir-akhir ini tau ada capres yang ngundurin diri karena ngga menang, terus lo nge-judge kalau dia itu ngga tegas untuk bersaing, apalagi mimpin negara ini? Walaupun seandainya benar, elo ngga harus berpikiran se-negatif itu. Anggep aja, mungkin doi lagi badmood abis stalk gebetannya yang disepikin cowo lain.

Kedua:
Temen lo suka dandan gaya-gaya tahun 50-an sebelum masehi, terus lo bilang: “Ih norak banget”. Kalau elo macem orang yang kaya gitu, coba cari angle lain. Ngga usah temen lo, Albert Einstein ngga bakal jadi legenda kalau dia ngga norak.

Ketiga:
 Lo benci banget sama PSK karena mereka kerjaannya ngga halal, tanpa lo sadari, di setiap butir beras yang lo makan, ada hutang rasa lo ke mereka karena udah menghibur supir truk pengangkut beras yang lo makan saat ini.
 
Hidup emang ngga semudah membalikkan telapak tangan...onta, tapi bukan berarti benci sama seseorang dari persepsi lo sendiri bisa bikin hidup lo enak. Ngga ada yang enak dari benci sama suatu hal. Trust me.

Yup, sampai di sini post gue, gue juga ngga ngerti ini gue nge-post apaan, yang jelas gue pengen nyampein ke elo pada: Ngga suka ngga masalah, tapi jangan benci. Yup see you.

insp: Suji Wotejo

Senin, 30 Juni 2014

CERPEN: Sebuah Janji Yang Kembali

Di dalam hidup, memang tidak aneh jika setiap orang akan berubah. Termasuk istriku. Dia baru saja mencintaiku kembali. Mencintaiku kembali? Bagaimana bisa? Itu adalah pertanyaan yang selalu dilontarkan orang-orang ketika mendengar kisahku.

Siang itu aku di kampus negeri, untuk mengikuti tes seleksi masuk perguruan tinggi. Hujan yang rintik-rintik sudah membasahi trotoar. Aku cepat-cepat masuk ke fakultas teknik sipil, karena tes ku di situ dan waktu menunjukan pukul sepuluh, waktu ujian sudah hampir dimulai.

“Tok tok tok..” aku mengetuk ruangan tes ku. Aku membuka pintu dan cepat-cepat mencari nomer tes ku yang sudah tertempel di meja. Akhirnya ketemu, aku duduk tepat di meja paling belakang. Aku menaruh tas ku di depan, dan mengambil perlengkapan ujian. Ketika balik ke meja ku, aku baru sadar aku tidak duduk sendiri, di sebelahku ada cewek dengan kemeja pink.
“Permisi..” sapaku.

Dia menyambutku dengan diam, hanya senyum ramah yang dia berikan kepadaku. Ternyata ujian masih di mulai sepuluh menit lagi, selesai aku mengisi identitasku, aku tidak mau hal ini terlewat tanpa aku mengenal satu orang pun. Aku memberanikan untuk membuka percakapan duluan.

“Ambil universitas apa, kak?” tanyaku.

“Unair.” Jawabnya dengan suara yang lembut.

“Oooh.. sama. Jurusan?”

“Sastra Inggris. Kamu?”


“Loh loh? Kok sama? Aku juga sastra Inggris. Kamu dari sekolah mana, kak?”
“Sekolah swasta, aku malu kalau nyebutin. Hihi..”

Singkat cerita kami selesai tes dan pulang, aku keluar kelas duluan setelah mengucapkan terimakasih ke Cewek sebangkuku, karena sudah membantuku untuk menjawab sosiologi. Aku menunggu dijemput Ayah, aku telepon Ayah ternyata jalanan macet. Kemungkinan sampai sini agak lama. Aku hanya bisa menunggu di depan fakultas teknik sipil.

Aku mulai bosan, aku tengok ke kanan, ada tukang kebersihan, aku lihat ke depan, ada cewek dengan headset hitam duduk di halte bis... aku perhatikan lagi, itu ternyata cewek sebangku yang tes denganku tadi. Aku keluar kampus dan menyebrang jalan untuk menyapanya agar bisa lebih akrab. Tidak lupa aku beli softdrink kaleng di warung.

Sampai, aku menyapa duluan “Hai.. kak.” dia melepas headsetnya. 

“Hei.. kamu yang tadi sebangku bareng aku? Hihi.. jangan panggil kak, kita kan sama.”

“Iya, ngga enak masa panggil nama, namanyamu aja ngga tau hehe. Nungguin bis?” tanyaku.
“Iya lah masa nungguin kereta. Hihi.”

“Hahaha.. eh mau softdrink ngga? Aku bawa dua nih.” Sambil duduk di sebelahnya.

Kami pun berkenalan, Eva namanya. Secara fisik, dia memang kriteriaku, rambutnya panjang dan berponi, berkacamata, putih, dan tinggi. Kami saling bertukar nomor hape. Kami sering kencan, ke luar kota berdua, layaknya orang pacaran. Ya, kami memang pacaran. Kami saling mencintai dan berbagi pengalaman masa lalu. Setelah lulus dan kerja, kami memutuskan untuk menikah. Sekarang kami mempunyai satu anak. Kisah kami tidak berakhir sampai di sini.

Seiring jalannya waktu, mungkin aku jarang ada untuk dia, aku selalu sibuk dengan pekerjaanku, bodohnya, aku tidak selalu ada untuk keluarga, bahkan hari Minggu pun aku habiskan di luar kota untuk tugas. Sedangkan dia sering keluar bersama teman SMAnya selama tidak ada aku, dia mulai sering pulang malam dan diantar bos-nya. Hubungan kami tak semulus telenofela. Kadang kita bertengkar karena masalah finansial, kami bahkan sering melontarkan ancaman cerai.

Hingga suatu hari masalah kami benar-benar serius. Dia pulang pukul sebelas malam, anak kami sudah tidur pulas dan aku menemui dia masuk ke kamar dan menaruh tasnya di meja kerjaku.
“Dari mana aja kamu?” tanyaku.

“Meeting sama bos. Tadi jalanan juga macet”

“Ohh.. ngga nginep di rumah bos mu sekalian?”

“Apasih?! Aku itu kerja! Udahlah, aku mau ke kamar mandi.”

Aku penasaran, selama dia di kamar mandi, aku memeriksa tasnya. Ku bongkar semua isinya hingga aku menemukan struk pembayaran kamar hotel atas nama Evalia Kusuma. Emosiku mulai memuncak, setan dalam diriku sudah berubah menjadi iblis yang siap untuk membakar neraka.

Dia keluar dari kamar mandi

“Biadab!” bentakku.

“Apasih?! Kamu bilang apa barusan?!”

Aku dorongkan tanganku ke mukanya dengan struk kamar hotel tadi.

“Dapet dari mana? Kamu lancang ya geledah-geledah tas ku.”

“Lebih lancang mana sama nginep di hotel tanpa sepengetahuanku?”

“Aku itu meeting! Oke, aku jujur, di mana kamu kemarin, pas aku ulang tahun? Di mana, kamu pas anniversary kita?! Aku telepon handphone kamu tapi selalu sibuk! Aku tau kamu sibuk, tapi masa ngga ada waktu buat kita?!”

Di sini aku memang salah, salahku adalah ketika ulang tahun Eva, aku selalu sibuk bekerja bahkan tak ingat. Aku bagaikan rumah terbakar yang redup seketika setelah di guyur hujan. Aku diam seketika.

“Puas?” lanjutnya “Ngerti kalau kamu itu ngga pantes buat jadi suami sama ayah yang baik?! Aku pergi dari sini, jangan cari aku, aku bisa hidup tanpa kamu, aku ambil Rena besok, dia ikut sama aku.”

Besoknya, dia ke rumah dan menjemput Rena untuk sekolah, hari itu tepat saat aku memutuskan untuk tidak masuk bekerja. Rumah tangga yang aku sudah bangun begitu saja retak. Tapi, aku tak mau secepat itu berakhir aku masih bisa membenahi ini.

Siangnya, Eva mengantar Rena pulang, aku menemui Eva di teras, dan aku membuka permintaan maaf. Aku muncul seketika, melihat dia sedang menggandeng Rena.

“Rena, masuk dulu ya..” kata Eva.

Setelah Rena masuk, aku mulai mengucapkan, “Va, pertama, aku minta maaf. Aku..”

“Iya, ngga papa. Aku tau kamu Cuma capek.” Potongnya. “Tapi aku ngga bisa lanjutin ini. kita udah cukup.”

“Tapi aku boleh minta satu permintaan sama kamu?”

“Iya, sebutin aja.”

“Rena belum siap untuk menerima semua ini, bisa kita berpura-pura untuk menjadi selayaknya suami istri? Di depannya”

Kami pun sepakat untuk menjadi layaknya suami istri di depan Rena, aku coba untuk mengurangi pekerjaanku, aku habiskan waktuku untuk berpura-pura mencintai Eva di depan Rena. Kami saling berpelukan, kami bersama-sama mengantar Rena sekolah. Kami lakukan itu selama setahun ini. Meskipun beda rumah, kita selalu mengajak Rena liburan setiap libur.

Suatu hari, ketika hari minggu, kita mengantar Rena rekreasi bersama teman-teman SD-nya. Rena turun dari mobil, dan aku menunggu dia di mobil. Eva yang duduk di sebelahku, mencium bibirku perlahan.

“Loh, kan ngga ada Rena?” lontarku.

“Iya, aku tahu. Aku pengin berhenti berpura-pura dan aku pengin kita bakal gini terus selamanya. Aku mau lihat kamu di setiap pagi di saat aku bangun tidur. Bisa kita mulai dari awal? Bisa kita mengikat janji seperti dulu?”

Sejak saat itu, Eva mulai mencintaiku kembali. Aku senang dia bisa kembali menjadi Eva seperti yang dulu. Sejak saat itu juga, aku sadar, hubungan yang kuat adalah disaat kedua pihak bisa saling mengerti. Jika ada satu yang marah, yang lain harus mengerti, dan sebaliknya. Hubungan itu layaknya jungkat-jungkit, kamu perlu seseorang yang mau menemanimu ketika kamu dibawah, sehingga hidupmu akan seimbang.


Rencanaku untuk menyatukan kita kembali berhasil. Hari-hari kami dihabiskan untuk bersama, pertengkaran-pertengkaran kecil itu sudah biasa, yang jelas, aku sudah melihat Eva di setiap pagi. Aku melihat mata Eva yang biru ketika bangun pagi, dan berpikir, aku hanya perlu menikmati setiap detik bersama Eva dan Rena.

Senin, 23 Juni 2014

Jangan Malu Bilang "Kangen"


Mak gue adalah seorang yang jenius di bidang persambelan. Yup, sambel bikinan beliau bisa bikin nafas gue mengandung zat nikotin. Sangking pedesnya, setelah 5 menit makan sambel itu gue bisa aja ngalahin Usain Bolt buat lari ke kamar mandi.
Bukan Cuma sambelnya, sayur awesome, gado-gado, sama opor ayam bikinan mak gue adalah alasan gue kenapa betah di rumah.

Suatu hari, pembantu gue keluar karena anaknya udah kerja, jadi ngga ada yang nemenin mak di rumah. Setiap gue pergi, mak gue selalu bilang ke gue “Jangan pulang malem-malem lho Mod” dengan nada melas ke gue. Gue jadi ngga tega, tapi... lama-lama ngga dibolehin mak pulang malem gue juga agak kesel.

Pernah kapan itu, pas gue diajak nonton sama temen gue, gue pulang agak maleman, kakak gue kerja, bapak gue juga kerja. Mak gue sendiri, Cuma sama nenek gue. Sampe di rumah, gue lihat bapak gue mekangkang 2 meter, nungguin gue. Udah kaya chef Juna. Gue ditanyain kemana aja gue, gue jawab kalau barusan nonton. Beliau Cuma bisa ngelengkungin bibirnya ke bawah. Gue emang salah, tapi gue bosen ngga bisa kemana-mana karena gue ngga bisa keluar sampai malem.
Setelah kejadian itu, siklus sehari-hari gue jadi sibuk banget, gue sibuk bangun-sekolah-pulang-maen PS-tidur. Bener-bener sibuk.

 Gue juga jadi jarang masakan mak gue karena gue sarapan di sekolah dan makan siang di sekolah juga. Sampai setelah liburan, gue berniat ke Jakarta untuk liburan, ngapain ke Jakarta? Gue pernah posting disini.
Ngga Cuma liburan, gue ke Jakarta juga mau ngebuktiin kalau gue ngga bakal kangen sama orang tua gue, di rumah juga ada pembantu baik baru dan gue ngerasa aman karena mak gue ada yang jagain. Gue emang sempet bete sama mak gue, tapi gue ngga bisa kalau berhenti peduli. Dan gue juga sengaja isi pulsa agak banyak biar bisa SMSan sama mak gue kapan aja.

Tiba di Jakarta dengan ganteng, gue nginep di rumah om gue. Seperti biasa, tidur gue ngga nyenyak kalo belum geser-geser timeline twitter. Udah 2 jam gue scroll-scroll timeline sampai jempol gue varises, ngga tidur-tidur juga, gue panik, padahal besok gue harus berangkat jam 12 ke MEIS, ancol. Jam 2 pagi gue coba telpon rumah, mastiin mak gue ngga kenapa-kenapa.

“Halo.. mak?”
“Opo Mod?”
“Lagi opo mak?”
“Lagi clubbing iki Mod. Yo tidur Mod.”
“Lah kok bisa nerima telponku?”
“Bla..bla..bla..”

Setelah obrolan singkat dan absurd sama mak gue, gue akhirnya bisa ngerasain ngantuk.
Besoknya, gue sarapan di luar, gado-gado Jakarta. Agak aneh sih, gado-gado pakai pare. Setelah gue makan setengah, gue inget gado-gado bikinan mak yang lebih banyak tempenya daripada lontongnya. Gue mencoba untuk ngga kangen mak gue, sehari aja... masa ngga bisa. Siangnya gue harus berangkat ke MEIS, pas siap-siap, ada yang aneh, Jam tangan gue lupa gue taruh mana. Gue keceplosan “Maaak?! Jamku mana mak?”

Oke, gue fixed kangen sama mak gue. Kayanya gue ngga bisa kalau seharian ngga lihat mak gue.

Singkat cerita, gue pulang dari Jakarta, mak gue nunggu gue di bandara. Gue lihat mak gue celingak-ceinguk kaya mau nyolong mangga tetangga. Gue lari ke mak gue, dan gue langsung peluk sama cium pipinya. Terus gue bilang “Maaak.. kangen.” Pagi itu udah kaya FTV yang syutingnya di bandara. Entah kenapa, gue ngga malu. Gue akuin emang kangen sama mak gue. Badan gue emang kaya Kaiju, tapi hati gue selembut salju. Akhirnya gue sekeluarga makan bareng dan ngobrol-ngobrol ngapain aja selama gue di Jakarta.

Dari cerita di atas, gue Cuma pengen bilang. Jangan malu-malu bilang “Kangen” sama orang yang lo sayang, karena ngga ada ruginya, dan lega banget ketika lo ngga nyimpen-nyimpen perasaan kangen lo itu. Gengsi? Persetan dengan gengsi kalau yang digengsiin itu bisa bikin lega. Ngungkapin kangen bukan cuma ke pacar/gebetan, bisa juga saudara, nyokap, bokap, atau eyang-eyang lo. Menurut gue pada dasarnya Rasa kangen itu lucu. Dia bisa meluluhkan orang se-kejam Hitler, jadi se-bodoh Patrick.


Yak, semoga postingan gue bermanfaat. Gue Cuma pengin berbagi pengalaman gue. Akhir kata, see you next post!

Minggu, 08 Juni 2014

The Amazing Story 4 JoUrNEy

Tanggal 4 Juni lalu, Taylor Swift mampir ke Jekardah buat nyanyiin lagu-lagunya. Bukan, dia bukan mau macarin gue, tapi dia dalam rangka Red Tour Asia. Dan acaranya megah banget. Dia nyanyiin kurang lebih 13 lagu, diantaranya Red, You Belong With Me, Fifteen. Tapi sayang, ngga ada lagu kesukaan gue, Everything has Changed.


Actually the story is...

Gue emang agak serakah sih, selama liburan ini gue pengin ini itu, liburan sini situ. Tapi gue mikir, kalau gue ngambek karena liburan ngga kemana mana, gimana mereka yang pas liburan masih kerja cari nafkah? Well, my toughts really changed me. Gue tau juga udah lama konser ini, gue berusaha nabung, akhirnya duitnya kepake buat kebutuhan gue. Ya mau diapain lagi, namanya juga butuh. Selain Coldplay, Ed Sheeran, dan The Beatles ke Indonesia, gue juga bakal bela-belain selembar tiket Taylor Swift ini.


Setelah bener-bener berusaha ngumpulin duit, dan blah... tiketnya udah sold out 3 minggu sebelum konser. Gue udah nyerah, gue udah ngga bisa lihat senyuman kembang desa ini.


Gue pernah bilang, When everything is impossible, there’s still a hope. Dua minggu sebelum konser, gue denger ada stasiun radio yang bagi-bagi konser Taylor Swift. Yup, @jejeradiosby ngadain #JejeBagiBagiTaylorSwift. Caranya simple, Cuma ngetweet #JejeBagiBagiTaylorSwift sebanyak mungkin. Tapi pas lagunya Taylor Swift lagi diputer. Gue udah niat banget, di mobil pas nyetir, gue menepi sejenak pas denger lagu Swift, sampe ngga tidur, buat stay tune di Jeje Radio. Gue sempet nyerah, karena mungkin yang ikut puluhan bahkan ratusan orang. Tapi Tuhan ngga tidur, Beliau tau usaha gue. Akhirnya gue berangkat ke Jakarta. Ngga dibayarin berangkatnya sih, tapi tiketnya lebih mahal dari tiket pesawat + uang saku. :P


Kebetulan, om gue yang rumahnya Jakarta, mau pulang, jadi gue ikut berangkat bareng dia. Pas sampe disana, gue langsung ke rumah om gue, besoknya (gue tau Jakarta macet), jadi gue berangkat naik busway dari jam 1, bayar 8000, udah sampe MEIS, ancol. Dari bintaro ke Ancol Cuma 3 jam. Well, is not that hard living in Jakarta, I thought. Sampai disana, mubadzir kalo di ancol ngga poto-poto. Gue sempetin buat foto muka gue sebentar.

Gue sebelum kamera di zoom in.

Gue setelah kamera di zoom in.

Ngga lama, gue masuk dengan muka polos bawa kamera SLR, ternyata ngga boleh dipake, yaudah gue foto seadanya pake kamera hape. Ngga lama, hape gue tinggal 5% batere, yaudah, gue Cuma bisa foto pas Swift nyanyi RED.



Pas nyanyi ‘22’ gue joget-joget. Pas nyanyi ‘Mean’ gue joget, pas nyanyi ‘fifteen’ sebenernya juga bisa joget, tapi gue dibacok sama orang belakang gue, soalnya lagunya tenang dan duduk semua.
Last but not at least, Swift bilang “Selamat malam Jakarta” ngga tau dari mana dia belajar ngomong itu. Yup, konsernya pecah!


I think watching Taylor Swift’s Red Tour is not a ‘Gengsi’ but ‘A life time Goal’
Gue berterima kasih sama ortu gue yang udah bayarin pesawat, well karena mungkin gue baik, dan di suruh apa-apa mau. :P, om gue yang udah ngerawat gue disana, Jeje Radio yang udah ngadain kuis, dan Tuhan, yang udah dengerin permintaan hati gue.


Yup, it’s end of my amazing June journey in Jakarta, makasih udah nyimak! :D